Bangun Keluarga Tangguh, Ratusan Muslimah Makassar Ikuti Talkshow Tolak RUU P-KS

MAKASSAR - Perkembangan teknologi informasi dengan beragam fenomena destruktif ikutannya rupanya membuat khawatir banyak kalangan kalangan, khususnya dampaknya pada gaya hidup dan moralitas bangsa. Tak pelak, para orangtualah pihak yang paling risau dengan gejala tersebut.

Demikian dikatakan Ketua Jaringan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Hj Dr Sabriati Aziz, M.Pd.I disela acara talkshow "Membangun Keluarga Tangguh" di Kota Makassar, dikonfirmasi media ini, Selasa (26/2/2019).

"Perkembangan teknologi informasi mau tidak mau juga berdampak pada massifnya propaganda liberalisme dan sekularisme yang akibatnya kemudian terjadi distorsi terhadap falsafah bangsa," kata Sabriati.

Menurut Sabriati, kampanye pemikiran tersebut tidak saja dalam tataran akademik namun juga hingga ke pada aspek-aspek yang sangat mendasar seperti soal tubuh sebagai umat manusia.

Maka, tak heran, kata Sabriati, saat ini sudah muncul propaganda bahwa manusia merdeka atas tubuhnya. Mau menutup aurat atau telanjang, itu urusan personal. Tak boleh ada yang mendikte.

"Padahal dalam Islam, menutup aurat itu wajib. Harus ada pembiasaan. Dengan kampanye my body is mine dari Barat ini, maka boleh jadi anak-anak kita nanti akan menolak diperintah untuk menutup auratnya karena telah ter-brainwash dengan paradigma absurd tersebut," Sabriati.

Sabriati khawatir, jangan sampai filosofi yang mendasari munculnya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) memuat paradigma my body is mine sebagaimana pemikiran feminis Simone de Beauvoir yang bertentangan dengan budaya dan falsafah bangsa kita.

Menurut pandangan Simone de Beauvoir yang juga dikenal sebagai feminis radikal, Wanita hanya akan selalu menjadi pelengkap laki-laki dan tertindas apabila perempuan belum memiliki kekuasaan penuh atas tubuh dan aktivitas seksual mereka.

Karena itu, kata Sabriati, keluarga Indonesia perlu bersama melek hukum dan bersama-sama mengokohkan ketahanan keluarga akan semakin tangguh.

"Mari bersama-sama kita kuatkan ketahanan keluarga," katanya seraya menambahkan agar pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia tidak mudah tepengaruh oleh kampanye penghapusan kekerasan seksual yang mengadopsi cara pandang sekuler-liberal terhadap seksualitas.

AILA Indonesia, kata Sabriati, mendorong pemerintah harus kembali kepada  nilai-nilai spiritual serta  moralitas  untuk menekan angka kejahatan seksual dan mewaspadai adanya “penumpang gelap” yang menggunakan musibah berbagai kasus seksual untuk memaksakan ideologinya kepada masyarakat Indonesia.

Hadir pula sebagai narasumber pada kesempatan tersebut yaitu Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Muslimah Wahdah Islamiyah Ustadzah Harisa Tipa Abidin. Ustadzah Harisa dalam pemaparannya mengajak segenap ibu-ibu negeri khususnya di Makassar untuk membangun kesadaran tentang pentingnya persatuan dalam mengokohkan ketahanan keluarga.

Keluarga yang kokoh, menurut Ustadzah Harisa, akan turut mengokohkan ketahanan bangsa. Sebab, kata dia, keluarga merupakan basis dari tegaknya peradaban bangsa.

Ketua Panitia Talkshow Membangun Keluarga Tangguh, Masnaeni Muslimin,A.Md, mengatakan acara tersebut diprakarasa dengan melibatkan berbagai elemen majelis taklim, guru guru, pegawai, pengusaha dan sebagainya sebagai wujud keprihatinan terhadap keselamatan keluarga.

AHMAD DALLE MAKESSINGPATU

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel