News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Tugas Kaum Intelektual

Tugas Kaum Intelektual

Oleh Zia Alkautsar*

“SUATU bangsa tidak akan maju sebelum ada diantara bangasa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya” (Muhammad Natsir)

Jika kita saksikan hari ini, siapakah yang paling maju?. Sepakat kita menjawab bahwa itu adalah Barat. Barat dengan kemajuan sains dan teknologinya berhasil menjadikannya sebagai pemimpin dunia. Baik ekonomi dan budayanya sangat laku di pasaran dunia.

Tanpa perlu mereka mempromosikan barang-barang mereka semua orang dari penjuru dunia akan berbondong-bondong mengkosumsi ciptaan mereka, baik barang, budaya bahkan pikiran. Tentu sangat wajar bagi manusia jika ada suatu kemajuan maka yang lain secara naluri akan mengikutinya.

Seperti kisah seorang warga yang menemukan emas di sebuah gua. Ketika berita itu tersiar di telinga warga yang lain maka semuanya berbondong-bondong mencari emas di gua.

Atau seperti film anime One Punch Man, Saitama yang memiliki kekuatan sekali tinju maka lawannya langsung KO, hingga membuat orang-orang yang iri padanya untuk bisa memiliki kekuatan sekali tinju. Terkhusus Genos yang selalu membebek kagum kepadanya, kemana Saitama pergi selalu diikutinya demi mendapatkan kekuatan seperti Saitama.

Begitulah kekaguman dunia pada Barat, seperti warga yang iri melihat salah satu mereka mendapatkan emas di gua sehingga semuanya berbondong-bondong mencari emas di goa.

Seperti pula orang-orang di sekeliling Saitama yang iri pada kekuatannya, bahkan ada yang membebek padanya layaknya Genos. Tak lebih kurang seperti inilah kondisi dunia menyaksikan kemajuan Barat.

Apakah boleh kita meniru Barat? 

Pertanyaan ini akan kita jawab nanti setelah kita terlebih dahulu menguraikan bagaimana proses Barat sampai kepada masa kemajuannnya sekarang. Pada abad 12-16 adalah dimana Barat dikenal sebagai abad pertengahan. Dimana pengaruh otoritas gereja begitu sangat kuat terhadap masyarakat.

Masyarakat begitu patuh sekaligus takut dengan para pemimpin agama, sebab selain gereja sebagai pemimpin agama juga memiliki otoritas dalam menetapkan hukuman. Sudah pasti orang-orang terdidik atau berilmu adalah mereka orang-orang gereja dan orang-orang yang dipersiapkan untuk menjadi penerus gereja.

Pada zaman itu hanya doktrin yang terjadi, bahwa gereja adalah yang benar dan gereja adalah titisan Tuhan. Masyarakat diminta untuk melayani gereja dengan cara membayar baik dengan uang maupun dengan bahan pangan.

Masyarakat yang banyak awam dan tidak berilmu pasti hanya patuh dan takut dengan doktrin agama tanpa tahu benar atau salah yang dikatakan oleh gereja. Kondisi ini tidak bagus bagi masyarakat karena sering kali gereja menggunakan kekuasaannya sebagai alat untuk memenuhi nafsunya.

Seperti pernah terjadi pembantaian dan penyiksaan terhadap kaum perempuan, perempuan di zaman itu dianggap sebagai penyihir hingga boleh untuk dibunuh. Lalu setiap penentang gereja akan disiksa dan dibunuh. Pada saat itu banyak terjadi ketidakadilan dalam tatanan kehidupan.

Belum lagi para elit politik atau kerajaan yang menjadikan para tokoh agama sebagai alat untuk mempengaruhi masyarakat. Sehingga semakin kokohlah konspirasi penindasan yang terjadi pada zaman itu. Para bangsawan semakin mengeratkan kukunya dan tokoh agama semakin menguatkan perannya, feodal.

Dua golongan yang berkuasa ini dari dahulu jumlahnya hanya hitungan jari dibandingkan dengan masyarakat awam yang banyak. Selain tak memiliki ilmu masyarakat hanya bisa diam melihat kezaliman penguasa dan disuruh bersabar oleh perintah agama. Tentu tak ada bedanya masyarakat ini dengan boneka, parahnya mungkin seperti budak yang disuruh bekerja demi kepuasan tuannya.

Disaat seperti ini muncullah para intekektual yang lahir dari kesadaran diri dan ilmu. Mereka ini adalam golongan terpelajar, dan ada yang hasil didikan gereja tapi mereka anti dengan kebijakkan gereja yang tidak adil dan otoriter.

Mereka membantah segala logika gereja yang hanya bisa mendoktrin. Semua doktrin gereja dibantah dengan logika dan akal sehat para kaum inteketual. Mereka para kaum intelektual hadir dim tengah-tengah masyarakat dan berteriak bahwa gereja pembohong, tentu ini menjadi aksi heroik sekaligus menampar para masyarakat yang membebek pada gereja selama ini. Bayangkan semua argumen gereja dibantah oleh seorang intelektual dan dipertontonkan dihadapan masyarakat.

Ternyata asal mula kesadaran kaum inteketual berasal dari pengaruh filsafat Ibnu Rusyd yang mulai laku di Eropa. Pikiran para intelektual Barat ini mulai tercerahkan dengan filsafatnya Ibnu Rusyd hingga dipelajari oleh banyak intelektual zaman itu.

Paris sempat menjadi sentral dari studi filsafat Ibnu Rusyd. Bahkan salah satu raja di Eropa ada yang mendirikan sekolah khusus untuk mempelajari filsafat Ibnu Rusyd dan Islam. Begitu laku filsafat Ibnu Rusyd saat itu yang awalnya tercampak dari dunia Timur, Islam, karena terjadi pertentangan sengit antara Imam Al Ghazali dengan Ibnu Rusyd yang dimenangkan oleh Imam Al Ghazali.

Singkat cerita gereja kewalahan dengan pengaruh serta serangan dari inteketual Barat yang menggunakan filsafat Ibnu Rusyd untuk mematahkan argumen agama mereka. Karena kepayahan maka pihak gereja menggunakan filsafat Imam Al Ghazali dan filsafat Ibnu Sina untuk membentengi gereja. Lucu sekali saat membaca sejarahnya, terjadi perseteruan antar sesama Barat tapi senjata yang digunakannya adalah senjata Islam.

Maka pertarungan ini akhirnya dimenangkan oleh para inteketual Barat dengan filsafatnya Ibnu Rusyd menjadi akar kebangkitan mereka. Peran para inteketual yang begitu militan membombandir gereja dan menyadarkan masyarakat, walaupun banyak nyawa para intektual yang menjadi korban atas aksi penentangan mereka, tapi dampaknya terasa di kemudian harinya.

Ada dahulu tokoh inteketual yang karyanya dilarang untuk terbit dan bahakan namanya hilang dari sejarah karena penentangannya terhadap ototitas, namun ratusan tahunkemudian karyanya kembali muncul dan laku kembali pikirannya sehingga namanya kembali harum.

Sejak kemenangan itu Barat mulai meninggalkan agama dan melihat dunia ini dari kacamata rasional, sebab pengalaman pahit mereka dengan agama menyisakn trauma mendalam. Dulu segalanya dibatasi oleh gereja, baik seni dan ilmu pengetahuan, seniman dan ilmuan sangat di kekang.

Sejak gereja tumbang orang-orang mulai bebas berbuat apapun, para seniman bebas menciptakan karya seni apapun hingga lukisan atau pahatan tak berbusana. Para ilmuan bebas melakukan apapun tanpa ada batasan, hingga lahirlah penemuan-penemuan baru.

Semua ini digarisbawahi oleh para intelektual yang tanpa lelah memberontak terhadap kondisi masyarakat yang memprihatinkan. Dan setelah proses yang panjang tersebut jadilah Barat seperti hari ini dengan segala kemajuan teknologi dan sainsnya.

Kagumkah kita dengan kemajuan Barat?

Sekarang kembali kita ke pertanyaan di atas yang belum terjawab, “Apakah boleh kita meniru Barat?” Tentu saja jawabannya adalah “boleh”.

Walaupun ada jawaban yang sangat keras “tidak!” jika itu adalah Barat. Tapi mari kita untuk berpikir lebih bijak dan tenang dalam memikirkan jawaban pertanyaan di atas, “apakah boleh kita meniru Barat?”.

Kenapa tidak boleh? Bukankah dahulu kala saat Islam di puncak kejayaan, Barat belajar pada Islam? Dan kini setelah mereka mempelajari kita mereka menjadi maju oleh kita, bahkan pemicu kebangkitan mereka adalah produk ilmuan Islam, Ibnu Rusyd.

Memang, sebagian kita ada yang sangat anti dengan Barat. Apakah itu disebabkan oleh kekejamannya mereka hari ini, monopoli ekonomi dan lainnya. Namun kita tetap sepakat bahwa Barat adalah negara yang paling maju untuk saat ini, lantas kenapa kita tidak belajar padanya untuk maju? Tentu perlu diingat cara kita belajar dari Barat bukanlah seperti Genos yang membebek pada Saitama, tidak! Sebab kitapun tahu bahwa tak seluruhnya yang ada pada Barat adalah baik.

Konsep kebebasan mereka tak bisa diterapkan pada masyarakat kita yang punya aturan sopan santun. Konsep anti agama mereka juga tak sesuai dengan kita umat Islam yang memiliki hubungan harmonis dengan agama-agama yang ada.

Tapi kita mempelajari kemajuan Barat, dan ilmu mereka dengan sikap analisis, kritis dan penuh pemahaman. Kita akan sangat berhati-hati dengan apa yang kita pelajari dari Barat. Dan kita juga pasti harus memfilter setiap apa yang akan masuk pada kita. Karena seorang murid yang baik adalah murid yang bisa kritis terhadap gurunya, memahami cara gurunya berpikir, dan melebihi gurunya dikemudian hari.

Identitas Kita

Hal yang paling penting adalah jangan sampai kita kehilangan identitas dan budaya kita sendiri karena mempelajari Barat. Ambillah seperlunya dari Barat dan jangan sentuh apa yang tidak dibutuhkan.

Jangan sampai kita seperti kebanyakan pemimpin negara yang kagum pada Barat lalu meniru atau membaratkan negaranya yang padahal budaya dan sejarah mereka berbeda bahkan beretentangan.

Melihat Barat tak berjanggut dibantainyalah semua janggut yang ada di negaranya, padahal masalah utama negaranya adalah kemiskinan. Sadaralah ia bahwa pembabatan janggut tak menaikkan ekonomi mereka. Dan banyak negara yang memaksakan dirinya untuk menjadi Barat. Itu bukan cerdas namanya, itu hanya membebek saja dan tak akan ada perubahan.

Yang bisa kita pelajari dari Barat adalah mereka memiliki proses yang panjang untuk sampai kepada hari ini, dan proses tersebut distimulus oleh para intektual mereka.

Intekektual berada di atas masyarakat untuk selalu memprovokasikan ide dan pikirannya. Dan begitulah seharusnya seorang intektual. Tampil sebagai provokator masyarakat, menampar masyarakat dari kebohongan dan mendobrak kedunguan massal.

Contoh terdekat ada pada diri para founding father kita, Ir. Soekarno, dengan suara vokalnya mendobrak kejumudan bangsa Indonesia sehingga setiap penjuru negeri siap berperang dengan segenap jiwa dan raganya melawan penjajah.

Bung Hatta juga tak jauh berbeda, ia lebih vokal dalam tulisannya. Ialah orang yang pertama kali memproklamirkan nama ‘Indonesia’ saat ia masih berkuliah di Belanda. Tulisan-tulisannya amat pedas mengkritik penjajah, tapi begitu menyentrum masyarakat Indonesia yang masih belum merdeka saat itu. Dan berapa sering majalah yang ia dirikan menyorakkan kemerdekaan Indonesia.

Tan Malaka juga demikian, dari belakang layar ia menggerakkan masyarakat, meski lebih sering menghilang tapi tulisannya juga sama tajamnya dengan suara Ir. Soekarno, buku-bukunya banyak menyadarkan masyarakat untuk bangkit dari kemiskinan dan keluar dari penjajahan, bahkan suatu ketika nyawa Ir. Soekarno terancam ia mewasiatkan jika ia terbunuh maka Tan Malaka yang menjadi Presiden penggantinya.

Dan yang paling berpengaruh dan selalu menjaga masyarakat dari tirani penjajah serta selalu berada di garis terdepan untuk menjaga dan mendidik masyarakat dari pengaruh penjajah adalah para guru dan ulama.

Merekalah yang selalu setia mendengar keluhan masyarakat, merekalah yang menyelasaikan problematika kehidupan masyarakat, dan mereka pulalah yang sering membantu perekonomian masyarakat, layaknya syekh Hasyim Asyari yang mengajarkan masyarakat Tebu Ireng untuk bercocok tanam.

Lalu yang terpenting disebutkan di atas adalah menjaga masyarakat dari pecah belah dan iming-iming penjajah. Lihatlah ayahnya Buya Hamka Inyik Doktor Abdul Karim Amrullah, menjadi setetes tinta yang merusak belanga penjajah. Selalu dengan sikapnya yang keras menentang segala siasat panjajah yang ingin menarik hati masyarakat apalagi para pemuka adat dan agama, tanpa segan Inyik Doktor berselisih dengan guru dan kawan jika sudah masuk ke ranah agama dan aqidah.

Sikap tegas dan kerasnya ini membuat masyarakat merasa dibela dan dilindungi. Penjajahpun tidak bisa main hakim sendiri jika ingin melakukan tindakan menghentikan peran Inyik Doktor di masyarakat Minangkabau.

Saking beraninya dan teguhnya pendirian beragamanya, kala Jepang mengusai Indonesia, suatu kali para ulama diundang oleh Jepang dalam sebuah acara yang dalam acara tersebut ada semacam gerakan penghormatan kepada Kaisar Jepang, seluruh para ulama yang hadir menundukkan kepalnya dengan terpaksa karena takut nyawa mereka terancam, sebab itu adalah ritual sakral bagi tentara Jepang.

Namun hebatnya, Inyik Doktor ayah Buya Hamka ini berdiri dengan tegap tanpa sedikitpun menundukkan kepalanya. Semua orang menyaksikannya dengan perasaan ngeri, para ulama yang hadir bergetar hati mereka menyaksikan keberanian dan kekokohan Inyik Doktor dalam memegang Islam.

Semuanya tahu bahwa ini berhubungan dengan aqidah, tapi mereka terlalu takut dengan nyawa mereka, dan juga mereka takut dengan apa yang akan terjadi dengan Inyik Doktor sebab ia berdiri pas di sebelah komandan Jepang yang terikat samurai di pinggangnya.

Tapi ketakutan itu tak terjadi sebab dengan keberanian dan kekokohan Inyik Doktor dalam beragama itulah yang membuat komandan Jepang ini kagum, hingga ia minta dikarangkan buku untuk mengenal Islam.

Lalu dikaranglah buku oleh Inyik Doktor dengan bahasa yang sangat keras. Saat ditanya apakah sebaiknya bahasnya diperlunak, dijawab Inyik Doktor dengan tegas, tidak!. Tujuannya agar mereka para penjajah itu tahu dengan sikap dan keyakinan orang Islam yang lebih mulia dari keyakinan mereka dengan agama mereka.

Hari inipun kita bisa meyaksikan orang-orang yang vokal dalam membela kepentingan masyarakat. Orang-orang yang setiap hari selalu mengedukasi masyarakat akan kebenaran yang terjadi pada Indonesia saat ini, baik dari segi ekonomi dan leadership pemerintahan hari ini.

Mendobrak kedunguan dan mengembalikan akal sehat massa, Rocky Gerung. Lalu adalagi Fahri Hamzah yang tanpa henti-hentinya membuka segala aib pemerintah dan konspirasi kotor di aparat pemerintah.

Mereka lantang gagah berani untuk menyorakkan kebenaran di tengah kebungkaman masyarakat dengan kecemasan penangkapan-penangkapan yang terjadi. Memprovokasi bangsa dan menampar kita untuk bangun dari ilusi kebohongan pencitraan. Di sisi lain ada Adian Husaini yang selalu aktif mengedukasi masyarakat tentang penyimpangan sains.

Orientasi atau esensis ilmu kita terpisah dengan nilai-nilai agama tanpa disadari, sekularisme dan liberalisme tanpa kita sadari telah menggerogoti setiap sendi keilmuan, hingga berefek pada lahirnya pemimpin yang berpikiran liberal dan mengahasilkan keputusan yang liberal atau bertentangan dengan agama.

Dan yang tak kalah pentingnya peran tokoh agama, seperti Ustadz Abdul Somad, yang gaungnya menyentuh berbagai pelosok negeri. Petuahnya banyak menyatukan tubuh umat muslim yang sempat kebingungan.

Kehadiran UAS juga menjadi pelipur dari kegamangan umat. Acap dijahili dan didisriminasi di berbagai kesempatan, namun selalu lantang dalam ceramahnya, juga tak lupa dengan humor khasnya yang menambah kenyamanan orang yang mendengarnya.

Dan saat para intelektual menancapkan pengaruhnya pada masyarakat akan terjadi perubahan kemajuan yang pesat. Setiap tokoh memerankan posisinya masing-masing, demi tercapainya kemajuan masif bersamaan. Selamat menjadi seorang inteketual, dan selamat bertugas!

_______
*)ZIA ALKAUTSAR, penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Republik Mesir

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.