Menkominfo: Internet Kecepatan Tinggi Akan Sampai ke Papua

YOGYAKARTA -- Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, menyebutkan bahwa pembenahan sektor infrastruktur melalui program satelit Palapa Ring akan mengatasi ketimpangan akses jaringan internet antara kota dan daerah di Indonesia.

Hal ini ia sampaikan saat memberikan pidato kunci dalam acara iTalk yang diselenggarakan Sabtu (23/2) di FISIPOL UGM.

"Konstruksinya sudah selesai, dan pertengahan tahun nanti semua akan diintegrasikan. Dengan satelit ini saudara-saudara kita di Papua bisa menikmati internet yang setara dengan kita di sini," tuturnya.

Satelit Palapa Ring merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Palapa Ring terdiri dari tujuh lingkar kecil serat optik (untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku) serta satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.

Ia mengungkapkan, saat ini pengguna internet di kota-kota besar di Pulau Jawa bisa memperoleh throughput rata-rata sebesar 7 Mb/s jaringan 4G, sedangkan di Maluku dan Papua hanya 300 Kb/s.

"Mereka hanya mendapatkan sekitar 1/23 persen dari akses internet yang kita dapatkan di Jawa, tapi mereka  harus membayar harga yang lebih mahal," ucap Rudiantara.

Oleh karena itu, pembenahan sektor infrastruktur untuk akses internet dengan program satelit Palapa Ring sebagai jaringan tulang punggung broadband backbone menjadi salah satu kebijakan prioritas.

Dalam acara ini, Rudiantara berbicara tentang berbagai tantangan dan peluang dari era digital. Berkaitan dengan tema tersebut, ia menyebut bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia menjadi salah satu pendorong terjadinya perubahan gaya hidup masyarakat yang mulai memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai aspek, mulai dari pendidikan, kesehatan, transportasi, kesehatan, hingga keuangan.

Menghadapi era ini, ia menambahkan bahwa pengembangan infrastruktur harus juga diimbangi dengan upaya peningkatan literasi digital di tingkat umum, serta mengembangkan sumber daya manusia yang terampil dalam penggunaan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan hingga beberapa tahun ke depan.

Selain memberikan pidato kunci, dalam kunjungannya ke UGM Rudiantara juga menyempatkan diri menilik berbagai fasilitas riset di Center for Digital Society (CfDS) UGM.

Center for Digital Society (CfDS) merupakan pusat studi yang didirikan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM atas dasar perkembangan dan dinamika kehidupan sosial-politik kontemporer di dunia, yang ditandai dengan pengaruh dari tekonologi informasi. Fenomena ini memicu munculnya pola-pola kompleksitas kehidupan sosial dan politik masyarakat, sehingga membutuhkan pendekatan baru dalam mengelola kompleksitas tersebut.

“Studi-studi seperti ini sangat penting. Ketika bicara teknologi kita juga harus tahu bagaimana dampak sosialnya,” ucapnya.

CfDS berdiri untuk mendalami kajian tentang masyarakat digital kontemporer, termasuk isu-isu yang berkaitan dengannya, misalnya isu kota pintar dan pembangunan urban. CfDS juga menitikberatkan kajian pada penggunaan teknologi untuk membentuk masyarakat dalam proses digitalisasi, serta untuk menawarkan solusi-solusi pada permasalahan dan isu sosial.

Kajian-kajian ini, menurutnya, dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah maupun aktor-aktor lain di sektor digital dalam menghasilkan kebijakan yang berdampak positif bagi masyarakat.

Sumber

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel