Mewaspadai Perjudian sebagai Endemi Menyengsarakan Masyarakat

JUDI merupakan perbuatan yang dilarang oleh seluruh agama di dunia ini. Betapa tidak, karena judi menimbulkan efek negatif baik bagi individu maupun bagi masyarakat. Judi sangat identik dengan tindakan-tindakan kriminal lainnya yang merupakan endemi lahirnya efek lanjutan seperti pencurian, mabuk-mabukan, perzinahan, permusuhan dan bahkan kemusyrikan.

Judi, dalam pengertiannya yang paling asasi, adalah setiap permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak lain akibat permainan tersebut. Sampai di sini jelas, perjudian sangatlah bertentangan dengan hati nurani manusia.

Setiap permainan atau pertandingan, baik berbentuk game of cance, game of skill ataupun natural events, harus menghindari terjadinya zero sum game, yakni kondisi yang menempatkan salah satu atau beberapa pemain harus menanggung beban pemain lain.

Tak ada yang suka kalah, bahkan mereka yang kecanduan judi, tapi tetap saja mereka terus bertaruh, jika bandar selalu menang, kenapa tidak sekalian menaruh uang? Orang-orang yang kecanduan judi mengatakan bahwa, meski kekalahan mereka bertumpuk, ada rasa yang membawa mereka kembali ke meja kartu atau mesin slot.

Dan baru-baru ini, seorang ekssekutif Wall Street mengakui bahwa dia menipu keluarganya, teman dan orang lain sampai 100 juta dollar atau sekitar 1,3 triliun rupiah lebih untuk membiayai hobinya itu. Sebuah tindakan yang amat biadab. "Itu hanya satu cara agar saya dapat uang untuk memenuhi kecanduan berjudi saya," katanya pada pengadilan.

Tapi jika seorang kehilangan uang, mungkin malah kehilangan pekerjaan atau rumah sebagai dampak berjudi, bagaimana bisa rasa kepuasan itu melebihi pengorbanan mereka?

Hal pertama yang harus di ingat adalah, orang berjudi bukan hanya karena prospek menang. Mark Griffiths, seorang psikolog di Notthingham Trent University yang spesialisasinya adalah perilaku kecanduan mengatakan bahwa penjudi punya banyak motivasi atas kebiasaan mereka.

Padahal, kita sama sama tahu, bahwa sudah jelas para ulama telah sepakat bahwa judi itu diharamkan Islam sesuai dengan dalil-dalil berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorkan untuk berhala), mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan, ,maka jauhilah prbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan”. (QS Al-Maidah: 90).

Larangan judi ini memiliki maqashid yaitu menghindarkan kemalasan kerja karena impian, dan spekulasi, juga karena maisir itu juga mengakibatkan terjadinya permusuhan antara sesame karena illat judi adalah taruhan.

Oleh karena itu, permainan bertaruh bisa dikatakan sebagai maisir, jika terdapat unsur-unsur berikut:


  1. Taruhan (mukhatarah/murahanah)dan mengadu nasib sehingga pelaku bisa menang dan bisa kalah.
  2. Seluruh pelaku maisir mempertaruhkan hartanya, pelaku judi mempertaruhkan hartanya tanpa imbalan.
  3. Pemenang mengambil hak orang lain yang kalah, karena setiap pelaku juga tidak memberi manfaat kepada lawannya, ia mengambil sesuatu dan kalah tidak mengambil imbalannya.
  4. Pelaku berniat mencari uang dengan mengadu nasib, tidak ada target lain. Hal ini untuk membedkan dengan pemainayang tidak menjadi sara untuk mencari uang,seperti main futsal, dengan perjanjian siapa yang kalah, maka dia yang menanggung biaya sewa lapangan.


Dapat diambil kesimpuln bahwa judi itu di larang karena judi merupakan dosa besar, judi merupakan perbuatan syaitan, judi merupakan perbuatan yang identik dengan syirik, judi menjerumuskan manusia kedalam kemiskinan, kehinaan, dan kesengsaraan.

Selain itu, judi menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian, judi menimbulkan kemalasan serta menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Karena itu, saya mengajak kita, khususnya anak-anak muda, untuk menjauhi judi dan tak pernah mencobanya. Atau Anda akan sengsara selamanya.

_______
ARIIJ RIZQI AZHARUDIN, penulis adalah seorang wirausahawan muda yang juga mahasiswa semester 2 jurusan Bisnis Syariah STEI SEBI Depok

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel