News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Membaca Arah, Pengaruh, Peluang dan Kiprah Politik Kaum Muda di Masa Mendatang

Membaca Arah, Pengaruh, Peluang dan Kiprah Politik Kaum Muda di Masa Mendatang

TULISAN singkat ini hanyalah opini pribadi menjawab undangan diskusi “Evaluasi PEMILU 2019” FGD (Focus Group Discussion) sesi 2 Sekretariat PP KAMMI yang belum bisa saya hadiri tadi malam (20/06/2019). Berharap memberikan sumbangsih pemikiran atau setidaknya sedikit pemantik lanjutan diskusi dalam grup-grup WA masing-masing.

Sekedar berkaca dari Pemilu 2019, tulisan ini mengambil sudut pandang yang berbeda, tanpa terlalu jauh menelisik ke belakang, dan berharap memberikan daya dorong bagi anak muda ke depan. Sehingga judul yang disodorkan demikian adanya: “Anak Muda Mungkinkah di Politik?”.

Apa yang diharapkan dari kehadiran anak muda di berbagai ruang kehidupan? Tentu memberikan warna baru dengan ide-ide segarnya. Kontribusi, begitu kata para begawan.

Begitu juga dalam ruang politik Indonesia saat ini. Diperlukan sentuhan-sentuhan generasi terkini untuk mengarahkan regulasi dan kebijakan lebih kekinian tanpa meninggalkan ke-disini-an. Kekinian untuk menjelaskan penyesuaian terhadap perkembangan dan kecanggihan era saat ini beserta pasar demografinya, dan ke-disini-an tentu menggambarkan identitas Indonesia tanpa terkotak-kotak, sepenuhnya Indonesia kah? Beragam, berwarna, bermacam-macam, dan bersatu.

Berbicara anak muda, memang tidak bisa dikatakan mudah dalam ruangan politik, secara definisi saja susah diperjelas kata “muda” tersebut. UU Kepemudaan membatasi kata muda dibawah 30 tahun, teori lain beda lagi.

AHY misalkan, jika dalam Pilpres 2019 mencalonkan diri dan terpilih menjadi Presiden [garis bawahi, misal] sudah pasti akan dinilai sebagai Presiden termuda dalam sejarah Indonesia dengan usianya yang (baru) 40 tahun sesuai syarat minimum usia capres/cawapres berdasar pada UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, Pasal 169.

Tentu sangat, akan masuk dalam rekor, Presiden Indonesia terpilih paling muda karena para pendahulunya tidak ada yang semuda beliau jadi Presiden [sekali lagi misal, ini bukan iklan]. Sukarno(44); Soeharto(47); Habibie(61); Gus Dur(59); Megawati(54); SBY(55) dan Jokowi(53).

Dan, jika AHY mengulang kembali kesempatan Pilpres 2024 maju mencalonkan diri mengikuti jejak Ayahanda SBY dan terpilih, rekor Presiden Indonesia termuda masih dipegang Sukarno. Tapi tetep terbilang muda [jika benar-benar nyalon dan terpilih].

Ruangan lain dalam politik misalkan, pemilihan anggota legislatif. Alhamdulillah, di Pileg 2019 untuk caleg-caleg muda telah banyak bertebaran dari tingkat daerah Kabupaten/ Kota, Provinsi di seluruh Indonesia hingga Pusat.

Banyak sanak saudara, kerabat, sahabat yang masih seusia pun menjadi bagian dari caleg-caleg muda yang bertebaran tersebut. Meski demikian, tidak sepenuhnya para caleg muda mengerti dan sadar majunya mereka masih sekedar bagian dari pendulang suara vote getter belaka.

Apakah lantas tidak ada peluang untuk mereka jadi? Tentu jelas ada, dan semakin banyak persebaran caleg muda di berbagai dapil, daerah, tingkat, dan partai maka semakin besar peluang aspirasi “muda” akan terwakili di masing-masing tingkatan, asalkan tidak sekedar caleg-calegan, atau caleg jadi-jadian saja.

Sayangnya, politik bukan sekedar emosional namun juga rasionalitas sehingga akhirnya hanya bermodal semangat membara dan ego tinggi “darah muda” akan menguliti diri mereka sendiri jika tidak mampu mengontrol emosi dan berfikir matang sebagai seorang politisi.

“Kan masih calon pertama Bang, tak apalah percobaan...”. Ya monggo-monggo saja, namanya juga kompetisi dan usaha. Pada akhirnya jika toh ada anak muda di Pileg 2019 jadi anggota legislatif, untuk saat ini kita akan dengan mudah mengetahui siapa bapak/ ibu/ keluarga atau latar belakang mereka.

Sebagian anak muda yang lain jadi karena kelihaian dan kecerdasan personal pun sangat memungkinkan, meski begitu mungkin sangat minim. Misal saja, anggota DPR RI termuda baik 2014-2019 maupun 2019-2024 jika kalian cermati betul maka kata oligarki menjadi pilihan istilah yang tepat sebagai “motor” pemicu untuk memotivasi para anak muda “bukan siapa-siapa” menjadi politisi muda yang matang dan tampil.

Faldo Maldini, Tsamara Amani, dan beberapa anak muda lain di Pileg 2019 kemarin berani tampil, dan cukup matang menjadi politisi muda, tentunya menarik di mata kalangan anak muda. Figur-figur ini dipastikan akan kembali muncul dalam jalannya politik Indonesia kedepan meski mereka belum berkesempatan menjadi anggota legislatif. Belum lagi politisi-politisi muda yang tampil luar biasa namun tidak menjadi bagian dari orbit partai, dan akan semakin banyak.

Alasannya? Pertama, semakin banyak sekolah politik ala shortcourse yang dibangun oleh para akademisi, tokoh, dan politisi-politisi besar. Kedua, partai politik pun makin sadar dan membenahi sistem pengkaderan anak muda guna menjadikan mereka sebagai penggerak, bukan sekedar vote getter pemilu.

Artinya, mau tidak mau, partai politik juga harus mematangkan anak muda menjadi bagian dari mereka, sudah tidak zamannya lagi “ini urusan orang tua”. Buktinya, membuat tagline Partai Anak Muda, dan membuat Anak Partai (Partai XYZ Muda) bentuk dari evaluasi besarnya peluang ledakan bonus demografi yang tidak bisa sekedar melibatkan anak muda di etalase belaka.

Yang jelas, Pemilu 2019 hanyalah awalan munculnya politisi-politisi muda yang memberikan warna baru Indonesia ke depan. Btw, wacana menteri muda pun akan turut merubah peta-peta eksekutif di berbagai daerah nantinya. Monggo anak muda. Wallahu a'lam.

___
*) BARRI PRATAMA, penulis adalah Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) 2017-2019

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.