"KARIRKU BERAWAL DARI UANG SAKUKU"



KARIRKU BERAWAL DARI UANG SAKUKU
By. Beauty Kartika Lubis
          
           “Bukunya enak dibaca ringkas semua materinya, lengkap lagi, dan gampang banget buat dibawa kemana saja,” promosi Tio kepada teman-temannya saat jam istirahat.
            Di kelas yang berbeda ada pemandangan yang serupa. Tia merupakan anak yang sangat menukai hal yang berbau korea atau biasa disebut denga K-popers. Dia memamerkan souvenir boyband korea yang sedang naik daun, dagangan kakaknya ke teman-teman sesama K-popers.
            “yang ini nih bagus, lucu lagi, emang harganya sedikit agak mahal, soalnya import langsung dari korea. Kalo yang ini lokal murah aja, sama temen sendiri juga kok,” kata Tia bersemangat.
###
            Hari ini siapa nih yang belum pernah jualan? Wuiih rugi loh kalau sampai belum pernah punya pengalaman jualan. Hari ini, jualan bukan lagi tentang siapa yang ‘kurang mampu’ atau berkecukupan, hari ini jualan bukan lagi tentang kepepet keadaan atau sekedar sambilan, tapi hari ini jualan adalah skill yang harus kita asah dengan baik demi membentuk mental kita di masa depan. Wirausaha atau enterpreneur sekarang telah menjadi sebuah pilihan gaya hidup kawan. Banyak trainer, motivator, atau praktisi yang mengatakan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya bergantung pada kecerdasan orang tersebut. Tapi lebih kepada sikap, kemampuan bersosialisasi serta menjalankan atau me-manage sesuatu.
            Menurut menteri koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, jumlah pengusaha di Indonesia itu hanya sekitar 1,6%. Padahal negara tetangga yang lebih maju, presentasenya lebih besar, seperti Malaysia 5%, Singapura 7%, dan Thailand 4%.
            Kalau kita ingin Indonesia makin maju maka jadilah salah seorang pengusaha, dan menyukainya sejak saat ini, sejak masih muda. Semakin tua kita akan semakin takut mengambil resiko. Jangan takut untuk memulai kawan, saat ini enterpreneur muda banyak mendapatkan support loh. Kalau ide kita unik dan mempunyai prospek bagus banyak lembaga yang siap mendanai ide kita hingga milyaran rupiah. Jadi jangan takut untuk memulai bisnis dari sekarang.
            Kawanku yang cantik dan ganteng, dulu kalau ada anak sekolah yang ‘nyambi’ jualan itu biasanya karena kondisi ekonomi yang kurang. Tapi, dalam kondisi kekurangan atau kecukupan sebenarnya tidak ada yang jelek dari pilihan yang satu ini. Kenapa? Jika memang sedang kekurangan, justru dengan jualan ini dia jadi anak yang hebat, usia masih belia tapi sudah ikut meringankan beban orangtuanya. Hebat bukan? Justru yang tak mau peduli dengan kesusahan orangtuanya itu yang kebangetan, benar begitu? Pura-pura kaya di hadapan teman-temannya tapi duit hasil ‘nodong’ orangtuanya yang susah payah bekerja. Kan gak enak banget tuh. Apalagi kalau orangtuanya berkecukupan tapi masih mau belajar berbisnis sejak kecil. Wiiiihhh, ini nih yang layak diacungi jempol. Hebat sekali, bukan main-main kalau ada yang kaya gini. Sekaya apapun, sebanyak apapun harta yang dimiliki orangtuanya tetap saja itu kesuksesan dan prestasi orangtua. Sedangkan kita sebagai anaknya, menikmati kesuksesan orangtua yang belum tentu kita bisa sukses seperti orangtua. Jadi kalau kita sadar sejak awal, bahwa kesuksesan itu tidak serta merta bisa diwariskan, harus mencoba merintis kesuksesan kita sendiri.

            Bisnis itu manis kawan, semanis martabak manis yang kita beli kalau lagi lapar di malam hari. kita pasti pernah mempunyai keinginan untuk membeli kebutuhan yang kita inginkan dari ‘keringat’ kita sendiri, iya kan? Di saat teman-teman yang lain minta di belikan laptop atau smartphone orangtuanya kita juga punya, tapi bedanya punya kita lebih manis, entah barang itu harganya lebih murah atau kita beli second, tetap saja hasil kerja sendiri akan terasa lebih manis dari sekedar meminta. Benar begitu? Ketika kita punya bisnis sendiri dan bisnis kita berjalan lancar, bisa memberikan pekerjaan ke teman sekolah atau kampus yang juga pengin belajar mandiri, itu juga manis bukan? Dan satu lagi, ketika yang lain lulus sekolah maupun kuliah dengan hura-hura setelah itu ‘hua-hua’ menangis karena tidak segera dapat kerja atau tidak diterima di sekolah yang diinginkan, kita lulus dengan bersahaja sudah punya pekerjaan dan tinggal mengembangkan lebih baik lagi. Kurang enak apa sih jadi pengusaha itu,?
            Kata siapa orang yang lagi study, sekolah, kuliah itu nggak bisa kerja? Di zaman sekarang yang serba canggih peluang berseliweran di depan mata, tinggal kita mantapkan pilihan lalu ambil salah satunya. Misal, kita bisa manfaatkan waktu yang ada untuk jadi seorang tutor, sesuaikan saja dengan basic bidang yang kita kuasai. Jika kita merasa kemampuan berbahasa asing kita lumayan oke banyak peluang untuk jadi penerjemah, atau jika kamu hobi jalan-jalan bisa jadi tour guide, lumayan kan bisa jalan-jalan gratis dapet duit lagi. Dan yang lebih penting kita punya banyak pengalaman berharga dan relasi dimana-mana. Kerja part time lainnya yang gak kalah asik adalah waiters di rumah makan atau cafe. Disini kita bisa menimba banyak ilmu, mulai dari penataan rumah makan yang keren, menu yang paling disukai pelanggan, atau syukur-syukur kita bisa belajar nge-chaff dari koki yang ada disitu. Sudah banyak orang yang awalnya jadi waiters kemudian sukses berkarir di restoran besar, restoran kapal pesiar atau punya restoran sendiri.
            Masih bingung mau jualan apa? Gini kawan, sebelum kita memulai berbisnis atau kerja part time, tentukan dulu apa yang kita sukai. Kenapa harus yang kita sukai? Karena kita bakal lebih enjoy dalam menjalaninya, kita bakal lebih all out dan nggak gampang menyerah ketika menemui kendala. Kalian pahami internetkan? Pastinya bisa ngoprasikan smartphone kan? Dan pastilah punya banyak teman. Makan manfaatkan semua yang kalian punyai itu. Zaman sekarang orang bisa punya bisnis dari mana saja. Tidak harus bermodal besar, yang penting adalah niat dan kemauan yang kuat adalah modal yang luar biasa. Karena memulai berbisnis tidak harus dengan uang banyak, kita bisa mulai menyisihkan uang saku, gak perlu banyak-banyak, 50-100 ribu sudah cukup. Kalau memang gak ada, kita bisa menjualkan produk orang lain. Contohnya simple, kalian punya teman atau tetangga yang menjual kerajinan bagus, kalian minta ijin aja buat ngefoto produknya, teus kalian tawarin ke teman-teman yang lain atau bisa juga kalian iklankan di sosial media. Kalau ada yang order kalian tinggal ambilkan ke tetangga atau teman kalian yang memproduksi. Mudah kan?! Itu salah satu contoh, masih banyak peluang-peluang lain yang bisa kalian jadikan ide bisnis.
            Islam mengajarkan kita untuk bersilaturahmi agar lancar rezekinya, memang bener banget kawan. Kalau kalian nggak pernah silaturahmi, kalian gak bakal tau kalau sebenernya di kanan-kirimu banyak peluang. Jangan pernah sunggkan untuk bersosialisasi kepada siapapun. Sifat itu harus dimiliki oleh seorang pebisnis yang berambisi untuk sukses. Harus tertanam dalam jiwa-jiwa enterpreneur muda. Apalagi zaman sekarang kan sudah semakin mudah untuk bersosialisasi, gunakan saja smartphone kalian.
            Saat ini mungkin kalian sudah berbisnis tapi gagal. Saat ini mungkin kalian sudah bekerja sambil study tapi kalian merasa tidak bisa maksimal. Percayalah, apa yang kamu lakukan tak akan sia-sia. Pengalaman adalah guru terbaik untuk hidupmu, maka kegagalan merupakan gurumu untuk meraih kesuksesan. Ketika kalian sudah melakukan semaksimal mungkin namun tetap gagal, itu adalah pelajaran yang sangat mahal, tidak semua orang mendapatkannya. Pebisnis rugi itu biasa, nilai kerugianmu itulah pelajaran yang sangat mahal yang tak bisa didapatkan di sekolah atau kampus bisnis manapun kecuali kampus bisnis kehidupan, di dunia nyata yang sedang kalian hadapi saat ini. Mumpung masih muda, mumpung tanggungan kalian belum banyak, mumpung waktu yang tersedia masih banyak, mumpung tenaga masih berlimpah, jadi manfaatkanlah. Mereka yang hari ini sukses adalah mereka yang hari kemarin gagal berkali-kali namun tetap semangat untuk bangkit lagi. DO THE BEST,  YOU CAN DO IT.



EDITOR : Ariij Rizqi Azharudin


--------------
Beauty Kartika Lubis, penulis adalah seorang mahasiswi sekaligus seorang pembisnis muda
           

           

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel