AILA Indonesia Diskusi dengan PII-wati dan Mahasiswa Kampus Tadulako

PALU - Ketua Bidang Jaringan Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Hj Dr Sabriati Aziz, M.Pd.I, memenuhi undangan diskusi membahas Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) bersama aktifis putri Pelajar Islam Indonesia (PII-wati) dan aktifis mahasisw dari Universitas Tadulako di Jalan Sam Ratulangi, Besusu Barat, Palu Timur, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (1/3/2019).

Dalam diskusi yang berlangsung hangat di markas PW PII Sulawesi Tengah ini mengkaji filosofi RUU P-KS. Para aktifis mengkritisi draft undang undang tersebut dan mereka sepakat untuk melakukan sosialisasi dan menolak sejumlah hal dalam RUU itu yang memuat pandangan yang masih dianggap bias dan berlawanan dengan falsafah bangsa.

Mereka menolak RUU P-KS karena dinilai memiliki muatan yang tidak selaras dengan nilai-nilai kebangsaan serta berpotensi melegalisasi hubungan seks sejenis dan disorientasi lainnya. Mereka berpendapat bahwa RUU PKS “mempromosikan seks bebas dan perilaku seksual menyimpang.”

Di lain pihak, pendukung Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual menyebut penentang vokal terhadap RUU tersebut tersebut adalah kalangan konservatif Islam.

Seperti diketahui, RUU PKS bertujuan untuk menetapkan larangan dan pencegahan atas segala bentuk kekerasan seksual termasuk pemerkosaan, pelacuran paksa, perbudakan seksual, dan penyiksaan seksual di rumah tangga, lingkungan kerja, dan di tempat umum.

RUU PKS menjadi terkenal pada tahun 2016, ketika para aktivis menyerukan agar undang-undang tersebut segera disahkan sebagai tanggapan atas pemerkosaan berkelompok dan pembunuhan yang mengejutkan terhadap seorang siswi berusia 13 tahun oleh 14 orang pria mabuk di Bengkulu.

Statistik terakhir dari UNFPA menunjukkan bahwa lebih dari satu dari tiga wanita Indonesia berusia antara 15 dan 64 tahun telah mengalami kekerasan fisik dan seksual sepanjang hidup mereka.
Jumlah korban kekerasan seksual yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena lebih dari 90 persen kasus perkosaan di Indonesia diperkirakan tidak pernah dilaporkan.

ABDUL WAHAB

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel