News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Larangan Peminjaman Menggunakan Sistem Jual Beli dalam Islam

Larangan Peminjaman Menggunakan Sistem Jual Beli dalam Islam

ISLAM adalah agama yang konfrehensif. Islam mengatur segala urusan kehidupan manusia baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah ataupun muamalah dalam sesama makhluk lainnya. Islam pun ikut andil dalam aktivitas perekonomian di keseharian manusia. Contohnya dalam transaksi jual beli atau pinjaman dan akad-akad yang lainnya.

Dalam sistem perekonomian kita harus mengetahui akad-akad apa saja yang boleh dan tidaknya dalam hukum Islam. Sudah terjadi perkembangan dalam sistem perekonomian kita, terutama dalam perekonomian Islam yang sebaiknya harus dianut dalam negara Islam itu sendiri seperti negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Salah satunya adalah dalam praktek jual beli, pinjam meminjam, dan sewa menyewa hingga masalah hutang piutang.

Aktivitas jual beli sudah sangat lumrah untuk diterapkan dalam negara Indonesia, namun dengan baiknya melihat pertimnagan peraturan atau hukum negara maupun agama. Dengan menggunakan syarat jual beli yang baik, maka suatu negara dapat mengembangkan sistem perekonomiannya menjadi lebih berkembang dan maju.

Dalam hal jual beli banyak sekali pendapat para ulama tentang jual beli yang dibolehkan maupun tidak. Salah satunya adalah proses peminjaman dengan menggunakan sistem jual beli atau yang biasa disebut dengan Bai al-Inah.

Lalu, bagaimana dengan hukumnya proses tersebut? Disini kita akan mempelajari bagaimana para ulama menyingkapi keadaan sistem perekonomian ini.

Bai al-Inah seperti yang telah ditafshirkan oleh para ulama adalah transaksi antara dua orang apabila seseorang membeli barang secara tidak tunai, dengan kesepakatan akan menjualnya kembali kepada penjual pertama dengan harga lebih kecil secara tunai.

Bai al-Inah termasuk transaksi yang dilarang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Apabila manusia kikir akan dinar dan dirham, melakukan jual beli ‘inah, mengikuti ekor-ekor sapi dan meninggalkan jihad dijalan Allah, maka Allah SWT akan menurunkan musibah dan tidak akan menarik kembali kecuali mereka kembali komitmen dengan agama mereka”. (HR Imam Ahmad).

Larangan ini memiliki maksud untuk menghindarkan manipulasi untuk melakukan riba yang terlarang (hilah ribawiyah) atau melakukan praktik simpan pinjam berbunga dengan modus jual beli seperti yang telah dijelaskan dalam standar syariah AAOIFI (Organisasi Akuntansi dan Audit untuk Lembaga Keuangan Islam) yaitu:

“Tidak termasuk dalam hilah ribawiyah, seperti bai al-‘inah atau hilah ribawiyah”       

Mayoritas sahabat, dan ulama menjelaskan bahwa bai al-‘inah termasuk transaksi yang diharamkan karena termasuk Hilah ribawiyah.

Namun, pendapat dari beberapa fuqaha dalam mazhab syafi’i mengatakan makruh karena berprinsip pada satu ijtihad yaitu setiap praktik muamalah itu berdasarkan zahirnya atau pelaksanaannya bukan niatnya (al-ibratu bil alfadz la bil maqashid).

Pendapat Syafi’iyah yang membolehkan bai al-inah jika transaksi antara keduanya adalah akad jual beli yang terpisah dan tidak diperjanjikan/diakitkan. Tetapi jika kedua akad tersebut diperjanjikan maka Bai al-Inah tidak diperbolehkan, karena sudah mempunyai maksud pembeli adalah uang bukan barang.

Walaupun mempunyai berbedaan pendapat, sesungguhnya para ulama melarang baik transaksi bai al-‘inah ini, karena substansi kedua praktik tersebut adalah pinjaman berbunga. Demikian, sebagaimana dikutip dari Dr. Oni Sahroni, M.A. Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P, Maqashid Bisnis dan Keuangan Islam, hlm. 99 – 104.

Penulis: Nur Iftitakhiya

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.