Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Takdir Cinta - Cerita Pendek oleh Ayu Adia

Sabtu, 01 Februari 2020 | 09:44 WIB Last Updated 2020-02-03T03:18:47Z
SENJA hari itu begitu berbeda. Rintik hujan yang turun tak henti-hentinya membasahi bumi Allah. Begitu juga masa lalu yang kembali datang bersama tetesan hujan yang jatuh.

Saat itu seorang gadis berjilbab ungu tengah menunggu hujan reda di halte kampus. Lalu seorang pemuda datang dan ikut berteduh di halte tersebut. Gadis itu melirik dari sudut matanya, pemuda itu sibuk merapikan pakaiannya yang basah.

"Permisi, numpang berteduh," ucapnya.

"Iya, Kak," jawab gadis itu dengan menunduk malu.

Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pemuda ini lagi. Setelah sekian lama dia tidak menampakkan dirinya.

"Lagi nunggu bus juga?"
"Enggak, Kak Faiz. Shafa lagi nunggu teman."
"Oh ...."

Suasana kembali hening. Jantung gadis itu berdetak kencang. Setelah bertahun-tahun, ternyata rasa itu masih ada. Sosok yang sangat dikaguminya sekarang ada di sebelahnya.

Ya, dia adalah Faiz Ar-Rasyid. Lelaki shalih yang ia sukai sejak lama. Pemuda yang pernah ia nyatakan perasaannya dan berakhir dengan dia yang menjauhinya.

"Sekarang kamu semester berapa?" Tiba-tiba Faiz bersuara membuyarkan lamunan gadis itu.

"Semester 7, Kak."
"Oh, sebentar lagi."

Shafa hanya tersenyum dan tidak menanggapi.

"Mau lanjut S2?"
"Belum tau, Kak," jawab Shafa kikuk.

Dia memang belum berpikir untuk lanjut S2, karena baginya saat ini bisa menyelesaikan skripsinya dan lulus tepat waktu saja sudah bersyukur.

"Mau lanjut S3 bareng saya?"
"Hah?!"

Apa Shafa tidak salah dengar, dia saja belum terpikirkan untuk lanjut S2 apalagi S3. S3 dengannya? Shafa tidak mengerti ada apa dengan pria ini, dulu dia begitu menghindari dan menjaga jarak darinya. Lalu mengapa sekarang dia berubah.

***

"Fa, tadi aku lihat Kak Faiz di kampus"

Shafa yang baru saja tiba di indekosnya langsung mendengar celotehan temannya itu.

"Iya Ra, tadi aku juga ketemu dia."
"Terus gimana?" Zahra bertanya dengan raut penasaran.

"Hah? Apanya yang gimana?" Shafa bingung dengan pertanyaan yang diucapkan sahabatnya tersebut.

"Hati kamu gimana, apakah masih sama?"

Zahra bukan sekadar sahabat, dia sudah seperti saudara bagi Shafa. Karena itu dia juga mengetahui perasaannya terhadap Kak Faiz. Dia yang membantu Shafa menata hatinya dan membantunya memperbaiki diri menjadi sosok muslimah yang lebih baik lagi.

Dulu Shafa tidak seperti ini. Saat itu dia belum berhijrah, belum berhijab syar'i dan tidak paham agama. Penolakan itulah yang membuatnya sadar bahwa cinta yang benar adalah cinta yang berada di jalan-Nya. Cinta yang di ridhoi-Nya. Apalagi dia adalah pria baik-baik. Bukankah perempuan baik untuk lelaki baik begitu pun sebaliknya.

Tapi dengan berani dia menyatakan perasaannya terhadap seniornya tersebut. Lelaki shaleh yang ditembaknya, sudah pasti dia tidak mau berpacaran, jangankan berpacaran berdekatan dengan lawan jenis saja tidak akan mau. Karena itulah pria itu pergi dan menjauhi Shafa.

"Aku gak tahu, Ra" Shafa hanya menjawab lesu.

Karena pria yang berusaha ia lupakan selama ini ternyata masih ada di hatinya. Bahkan dia mengajak S3 dengannya. Bagaimana hatinya tidak goyah? Lalu sia-siakah usahanya? Karena nyatanya perasaan itu masih ada. Perasaan yang salah karena mencintai seseorang yang tidak halal baginya.

"Shafa, aku tahu melupakan seseorang itu memang gak mudah. Apalagi kalo dia adalah orang yang berarti buat kamu. Tapi kamu juga tidak bisa berharap dengannya terus, bukan? Jodoh gak mungkin tertukar, Fa. Mungkin Allah udah menyiapkan yang terbaik buat kamu."

Zahra yang sangat tahu perasaan sahabatnya itu hanya ingin mengingatkan akan kecintaannya yang berlebihan terhadap seorang Faiz Ar-Rasyid. Lelaki yang selalu ia lantunkan doanya. Zahra tentu tidak mau Shafa hanya terfokus padanya saja.

***

"Sekarang usia Shafa berapa?"

Tiba-tiba Ustadzah Nur—guru ngaji Shafa bertanya. Shafa yang baru selesai mengaji diajak mengobrol dengan ustadzahnya tersebut.

"Dua puluh satu, Ustadzah."
"Alhamdulillah, mestinya sudah siap, ya?"
"Siap apa, ya, Ustadzah?" Shafa bertanya bingung.

"Siap untuk menikah?"

Shafa semakin bingung. Entah ada apa hingga ustadzahnya itu bertanya perihal pernikahan padanya.

"Emm ... memangnya kenapa, ya, Ustadzah?" Shafa bertanya dengan ragu.
"Jadi begini, ada seorang ikhwan yang sedang mencari istri. In syaa Allah dia orang baik dan shaleh"

Shafa terkejut mendengar penuturan ustadzahnya. Sepertinya pembicaraan ini mengarah ke hal yang serius.

"Tapi ... kenapa saya, Ustadzah? Saya, Alhamdulillah dapat ikhwan yang baik dan shaleh, tapi bagaimana dengannya, apa dia nggak apa-apa sama saya?" menurutnya Shafa masih jauh dari kata shalehah, terlebih lagi hatinya masih terpaut pada lelaki itu.

"Ikhwan ini sepertinya dia mengenalmu. Dia mencari perempuan yang mau diajak membina rumah tangga di jalan Allah. Dan menurut saya kamu semakin hari semakin lebih baik. Saya yakin dia tidak sembarangan memilih kamu."

Shafa hanya diam. Mungkinkah ini takdir yang dituliskan untuknya. Bahwa Kak Faiz bukanlah jodohnya yang ditunggu. Lalu apakah dia harus menerima ta'aruf ini dan mencoba melupakannya?

"Bagaimana Shafa?"
"Bismillah .... Saya shalat istikharah dulu kalau begitu, Ustadzah."
"Alhamdulillah ...." Ustadzah Nur tersenyum dengan lembut.

***

"Siap, ya, Fa?" Ustadzah Nur memperhatikan wajah Shafa yang terlihat tegang.
"Bismillah, Shafa, aku doakan yang terbaik buat kamu," ucap Zahra sahabatnya.

"Makasih, Ra"
"Ayo, Shafa!"

Ustadzah Nur membawa Shafa menuju sebuah tempat di mana ada seorang pemuda yang sedang duduk dengan seorang ustadz yang tidak lain adalah suami Ustadzah Nur.

"Assalamu'alaikum" Ustadzah Nur dan Shafa menangkupkan kedua tangannya lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan pemuda tersebut.

Setelah selesai melantunkan doa dan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, Ustadz Zaki pun memulai percakapan.

"Nak Shafa, coba diangkat wajahnya. Lihat ikhwan yang akan mengkhitbahmu."

Shafa yang sejak tadi menunduk karena malu mulai berani mengangkat wajahnya untuk melihat siapakah ikhwan yang akan berkenalan dengannya.

Ma syaa Allah.

Betapa terkejutnya Shafa saat dia mengetahui siapakah pria yang ada dihadapannya. Pria yang sedang berta'aruf dengannya. Seseorang yang tidak pernah terbayangkan olehnya.

"Assalamu'alaikum, Ukhti"

Allahu Akbar!

Suara itu. Batin Shafa bergetar. Suara yang sangat ia kenali. Dia ingin menangis sekarang juga. Penglihatannya tidak salah, kan? Dia adalah  orang yang namanya selalu terucap dalam doanya.

Betapa Allah Maha Besar. Betapa doa-doanya bukan hanya angin yang berlalu. Allah Maha Mendengar. Shafa paham betul.

Jadi, inikah takdirnya? Inikah takdir cintanya? Takdir yang sudah dituliskan untuknya. Takdir yang tidak pernah ia sangka-sangka. Di saat ia memutuskan untuk menjauh dan melupakannya, tetapi Allah mendekatkannya dengan cara yang tidak terduga.

Memang segala ketentuannya itulah yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Jika kita mencintai seseorang, selalu libatkan Allah di dalamnya, jadikan cinta itu cinta yang benar-benar diridhai-Nya. Jadikan cinta itu sesuatu yang dibuktikan dengan akad bukan dengan nafsu yang membuat tersesat. Karena yang baik untuk yang baik, itulah janji-Nya.

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)." (Qs. An-Nur : 26).
Artikel karya Ayu Adia ini diterbitkan atas kerjasama Nasional.news dengan komunitas Super Youth Idealism (SYI) Literasi. Ingin bekerjasama publikasi dengan kami, kli di sini.
×