News Breaking
NNTV
wb_sunny

Breaking News

Profil Muhammad Aswar, Calon Pemimpin Muda Kota Bontang

Profil Muhammad Aswar, Calon Pemimpin Muda Kota Bontang

MENGAWALI tahun 2020, Muhammad Aswar mengambil langkah cepat. Dialah calon termuda dari sejumlah nama yang telah menyatakan diri siap bersanding dengan sang petahana, dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp. OG, di pesta pelaminan demokrasi serentak pada September mendatang.

Dengan mengusung tagline "Milenial Religius", Aswar  menawarkan beragam program khususnya bidang kewirausahaan dan kepemudaan agar anak-anak muda generasi milenial turut bergerak bersama membangun kotanya.

Sebagai figur muda yang selama ini cukup diunggulkan dan popularitas serta perhatiannya menyorot berbagai permasalahan di kota taman, profil Aswar memang sudah tak asing di kalangan milenial Bontang.

Aswar adalah kombinasi aktifis, milenial, akademis, pengusaha, dan ustadz. Yuk mari kenal lebih dekat dengan pemuda yang akfit bergiat di bidang pendidikan dan pemberdayaan generasi muda ini.

Anak Pesantren

Anak kedua dari pasangan Haji Abd Kadir dan Hj Saodah ini lahir bertepatan tanggal 1 Januari 1982. Aswar kecil adalah anak periang. Sejak di bangku Sekolah Dasar, Aswar termasuk anak yang memiliki bakat menonjol di antara sahabat-sahabatnya.

Setelah tamat di sekolah dasar selanjutnya Aswar disekolahkan di Pondok Pesantren Ma’had Hadits Biru Watampone, Kabupaten Bone, Sulsel, selama 6 tahun.

Di tahun ketiga Aswar sudah dipercaya menjadi muballigh dan dikirim ke pelosok untuk berceramah utamanya saat bulan Ramadhan. Aswar menghabiskan Waktunya selama sebulan bersama masyarakat yang umumnya berprofesi sebagai petani.

Jiwa kepemimpinananya mulai terlihat saat Aswar dipercaya sebagai ketua asrama di pondoknya hingga menjadi pengurus OSIS dan ketua Gugus Depan Pramuka.

Berkat posisi tersebut Aswar sangat dekat dengan pengasuh pondok yang menjadi rekan diskusinya. Sehingga tidak heran saat tamat disekolah Madrasah Aliyah Aswar sudah memiliki cara pandang yang luas dan ditawari menjadi pembina santri.

Setelah menempuh pendidikan agama di pondok pesantren, selanjutnya Aswar melanjutkan pendidikannya di Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda.

Di kampus ini Aswar mulai menjadi penggerak di beberapa organisasi mulai dari menjadi pengurus BEM, ikut pengkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga mendirikan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang ia namai Central Studi Islam Mahasiswa (CESIMA).

Selain organisasi kampus, Aswar juga aktif dibeberapa Eksta Kampus diantaranya bergabung dalam Kesatuan Pelajar dan Mahasiswa Bontang dan berbagai organisasi pergerakan lainnya.

Aktifis

Berkat kepiawainya dalam beroganisasi, Aswar kerap dipercara menjadi pengurus, memimpin beberapa organisasi mulai dari menjadi Ketua Kabid Kerohanian di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum, menjadi presiden mahasiswa, Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa (HMI) Komisariat Fakultas Hukum.

Ia juga pernah menjadi Kabid PTKP HMI Cabang Samarinda dan yang cukup istimewa, Aswar selanjutnya dipercaya menjadi Ketua Umum Kerukunan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Bontang (KAPASISBON) yang bermarkas di asrama mahasiswa Bontang.

Selain besar di beberapa organisasi Aswar juga telah mendirikan sejumlah organisasi diantaranya Lembaga Dakwah Kampus Centra Studi Islam Masiswa UWIGAMA dan pendiri Kesatuan Pelajar dan Mahasiswa Santan (KEPMA) yang ia dirikan bersama sejumlah koleganya saat itu menjelang studinya di UWIGAMA berakhir.

Selain cakap berdialektika dalam berbagai forum akademik di ruang-ruang kampus, Aswar juga dikenal acapkali turun memimpin aksi demontrasi mengkritisi kebijakan yang bersinggungan dengan hajat hidup orang banyak.

Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum jurusan Ilmu Hukum, Aswar mengambil judul skripsi (karya ilmiah) Penerapan Undang-undang 31 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi di Kota Bontang, dan berkat ketekunannya Aswar dapat menyelesaikan studinya dengan hasil memuaskan.

Karya tulisnya tersebut juga menjadi penanda perhatian Aswar terhadap masalah tatanan sosial kota dan fokusnya di bidang pengembangan sumber daya manusia yang berintegritas.

Selain itu, Aswar ternyata punya jiwa seni tinggi. Terbukti beberapa kali ia mengikuti dan memenangkan kejuaraan seni lukis kaligrafi. Di rumahnya sangat banyak hasil karya lukisnya. Ia juga wartawan di media lokal. Kariernya di dunia jurnalistik dimulai sejak sebulan setelah menjadi sarjana, dengan bergabung di PKTv.

Sebagai seorang jurnalis, Aswar sangat paham kondisi umum daerah Bontang dan sekitarnya. Apalagu hampir semua titik di kota ini sudah disambanginya. Beberapa tokoh penting negeri ini pun sudah ditemuinya.

Pada segmen politik yang dibawanya di PKTv, Aswar kerap kali melemparkan pertanyaan pertanyaan “nendang” narasumbernya yang memang kebanyakan adalah dari politisi. Dengan capaian dan kepiawaiannya tersebut, beberapa TV swasta nasional menawarinya menjadi kontributor daerah.

Terjun ke lapangan dan bertemu langsung dengan narasumber menjadi rutinitas setiap harinya mulai dari bertemu dengan masyarakat di level tingkat bawah hingga pejabat sekalipun, hingga di awal tahun 2008 Aswar dipercaya menjadi salah satu wartawan yang meliput langsung kegiatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kapal perang KRI dr. Soeharso diperairan Kutai timur.

Pengalaman Aswar di dunia jurnalistik tidak diragukan. Sebelum memilih menjadi calon anggota legislatif dari Partai Pemuda Indonesia (PPI) tahun 2009, Aswar dipercaya menjadi Redaktur Eksekutif dan Koordinator Divisi pemberitaan di PKTv.

Selain bekerja sebagai pemburu berita Aswar juga dipercaya menjadi presenter beberapa program dialog diantaranya program dialog Halo Kota, Polisi Hukum, Bontang Dialog dan Kedai Aspirasi.

Peduli Generasi Muda

Di tengah kesibukannya sebagai kuli tinta, Aswar masih menyempatkan diri mengajar sekolah Madrasah Aliyah As'adiyah di Santan Tengah, Marangkayu, yang juga merupakan tempat kelahirannya. Kala ia harus berjuang menempuh medan jalan yang berlumpur.

Aswar dikenal dengan kepeduliannya pada pendidikan dan kesejahteraan sehingga pada saat itu bersama Tim 11 Azwar mengupayakan agar Santan bisa bergabung dengan kota Bontang sehingga pemerataan pembangunan di era otonomi ini bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Alumnus SDN 001 Santan Tengah ini kemudian mengakhiri masa lajangnya ditahun 2007 yang lalu dengan mempersunting Fitriyani Alwi, dan saat ini sudah dikarunia 3 anak.

Di usianya yang relatif muda, Aswar termasuk pemuda yang berani mengambil tantangan dan mendirikan usaha yang bergerak di dunia pendidikan yaitu Lembaga pendidikan & kursus LPK Global yang bermarkas di KM 6. Keberadaan lembaga kursusnya tersebut turut menopang capaian Kota Bontang yang berhasil masuk 10 besar sebagai Kota Cerdas oleh Rating Kota Cerdas Indonesia (RKCI) ITB pada 2019.

Ikhtiar Aswar untuk maju dalam kancah politik bukan ikut-ikutan namun karena pertimbangan matang terutama dengan adanya dorongan banyak pihak. Aswar diharapkan dapat memenuhi harapan generasi milenial serta kaum ibu yang mengharapkan dirinya dapat meluaskan kiprah lebih luas khususnya bagi masyarakat Bontang.

Kontestasi kali ini bukanlah ajang baru bagi Ketua HIPMI Bontang ini. Aswar sendiri merupakan salah satu inisiator pembentukan pengurus Partai Pemuda Indonesia (PPI) Kota Bontang  dan menjadi salah satu caleg yang ikut bertarung pada Pemilu 2009.

Terbosan Aswar untuk terjun dalam kontestasi ini sudah bulat dan mantap. Apalagi majunya dia diberangi dengan tren baru generasi milenial saat ini yang menikmati kerja-kerja inovasi dan kolaborasi.

Maka, tak heran, nyaris semua relawannya adalah anak-anak muda yang bekerja sukarela yang tetap dengan riang bisa berkolaborasi dengan generais yang lebih tua. Mereka bergerak bersama, melakukan terobosan, berinisiatif dan mengeksekusi dengan irama yang selaras.

"Politik itu santai. Kami mengusung semangat inovasi dan kolaborasi, beginilah gaya milenial," kata Aswar dalam obrolan dengan media ini usai menggelar bincang terbuka bersama warga di Taman Adipura Bontang, beberapa waktu lalu.

Terbukti, banyak warga yang pada awalnya hanya berkunjung di taman tersebut kemudian ikut nimbrung menjadi audiens. Mereka pun dengan bebasnya berdiskusi dan bertanya termasuk memberikan berbagai masukan penting kepadanya.

"Begitulah semestinya edukasi politik yang tidak mesti harus di ruang tertutup dan diakhir dialog kita pun makan mie ayam yang enak itu," kata anak muda murah senyum ini.

Gaya komunikasi politik Aswar di tengah-tengah masyarakat Bontang ini berhasil membetot perhatian. Apalagi, gesturnya tersebut bukanlah hal baru, melainkan sebuah habit otentik yang telah sejak lama melekat dalam kepribadian Aswar yang gemar blusukan dan selalu tampil apa adanya.

Tentu saja jalan Aswar ke depan terbuka lebar, namun bukan berarti tanpa hambatan. Dia petarung berkualitas dan berintegritas, walaupun di satu sisi "tas" seringkali masih lebih dianggap sebagai modal utama di tengah hiruk-pikuk politik yang transaksional.

Namun di sisi yang lain, lanskap politik kita pelan tapi pasti semakin rasional dan menghadirkan nafas yang lebih konstruktif, terutama oleh kesadaran generasi muda terhadap masa depan mereka.

"Saatnya milenial bergerak. Masa depan adalah milik kita, sehingga kita perlu merancangnya dari sekarang agar kita bisa melayani generasi kita dan generasi setelah kita," tukas Aswar yang konsisten berada di jalur pembinaan anak muda ini.

Tags

Newsletter Signup

Jadilah yang pertama mendapatkan update berita terbaru nasional news langsung di email Anda.