AILA Indonesia Hadir di Palu Bahas RUU P-KS dan Kajian Parenting

PALU - Ketua Jaringan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Hj Dr Sabriati Aziz, M.Pd.I didapuk menjadi narasumber dalam acara talkshow parenting yang diselenggarakan di bilangan Tondo, Palu Timur, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (28/2/2019).

Pada kesempatan tersebut, Sabriati bersua dan membahas tema ketahanan keluarga di hadapan para ibu. Sabriati mengemukakan pentingnya pengarusutamaan niali-nilai agama dalam membangun ketahanan keluarga.

Tanpa panduan agama, menurut Sabriati, maka keluarga akan mengalami kegersangan dan kehangatan pun sirna dalam keseharian kehidupan berumah tangga. Akibatnya, abai terhadap tanggung jawab dan pertengkaran semakin menjadi jadi.

"Umumnya masalah broken home, adalah karena minimnya nilai-nilai agama menjadi panduan. Jika agama dinegasi, maka individualisme kian menggerogoti. Akhirnya ego semakin menjadi-jadi," imbuhnya.

Lebih miris lagi, lanjut dia, ada upaya-upaya yang menurutnya dilakukan sismatis untuk menegasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat. Jika ini dibiarkan, maka tak menutup kemungkinan generasi muda kita pelan-pelan akan abai dengan tatanan sosial kita yang menjunjung tinggi norma ketimuran.

Sistemtisasi itu bahkan menyasar pada hal-hal yang amat fundamental dalam kehidupan sehari hari yaitu undang-undang yang akan berdampak besar bagi maslahat hidup kita selanjutnya. Menurut Sabriati, gejala tersebut semakin terlihat dan kian mengkhawatirkan.

Sabriati lantas mengutip catatan dari Center for Gender Studies (CGS) yang menemukan bahwa pengaruh feminisme dalam kampanye penghapusan kekerasan seksual tampak jelas dari penggunaan kata-kata “relasi kuasa atau relasi gender” dalam definisi kekerasan seksual yang menyiratkan peperangan terhadap konsep patriarki.

Kekerasan seksual yang dimaksud para feminis merupakan bentuk dari  gender-based violence atau kekerasan berbasis gender, yaitu mencakup orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender. (Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, Februari 2017).

Menurut CGS, filosofi yang mendasari munculnya konsep kekerasan seksual adalah pandangan bahwa kebebasan sejati perempuan hanya bisa diwujudkan apabila perempuan dapat mengontrol tubuhnya sendiri, my body is mine.

"Salah satu elemen penting patriarki adalah kontrol terhadap aktivitas seksual dan reproduksi dari tubuh perempuan. Pandangan tersebut merupakan ciri khas “worldview” kaum feminis radikal," kata Sabriati," mengutip Center for Gender Studies.

Masih menurut CGS, apabila masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim mampu memahami ajaran dan nilai-nilai universal Islam maka mereka akan tegas menolak konsep kekerasan seksual yang ditawarkan feminisme.

Sebab, lanjutnya, Islam mengatur bagaimana manusia memuliakan tubuh mereka melalui aktivitas seksual yang sehat, tidak mengeksploitasi tubuh atas nama kebebasan yang semu. Dalam Islam, tidak terdapat dualisme antara tubuh dan jiwa, sehingga kemuliaan jiwa seseorang tercermin dari bagaimana ia memuliakan tubuhnya, memberinya pakaian terbaik dan menghiasinya dengan adab.

Kejahatan seksual dalam perspektif Islam sangat jelas dan tidak mengalami perubahan makna sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sampai saat ini apabila kita mengacu kepada penafsiran ulama-ulama yang otoritatif.

Acara talkshow ini mendapat sambutan yang amat antusias dari peserta. Peserta pun mendapatkan kesempatan untuk melontarkan pertanyaan pada sesi tanya jawab. Hadir pada kesempatan tersebut peserta dari unsur guru, pengurus ormas muslimah dan masyarakan umum.

Peserta sangat antusias dan bertekad menolak Naskah Akademik serta Draft Rancangan Undang-undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual demi menyelamatkan bangsa.

NURSELINA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel