Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pilkada Bontang 2020, Muhammad Aswar dan Tren Kolaborasi Milenial

Rabu, 29 Januari 2020 | 00:12 WIB Last Updated 2020-01-29T22:34:47Z
TAK terasa, tahapan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Pilkada mulai bergulir. Pilkada serentak pada 23 September 2020 mendatang memang mulai memantik riuh sejak awal tahun 2020 ini. Berbagai kabupaten/ kota beradu kencang mencuri perhatian, tak terkecuali kota Bontang.

Peta pertarungan kontestasi masih terlihat adem-ayem, kendati mulai muncul diskursus tentang sejumlah opsi, termasuk diantaranya kemungkinan terbentuknya poros tengah yang akan membuat perjalanan pesta ini semakin menarik.

Neni memang masih terus mengintip, membaca dan menerka-nerka siapa yang akan menjadi wakilnya. Sebab, dia sadar betul, jika salah berjodoh, ia bisa saja keok. Walaupun, secara elektoral dia paling aduhai dari nama-nama lainnya.

Di tengah hirup pikuk itu, langkah mengejutkan justru diambil seorang putra daerah yang tumbuh dan datang dari pinggiran sungai Santan. Muhammad Aswar, anak yang ditempa di perkampungan Kampung Masigi, Santan Tengah.

Dialah calon termuda dari sejumlah nama yang telah menyatakan diri siap bersanding dengan Neni di pesta pelaminan demokrasi serentak pada September mendatang.

Aswar mantap mengikuti konvensi yang digelar Partai Golkar Bontang yang sedang memetakan calon wakil Neni yang popularitasnya paling moncer menurut suvei terakhir. Meskipun tidak sedikit pihak menilai Aswar sebenarnya berkapasitas maju menjadi penantang petahana.

Dengan mengusung tagline "Milenial Religius", Aswar  menawarkan beragam program khususnya bidang kewirausahaan dan kepemudaan agar anak-anak muda generasi milenial turut bergerak bersama membangun kotanya.

Sebagai figur muda yang selama ini cukup diunggulkan dan popularitas serta perhatiannya menyorot berbagai permasalahan di kota taman, profil Aswar memang sudah tak asing di kalangan milenial Bontang.

Ikhtiar Aswar untuk maju dalam kancah politik ini ditegaskannya bukan ikut-ikutan namun karena pertimbangan matang terutama dengan adanya dorongan banyak pihak.

Aswar diharapkan dapat memenuhi harapan generasi milenial serta kaum ibu yang mengharapkan dirinya dapat meluaskan kiprah lebih luas khususnya bagi masyarakat Bontang.

Kontestasi kali ini bukanlah ajang baru bagi Ketua HIPMI Bontang ini. Aswar sendiri merupakan salah satu inisiator pembentukan pengurus Partai Pemuda Indonesia (PPI) Kota Bontang  dan menjadi salah satu caleg yang ikut bertarung pada Pemilu 2009.

Terbosan Aswar untuk terjun dalam kontestasi ini sudah bulat dan dengan keyakinan yang teguh. Apalagi majunya dia diberangi dengan tren baru generasi milenial saat ini yang menikmati kerja-kerja inovasi dan kolaborasi.

Maka, tak heran, nyaris semua relawannya adalah anak-anak muda yang bekerja sukarela yang tetap riang berkolaborasi dengan generasi yang lebih tua. Mereka bergerak bersama, melakukan terobosan, berinisiatif dan mengeksekusi dengan irama yang selaras.

"Politik itu santai. Kami mengusung semangat inovasi dan kolaborasi, beginilah gaya milenial," kata Aswar dalam obrolan dengan media ini usai menggelar bincang terbuka bersama warga di Taman Adipura Bontang, beberapa waktu lalu.

Terbukti, banyak warga yang pada awalnya hanya berkunjung di taman tersebut kemudian ikut nimbrung menjadi audiens. Mereka pun dengan bebasnya berdiskusi dan bertanya termasuk memberikan berbagai masukan penting kepadanya.

"Begitulah semestinya edukasi politik yang tidak mesti harus di ruang tertutup dan diakhir dialog kita pun makan mie ayam yang enak itu," kata anak muda murah senyum ini sambil tersenyum.

Gaya komunikasi politik Aswar di tengah-tengah masyarakat Bontang ini berhasil membetot perhatian. Apalagi, gesturnya tersebut bukanlah hal baru, melainkan sebuah habit otentik yang telah sejak lama melekat dalam kepribadian Aswar yang gemar blusukan dan selalu tampil apa adanya.

Tentu saja jalan Aswar ke depan terbuka lebar, namun bukan berarti tanpa hambatan. Dia petarung berkualitas dan berintegritas, walaupun di satu sisi "tas" seringkali masih lebih dianggap sebagai modal utama di tengah hiruk-pikuk politik yang transaksional.

Namun di sisi yang lain, lanskap politik kita pelan tapi pasti semakin rasional dan menghadirkan nafas yang lebih konstruktif, terutama oleh kesadaran generasi muda terhadap masa depan mereka.

"Saatnya milenial bergerak. Masa depan adalah milik kita, sehingga kita perlu merancangnya dari sekarang agar kita bisa melayani generasi kita dan generasi setelah kita," tukas Aswar yang konsisten berada di jalur pembinaan anak muda ini.

Kini kita tinggal menunggu keputusan politik yang akan menambah bianglala pesta demokrasi serentak ini. Peta kongsi sudah mulai terlihat. Sederet nama seperti Basri Rase, Adi Darma, Isro Umargani dan sejumlah petinggi parpol semakin sering diperbincangkan.

Masa pendaftaran memang baru dimulai pada 16 Juni nanti, rentang waku menuju ke sana agaknya akan menyita fokus Neni Moerniaeni. Pilihannya harus benar-benar solutif.

Bukan saja soal lawan tak ringan yang akan dihadapi, Neni juga bertaruh dengan integritasnya yang harus mampu menepikan stigma negatif soal dinasti politik yang kerap dialamatkan padanya.

×