News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Memaknai Ibadah Shalat dan Manajemen Waktu

Memaknai Ibadah Shalat dan Manajemen Waktu

Oleh Ajeng Wulandari

TIDAK SELALU benar anggapan sebagian orang yang menyebutkan bahwa hidup di dunia ini adalah misteri. Karena, ternyata, kehidupan ini memiliki alur dan garis kehidupannya sendiri yang sudah berjalan sepanjang kehidupan itu ada.

Kehidupan ini mempunyi sunnatul al hayyah berupa ketentuan hidup yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Salah satu kepastian hidup itu adalah bahwa keburukan dan kebathillan pasti berakhir pada kesengsaraan dan kehancuran.

Sementara kebaikan dan kebenaran akan berakhir pada kebahagiaan, kemenangan dan ke abadian. Dua kaidah itu adalah garis kehidupan yang tidak pernah berubah.

Allah SWT dalam kitab-Nya dan melalui lisan Nabi-Nya menjelaskan tentang pentingnya waktu dan manejemen waktu dalam hidup.

Dalam hukum-hukum syariah, kita sudah ketahui bahwa Islam telah memberikan panduan yang sangat jelas tentang menggunakan waktu dengan baik.

Dan, Sang Pencipta telah menekankan kita agar tidak meremehkan dan melanggar batasan-batasan waktu. Perhatikan firman Allah SWT berikut:

"Sesungguhnya shalat itu atas kaum mukminin berupa kewajiban yang telah ditentukan waktunya” (Q.S. An Nisa: 103).

Shalat adalah kewajiban yang berulang lima kali dalam satu hari satu malam. Abdullah bin Mas’ud RA pernah bertanya kepada Rasulullah, “Yaa Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah?” Rasullah menjawab “shalat pada awal waktunya”.( HR. Bukhari).

Jika kewajiban shalat itu dikerjakan seorang muslim pada awal waktu, seperti yang dijelaskan pada hadits tadi, hal itu sangat berpengaruh pada pembentukan karakter lebih disiplin pada diri seorang muslim.

Disini ada hikmah yang amat dalam, mengapa Allah dan Rasul-Nya menyebutkan shalat secara khusus dengan penekanan waktu diantara sekian banyak tuntutan kewajiban seorang muslim.

Maka, dari itu seorang muslim yang taat, pasti orang yang selalu memperhatikan waktu dalam hidupnya. Disiplin terhadap waktu adalah modal sekaligus keuntungan bagi siapa saja.

Orang dahulu mengibaratkan waktu dengan beragam yang berkaitan erat dengan kehidupan kita. Pertama, waktu itu seperti pedang.

Jika engkau tidak mematahkannya, maka ia akan mematahkanmu. Kedua, jiwamu jika tidak engkau sibukkan dengan kebaikan, niscaya ia akan disibukkan dengan kebathilan.

Hasan al Bashri Rahimahullah mengatakan, “aku pernah pernah bertemu dengan sekelompok orang yang mereka sangat kikir dengan waktu mereka, ketimbang dengan harta dan uang mereka” (Ajzu Tsiqaat, DR. Muhammad bin Hasan bin Aaqil, 25.).

Jadi, kita harus menggunakan waktu dengan baik. Misalnya, membuat target tilawah Al Quran perhari, target shalat berjamaah di masjid, target membaca buku dan lain sebagainya.

Jika tidak disibukkan dengan hal semacam itu, maka kita akan "terbunuh" oleh waktu luang yang kita miliki. Bahkan, seharusnya hari yang kita miliki kurang karena banyaknya agenda kebaikan yang sudah kita jadwalkan.

Ada ungkapan berkesan dan perlu menjadi pegangan dari tokoh pembaharu Mesir Hasan al-Banna, Rahimahullah, “Al waajibaat aktsaru minal awqaat”. Bahwa, kewajiban itu lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia.

*)Penulis adalah mahasiswa dan penerima program  beasiswa STEI SEBI Depok

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.