News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Menyambut Syawal: Harapan Baru Akan “Hoax”

Menyambut Syawal: Harapan Baru Akan “Hoax”

BEBERAPA tahun belakangan, media sosial Indonesia layak dikatakan “sedang” tidak sehat. Banyak konten-konten yang tidak bermanfaat muncul, fitnah diluncurkan, prasangka buruk diumbar, caci maki menjamur, hate speech merajalela di beranda-beranda online, yang hadirnya dari kesemua itu memiliki hubungan erat dengan wabah hoax yang akhir ini menyerang kerukunan dan persatuan bangsa.

Data dari Centre for International Governance Innovation (CIGI) 2017, menjelaskan bahwa memang masyarakat Indonesia sangat mudah percaya akan hoax.

Dari total 132 juta pengguna internet di tahun 2016, 65% nya ternyata mudah terhasut hoax, angka mengejutkan inilah yang menempatkan Indonesia di peringkat ke tujuh sebagai negara yang gampang percaya hoax.

Hasil survey dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada tahun 2017 menyatakan, bahwa ternyata saluran penyebaran berita hoax terbesar adalah media sosial yaitu sebanyak 92,40% dengan jenis atau isu tertinggi adalah sosial politik dan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA).

Data-data tersebut tentunya menjadi sangat mengkhawatirkan, sebab media sosial adalah medium yang begitu mudah diakses, masyarakat di pelosok negeri pun sekarang bisa menikmati bagian dari produk kemajuan teknologi ini.

Merebaknya peredaran hoax di media sosial ini memberikan dampak negatif yang signifikan. Menurut Lutfi Maulana, beberapa dampak yang dihasilkan tersebut antara lain: a) merugikan masyarakat, karena berita-berita hoax berisi kebohongan besar dan fitnah; b) memecah belah publik, baik mengatas-namakan kepentingan politik maupun golongan tertentu; c) mempengaruhi opini publik, hoax menjadi provokator; d) berita-berita hoax sengaja dibuat untuk kepentingan mendiskreditkan salah satu pihak sehingga bisa mengakibatkan adu domba terhadap sesama kelompok atau umat beragama; e) Sengaja ditujukan untuk menghebohkan masyarakat, sehingga menciptakan ketakutan.

Setidaknya ada tiga faktor umum yang melatarbelakangi hadirnya hoax. Pertama, faktor politis. Kedua, faktor ideologis. Ketiga, faktor ekonomis. Tiga faktor ini semuanya sarat kepentingan.

Ada maksud-maksud tertentu yang ingin dicapai, mulai dari yang memproduksi dan yang membagikan. Khusus untuk yang membagikan, bisa saja ia tidak memiliki kepentingan, justru ia adalah korban hoax yang tanpa sadar ikut-ikutan membagikan hoax.

Tiga faktor yang kompleks tersebut membuat hoax begitu sulit diredam, walaupun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya. Di samping itu, ada faktor lain yang saya kira ikut menyumbangkan andil bagi tumbuh dan menjamurnya hoax di negeri ini. Pertama, pengguna internet Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet tahun 2017 mencapai angka 143,26 juta dari total 262 juta penduduk. Artinya, dua tahun yang lalu saja sudah lebih setengah dari penduduk negara ini telah menjadi pengguna internet aktif.

Dengan bertambahnya pengguna internet, maka persebaran hoax akan semakin luas dan cepat. Satu postingan hoax yang muncul di media sosial dalam beberapa jam saja sudah mampu menjangkau wilayah hingga pelosok dan bisa hinggap di jutaan layar HP, jutaan pikiran masyarakat.

Selain pengguna internet yang terus bertambah, kebebasan yang ditawarkan oleh media sosial pun ikut menunjang menjamurnya hoax. Kebebasan dalam bermedia sosial mempermudah masyarakat menciptakan dan mengunggah, menggandakan, memanipulasi, menyunting tulisan, gambar, video, dan membagikannya secara masif tanpa rasa takut dan khawatir.

Siapapun akan dengan mudah memberi dan menerima informasi apa saja tanpa sekat ruang dan waktu dan tanpa diliputi kekhawatiran atas akibat yang mungkin ditimbulkannya.

Alhasil, konten “sehina” hoax pun tanpa sadar, atau memang mungkin dengan “sadar” ikut tersebar dengan mudahnya. Ada yang menjadi produsen, ada yang menjadi konsumen yang tanpa sadar memposisikan diri sebagai penikmat hoax di pagi dan malam hari, ada juga yang sambil minum kopi menyentuh bagian layar handphone untuk bersama berbagi hoax.

Akankah di bulan Ramadhan yang akan segera berakhir ini kita masih “berbagi hoax”?

Keprihatinan yang mendalam muncul ketika menyaksikan kesimpulan-kesimpulan keliru yang ditangkap oleh masyarakat karena gambar-gambar hoax yang beredar. Diperparah oleh minat baca yang rendah, daya kritis yang tumpul, hoax benar telah dan akan menjadi masalah serius kebangsaan. Karena hoax kebencian antar sesama akan tumbuh, konflik sosial meningkat, permusuhan serta perpecahan pun rentan terjadi.

Fajar syawal segera menyapa, akan ramai di dunia maya maupun dunia nyata aktifitas saling memaafkan antar sesama. Sebelum itu, mari memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri. Dengan bartaubat, memaksimalkan ibadah di bulan kemenangan dan bulan-bulan seterusnya, memohon ampun dan rahmat kepada Allah.

Mungkin kemaren pernah terlanjur menyebarkan berita hoax yang mengakibatkan tumbuhnya kebencian, adu domba, fitnah terhadap sesama. Mungkin kemaren pernah menyebarkan/membagikan berita dengan menggunakan akun media sosial tetapi beberapa hari kemudian tersebar klarifikasi bahwa berita itu adalah hoax.

Mungkin kemaren belum mampu menahan diri untuk lebih bertabayyun lagi, terlanjur terprovokasi lalu dengan sigapnya membagikan berita-berita hoax, ramadhan-lah yang menjadi waktu yang tepat untuk bertaubat dari itu semua.

Sedih melihat kebencian yang tumbuh dan berkembang kepada sesama cuman karena analisa sesaat terhadap berita bohong yang dibaca lalu instannya langsung mengambil kesimpulan yang tertanam bahkan menjadi kepercayaan di kepala.

Sedih melihat caci maki dilontarkan kemana-mana bahkan kepada saudara sendiri hanya karena menonton video-video yang telah diedit dengan keterangan terhadap video yang tidak tepat sengaja dibuat sesuai kepentingan atau atas dasar hawa nafsu jahat.

Hoax akan terus menjadi tantangan bagi bangsa, sulit untuk meredam tersebarnya hoax jika tidak adanya kesadaran “tabayyun” dari individu masyarakat sendiri.

Hoax sarat kepentingan bahkan sengaja dibuat oleh pihak tertentu. Sehingga, sewaktu-waktu hoax bisa saja kembali datang, hanya tinggal bagaimana kita menjaga diri kita agar tidak menjadi korban hoax, dan tidak menjadi orang yang ikut menyebarluaskan hoax.

Bulan ramadhan hendaknya menjadi ajang untuk melatih diri. Melatih jari-jari tangan agar mampu menahan, tidak gampang menyentuh fitur “bagikan” terhadap konten atau berita yang kebenarannya belum dipastikan. Melatih hati dan otak, mengasah kebijaksanaan agar tidak terburu-buru meng-judge atau mengambil kesimpulan terhadap sesuatu yang tidak benar-benar diketahui tentangnya.

Melatih, memupuk, memelihara serta mengembangkan sikap tabayyun adalah target yang harus dicapai di bulan Ramadhan ini. Agar nanti, di awal tanggal satu syawal bisa dengan bahagia menyambut fajar kemenangan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kritis, lebih bijaksana dan lebih damai dengan harapan baru Indonesia yang "lebih sehat" tanpa hoax.

______
RIZKI ULFAHADI, penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.