News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

SAR Hidayatullah Bersama BMH Terus Bergerak Pasca Gempa Halmahera Selatan

SAR Hidayatullah Bersama BMH Terus Bergerak Pasca Gempa Halmahera Selatan

HALMASEL - Menyusul dikeluarkannya status tanggap darurat selama sepekan yang akan berakhir pada Sabtu (27/7/2019) mendatang, tim relawan SAR Hidayatullah bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) terus bergerak dengan melakukan beragam aksi kemanusiaan pasca gempa melanda Halmahera Selatan.

Pasca berakhirnya tanggap darurat tahap pertama, tim relawan membuka Posko II di Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan. Relawan tiba di Dowora setelah menempuh perjalanan laut 7 Jam dari Posko I di Saketa.

"Tiba di Dowora kami langung melakukan pendataan dan pemetaan khususnya pada titik titik yang terdampak gempa di Desa Dowora. Umumnya penduduk Dowora adalah suku Bajo yang 98 persen adalah nelayan," kata Komandan Posko (Danposko) II Dowora Gabungan SAR Hidayatullah-BMH, Murdiyanto, dalam keterangannya kepada media ini, Rabu (24/7/2019).

Usia melakukan pemetaan wilayah, relawan dibantu dengan masyarakat melakukan distribusi bantuan sekaligus mrngambil air untuk kebutuhan konsumsi di Dusun Bokisili, Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan.

"Dusun Bokisili berlokasi cukup jauh dari Dowora. Perjalanan ke desa ini menggunakan perahu melewati empat pulau kecil dengan menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam," kata Murdianto.

Selain mendistribusikan bantuan masyarakat melalui BMH, tim relawan juga melakukan trauma healing di lapangan desa Dowora yang diikuti oleh anak anak desa dengan sambutan yang sangat antusias. Tidak sedikit bapak-bapak dan mama-mama dengan menggendong anak kecilnya yang turut mengikuti kegiatan trauma healing ini.

Murdianto menyebutkan, pihaknya juga membuka dapur umum untuk mengkaver kebutuhan konsumsi bagi masyarakat dan relawan dengan menyediakan 100 paket makanan siap saji setiap hari.

Di sisi yang lain, menurut Murdianto, masih banyak masyarakat yang harus bertahan di pengungsian karena kehilangan tempat tinggal. Kondisinya cukup mengkhawatirkan karena kesehatan mereka terganggu.

Mengutip data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan, menyebutkan 844 orang pengungsi terserang penyakit. Rata-rata penyakit yang diderita pengungsi adalah ISPA dan hipertensi.

Murdianto menyebutkan, saat ini korban gempa Halmahera Selatan masih membutuhkan uluran tangan masyarakat terutama untuk keperluan di pengungsian seperti terpal, selimut, pembalut wanita, popok bayi dan juga obat-obatan.

"Kita berupaya relawan ada yang terus bertahan di sini sambil melakukan langkah rehabilitasi pasca gempa terutama memastikan anak-anak korban gempa tetap ceria dan bahagia," kata Murdianto.

Sementara itu, data BPBD Halmahera Selatan hingga Senin, 22 Juli 2019 mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 10 orang. Dua di antaranya dilaporkan Senin pagi, atas nama Leonara Kastela (63) warga Desa Kuwo, Kecamatan Gane Timur Selatan, dan korban kedua adalah Yacua Ibrahim (43) warga Desa Tagea, Gane Timur Tengah.

Selain itu, terdapat 2.473 rumah rusak berat yang tersebar di 7 kecamatan. Akibat bencana ini, 129 orang mengalami luka-luka dan 53.076 warga mengungsi serta 2.473 rumah warga rusak.

"Jumlah warga yang mengungsi berasal dari 73 desa di 11 kecamatan. Empat kecamatan dari Pulau Bacan dan 7 kecamatan berada di daratan Gane, Pulau Halmahera, wilayah Kabupaten Halmahera Selatan," jelas Kepala BPBD Halmahera Selatan, Jalil Efendi, seperti dikutip Liputan6.

Sedangkan, jumlah kerusakan rumah di 73 desa yang ada di 11 kecamatan berada di wilayah Gane Timur Selatan sebanyak 116 unit rumah, Gane Barat Selatan 542 unit rumah, Kepulauan Jorongan 287 unit rumah, Gane Barat 203 unit rumah, Bacan Timur 287 unit rumah, Bacan Timur Tengah 72 unit rumah, dan Bacan Timur Selatan 8 unit rumah.[]

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.