Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Profil Arief Rosyid, Milenial Tokoh di Balik Terbitnya Perpres Pemuda

Minggu, 14 Juli 2019 | 09:39 WIB Last Updated 2020-05-28T06:22:21Z
MUNGKIN banyak yang belum tahu, sosok aktifis yang juga pemuda millenial Arief Rosyid Hasan ternyata adalah orang getol memperjuangkan legitimasi pemuda agar mendapatkan perhatian yang layak dari negara.

Bahkan jauh sebelum mengemban amanah sebagai Ketua Umum PB HMI ke-30 periode 2013-2015, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini, sudah rajin menyuarakan pentingnya pelibatan pemuda dalam pembangunan yang secara legitimasi diakui oleh undang-undang.

Usai mengemban amanah sebagai HMI 1, dirinya semakin aktif terlibat dalam mengkaji dan mendorong sejak awal adanya kerangka kebijakan integral yang lebih fokus pada kelompok umur pemuda dalam menghadapi bonus demografi hingga kemudian dia diamanahi menjadi tim Pokja Pelayanan Kepemudaan di Kemenpora.

Pendiri Indonesian Islamic Youth Economic Forum (ISYEF) ini menilai soal demografi memang sangat penting sehingga menjadi perhatian serius pria low profile ini. Saat masih menjadi Ketua Umum PB HMI, Arief sudah mewanti-wanti bahwa Indonesia tergolong lambat dalam mempersiapkan pemanfaatan bonus demografi ini.

Padahal, menurutnya, Indonesia sejak tahun 2012 telah memasuki fase bonus demografi dan sampai sekarang belum ada kerangka kebijakan integral yang lebih fokus pada kelompok umur pemuda.

Sehingga, menurut Arief, jika tidak ditangani dengan baik, bonus demografi yang selama ini menjadi harapan untuk memajukan Indonesia dapat menjadi “window of disaster” karena besarnya beban sosial yang harus ditanggung.

“Hal ini menjadi sangat mendesak mengingat peluang ini hanya akan terjadi dalam waktu yang relatif pendek,” tutur Arief dalam salah satu FGD bersama tokoh dan pegiat di Jakarta, Rabu 28 Oktober 2015.

Soal bonus demografi ini terus dan selalu diulang-ulang Arief dalam berbagai forum diskusi, pertemuan dengan senior HMI yang sudah jadi tokoh nasional, sambutan di berbagai acara HMI, tulisan di media massa, bahkan dalam beberapa buku yang diterbitkannya.

Tidak berhenti di situ. Sejak 2014, Arief menjadi inisiator berbagai focus group dicussion tentang bonus demografi. Arief mempresentasikan tantangan dan solusi pemuda dalam menghadapi bonus demografi ke Bappenas, LIPI, Kemenkeu, dan Kemenpora.

Anak muda yang menginisiasi Muktamar Pemuda Islam pertama bersama 20 Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Islam terus bergerak menghimpun pemerhati dan pegiat kepemudaan.

Berbagai langkah terus ditempuhnya untuk menegaskan pentingnya menyikapi bonus demografi, tantangan dan solusinya.

Akhirnya pada Mei 2015, Arief menyampaikan dokumen singkat ber-kop PB HMI kepada Presiden Joko Widodo. Isi dokumen tersebut adalah tuntutan dihadirkannya kebijakan pengarusutamaan pemuda.

Dokumen itu kemudian membuahkan hasil yang terbilang monumental dimana akhirnya pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan.

Pada April 2019, Arief dkk kembali mendesak pemerintah agar segera membentuk Pokja sebagai tindak lanjut Perpres 66/2016 tersebut. Desakan itu membuahkan hasil dengan terbentuknya Pokja pada tanggal 20 Mei 2019.

Arief terpilih sebagai perwakilan pemuda dan membawa bendera lembaga yang didirikannya, Merial Institute, dalam tim pokja tersebut. Salah satu tujuan dibentuknya Pokja yakni agar program kepemudaan di Kementerian/Lembaga lebih terkoordinasi dan terukur pencapaiannya.

Kegemaran Berkolaborasi

Bekerja sama untuk suksesnya bakti sosial, kegiatan kepemudaan, pelatihan, dan seterusnya, adalah makanan sehari hari bagi Arief Rosyid. Ia semakin menggairahkan kegemaran berkolaborasinya.

Dikala tak lagi menjadi Ketum PB HMI, semangat aktivisme Arief justru semakin meluas. Malahan dia justru mencatatkan lebih banyak rekam jejak berkolaborasi dengan tujuan yang belum berubah: mendorong perbaikan SDM, khususnya pemuda seperti mendirikan komunitas Rabu Hijrah.

Rabu Hijrah berlangsung setiap hari Rabu, selama Februari hingga Maret 2019. Arief mengajak para tokoh di bidang usaha dan tokoh agama untuk memberikan literasi bagi pemuda di tujuh kota di Indonesia. Literasi dalam Rabu Hijrah yang diberikan terkait potensi ekonomi umat dan bagaimana kaum muda turut serta.

Ia juga turut aktif dalam KAHMI Economic Forum. Kolaborasi ini ada di bawah bendera Korps Alumni HMI (KAHMI). Forum ini bertujuan membangun narasi objektif tentang perekonomian nasional berbasis inovasi dan SDM dan bersama Ketum HIPMI Bahlil Lahadalia, Arief Rosyid masuk tim perumus RUU Kewirausahaan Nasional untuk mendorong kebijakan pro kewirausahaan.

Arief membentuk Pergerakan Indonesia Maju (PIM) dimana kolaborasi ini bertujuan merawat jejaring dengan para pakar, tokoh bangsa untuk mengulas diskursus kebangsaan. Dia juga secara aktif menggelar riset melalui lembaga Merial Institute yang didirikannya untuk mendorong perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pemuda. Arief ingin Merial Institute jadi lembaga think thank untuk urusan pemuda.

Bukan hanya itu, Arief Rosyid pula terinspirasi mendirikan Suropati Syndicate karena melihat beragam aktivitas, termasuk diskusi, yang berlangsung di Hyde Park, London. Arief pun membawa ide diskusi outdoor di taman yang bertempat di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Tujuannya, ada diskusi rutin di ruang publik kota tentang isu aktual.

Arief aktif mengikuti pelatihan di dalam dan luar negeri, seperti Basic Training HMI, Makassar, 2004; Intermediate Training HMI, Mamuju, 2005, Advance Training, Padang, 2008; Sekolah Pemikiran Pendirian Bangsa Megawati Institute, Jakarta, 2012; Pelatihan Analisis Persiapan Implementasi JKN dan SJSN, Depok, 2012; Pelatihan WHO & SEAPHIN “Strenghtening Non-Communicable Disease Program at National and Sub National Level”, Jakarta, 2012; Delegation for International Peace Conference on “Return To Palestine”, Lebanon, 2013; E Pluribus Unum Camp US Embassy, Jakarta, 2014; Pelatihan Ketahanan Nasional Pemuda Kemenpora, Jakarta, 2014; The International Visitor Leadership Program “Civil Society in Muslim Communities“ - The US Department of State, USA, 2016.
Berita Lainnya
×