News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Telaah Maqashid Syariah dan Ejawantahnya di Era Kontemporer

Telaah Maqashid Syariah dan Ejawantahnya di Era Kontemporer

Gambar ilustrasi oleh Steve Buissinne dari Pixabay
PADA prinsipnya, kebaikan (mashlahat) segala hal di dunia dan keburukannya (mafsadahnya) bisa diketahui dengan akal pikiran manusia. Contohnya, misalnya, pengharaman dalam bertato. Dalam Islam, merajah tubuh tak boleh karena sama saja kita merubah ciptaan-Nya yang asli.

Selain itu, tato juga diharamkan karena najis. Mengapa najis? Karena bercampur dengan darah, suatu zat yang najis. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa tato dilarang karena nantinya air wudhu tidak akan masuk ke sela dan lipatan kulit. Saya setuju dengan pendapat ini, tapi ini bisa saja dipatahkan oleh logika para penggemar tato.

Pertama, mereka bisa bilang “kalau memang air wudhu tidak masuk ke dalam kulit yang ditato, tapi kok keringat bisa keluar dari bagian tubuh itu? atau yang kedua, mereka akan bilang: “Kita mentato hanya bagian yang tidak terkena air wudhu, kok, seperti perut, pinggang. Jadi, tetep boleh dong pakai tato?”. Nah, pinter kan pertanyaan mereka.

Jadi secara logika, alasan yang paling tepat adalah bahwa dimanapun letaknya di bagian tubuh kita, tato itu adalah najis karena adanya percampuran antara tinta dan darah yang ada didalam tubuh, dan itu menyebabkan ibadah kita seperti shalat tidak akan diterima karena jelas bahwa darah adalah najis.

Shalat tidak akan sah karena adanya dzat najis (darah) yang melekat di dalam tubuh, dimanapun letaknya.

Nah, inilah contoh dari kemaslahatan yang ada saja kemafsadahan yang dibalas secara logika. Maka dari itu, dalam mempelajarinya kita harus paham betul sisi mashlahat dan mafsadahnya.

Karena itulah maqashid syariah sebagai landasan etika hukum Islam dalam perkembangannya dewasa ini perlu pengejawantahan yang lebih transformatif di tengah perkembangan zaman kontemporer.

Ulama imam ahlussunnah dari mazhab Maliki Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi Asy-Syathibi atau karib dengan nama Asy-Syathibi menyebutkan beberapa hal mendasar yang perlu dipahami untuk mengenali maqashid syariah, yaitu:

Pertama, menurut beliau, perlunya memahami maqashid syariah sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan Al-Hadist menggunakan bahasa Arab karena nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadis menggunakan bahasa arab.

Kedua, kita musti memahami perintah dan larangan (Al-Awamir wa an-nawahi) Allah SWT karena di balik perintah atau larangan terkandung maksud dan tujuan.

Jadi, yang lurus dalam beramar ma’ruf akan selalu berusaha untuk menampakan sikap lembut dan menggunakan ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang baik, nasihat yang bijak dimanapun dan kapanpun.

Asy-Syathibi menjelaskan 2 bentuk perintah dan larangan yaitu, pertama, Ibtidaan (sejak awal) seperti larangan jual beli ketika shalat Jum’at sebagaimana dijelaskan dalam surat (Al-Jumuah) ayat 9. Kedua, Tashriri, yaitu perintah dan larangan yang bias dipahami jelas maknanya, seperti pesan perintah dari kaidah ushul: “Sesuatu yang menjadi wajib karena hal tertentu, maka hal tertentu tersebut menjadi wajib juga”.

Hal ketiga mendasar lainnya yang perlu dipahami untuk mengenali maqashid syariah, masih menurut Asy-Syathibi, adalah mengetahui dugaan yang kuat yang menjadi alasan penetapan suatu ketentuan syar’I untuk menjadikan kemashlahatan bagi manusia (illat).

Keempat, maqashid ashliyah dan maqashid taba’iyah (maqashid inti dan maqashid pelengkap). Maqashid ashliyah adalah berhubungan dengan kemashlahatan umum, tidak berkaitan dengan situasi, kondisi, tempat dan waktu atau semua aktivitas menjadi ibadah sifatnya universal dan berlaku sepanjang zaman.

Maka mengaitu dengan hal itu, dalam hal ibadah tujuan dari shalat (berserah diri), puasa (ibadah, menjalankan perintah), zakat (mensucikan harta), haji (menyempurnakan agama). Dalam muamalah berarti mendorong manusia untuk bekerja keras mencari rezeki sedangkan dalam munakahat berarti memelihara nasab dan harga diri seseorang.

Lalu ada Maqashid at-tabaiyah: obat dari maqashid ashliyah. Dalam hal shalat (mencegah perbuatan keji dan munkar beristirahat dari kejenuhan dan kesibukan dunia), puasa (mencegah kemungkinan-kemungkinan tipu daya setan membantu membentengi diri ketika dalam keadaan sendiri), zakat (perkembangan masyarakat dalam bidang perdagangan, perindustrian, hingga ekonomi kuat, memenuhi kebutuhan orang yang tidak mampu), haji (meningkatkan sektor perekonomian). Dalam munahafakat berarti tujuan asli memelihara keturunan dan Allah menurunkannya karena kudrat dalam diri manusia

Kelima, ada kaidah Sukut syar’I, bahwa Allah SWT tidak menjelaskan hukum tertentu khususnya dalam masalah ibadah, misalnya ketika Allah menjelaskan tata cara ibadah tertentu. Maka selebihnya adalah bid’ah dan itu salah satu maqashidnya.

Kemudian, kaidah istiqro, yakni meneliti hukum dalam masalah furu' (masalah-masalah detail hukum)) untuk menemukan satu maqashad (tujuan) dan illat yang menjadi titik persamaan seperti kulliyatu al-khomasah (lima hajat manusia) yang dihasilkan dari istiqro.

Dan, yang ketujuh atau terakhir, menurut Asy-Syathibi, ada kaidah masalik at-ta’lil (cara mengetahui illat) yaitu dengan menggunakan ijma’ (kesepakatan), nash (Al-Quran dan As-Sunah), tanbih (wasiat bagaimana caranya menerapkan ajaran Islam secara kaffah dan patuhi aturan) dan munasabah.

Terkhusus tanbih dan munasabah itu biasanya digunakan untuk mengungkapkan maqashid juz’iyyah (maqashid khusus) dan bukan maqashid ‘ammah (maqashid umum).

Demikianlah luasnya bentangan ajaran Islam sebagai marwah kebenaran, jalan keselamatan, penyebar kemaslahatan dan muatan ajarannya yang penuh dengan koridor sebagai pedoman hidup sepanjang masa.

______
WULAN PURNAMA, penulis adalah mahasiswi dan juga peserta program penerima beasiswa STEI SEBI Depok

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.