Ayah dan Dakwahnya


oleh.Nadiyah Tul Ulumah
         
            Dalam sebuah keluarga Ayah adalah seorang pemimpin yang tidak melalaikan hak-hak nya dalam keluarga. Peran penting seorang Ayah tidak hanya untuk keluarganya melainkan juga untuk umat.

Kita bisa berkaca pada sosok Iman Hasan Al-Banna, seorang pemimpin dakwah,seorang pembina kader umat,sekaligus seorang Ayah dalam keluarga.

Iman Hasan Al-Banna dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1906 di Desa Mahmudiyah kawasan Buhairah,Mesir. Ia adalah seorang Mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pemimpin Ikhwanul Muslimin (cinta diRumah Hasan Al-Banna,hal 1). Dari pernikahannya dengan Latifah As-shouli, Hasan Al-Banna dikarunia 6 orang Anak dan berhasil dalam membangun keluarga yang istimewa, keluarga yang dibina atas dasar keimanan kepada Allah SWT dan penerapannya dalam prinsip Tarbiyah yang benar.
           
           Tugas Hasan Al-Banna tidak hanya menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia, melainkan bagaimana membangun dan mempertahankan keharmonisan rumah tangga agar tetap terjaga dengan baik.

Ditengah kesibukan dakhwahnya, Ia tetap mampu menjalankan perannya sebagai seorang Ayah dan Suami yang membantu Isteri dan mengurus Anak mulai dari makan bersama yang menjadi prioritas, membawakan bekal ke sekolah untuk anak-anaknya, membelanjakan kebutuhan rumah, menerapkan uang jajan harian,mingguan,dan bulanan kepada anaknya, hal ini bermaksud untuk memberi kecukupan pada anak-anaknya, bagaimana anak-anaknya menginfaqkan seluruh uang pemberian ayahnya,

Anak adalah investasi besar untuk dakwah, karena itulah Hasan Al-Banna melakukan perencanaan yang baik untuk anaknya. Perencanaan itu dijaganya dalam sebuah map yang berisi seluruh masalah anak yang penting untuk diperhatikan, mulai dari masalah kesehatan sampai pada perkembangan pendidikan pada anak-anaknya.
            
           Seorang Ayah yang sukses adalah bila ia mampu mempunyai perhatian yang menyuluruh terhadap anak-anaknya. Itulah yang saat ini hilang dari peran seorang Ayah. Bahkan tidak sedikit para da’i yang kurang memiliki perhatian terhadap perkembangan anaknya dengan dalih kesibukan untuk berdakwah. Ketika  pulang, ia hanya mendapati anaknya sudah tertidur lelap. Tapi, itu tidak terjadi pada Hasan Al-Banna yang memfokuskan pikirannya untuk membangun umat. (Nadiyah tul ulumah)

\
Editor. Ariij Rizqi Azharudin*


--------






Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel