Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Dosen UGM Berbagi Kiat Hadapi Penyebaran Hoax Seputar Covid-19

Selasa, 24 Maret 2020 | 00:00 WIB Last Updated 2020-03-24T03:07:17Z
YOGYAKARTA - Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Abdul Gaffar Karim, menyoroti maraknya sebaran berita palsu atau hoax seputar Novel Coronavirus (COVID-19).

Gaffar menilai banyak buzzer dan media abal-abal yang memanen keuntungan secara tidak etis dari kegemaran kita pada hoax.

"Karena itu, semua kiat yang berlaku untuk menangkal hoax pilpres 2019 berlaku pula untuk menangkal hoax Covid-19," kata Gaffar dalam status akun Facebook miliknya, Senin (23//3/2020).

Gaffar yang pernah memimpin Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM melakukan riset soal kabar bohong penyelenggaraan Pilkada serentak 2020 ini pun berbagi kiat dalam menghadapi masalah yang tak kalah pandemik dengan Covid-19 ini.

Kiat pertama, kata Gaffar, adalah menyeleksi informasi. Dia mewanti-wanti agar tidak semua informasi yang masuk ke medsos dibaca habis dan tidak membiarkan diri hanyut banjir informasi.

"Grup-grup WA atau Line biasanya lebih banyak NOISE ketimbang VOICE. Skip saja kabar tentang Covid-19 di grup-grup itu, kecuali kalau yang posting adalah dokter atau otoritas di bidang penanganan wabah/bencana," tulisnya.

Tips kedua, adalah melakukan verifikasi pada setiap informasi yang diterima. Kalaupun tak sengaja membaca informasi yang nampak bombastis, dia menyarankan agar segera diabaikan. Kalau masih mengganggu pikiran, cari sumber lain yang lebih otoritatif untuk membuktikan kebenaran kabar itu.

"Percayai ahlinya, jangan percayai orang awam yang FOMO dan KEPO. Jangan percayai penceramah agama yang hidupnya tergantung pada klik di Youtube," tegas Gaffar.

Bagi yang belum familiar, istilah FOMO (fear of missing out) adalah kondisi saat seseorang merasa gelisah atau khawatir tak terlihat pintar karena ‘tertinggal’ akibat tidak mengikuti aktivitas atau berita terbaru.

Adapun KEPO, adalah akronim dari Knowing Every Particular Object. Kepo acapkali disematkan pada orang yang serba mau tahu dan selalu ingin dianggap paling tahu. Akibat kritisnya, jika laku Kepo sudah berlebihan, bisa menjadikan orang menyebarkan informasi apa saja yang diteriman tanpa menyaringnya.

Dalam membendung berita bohong terutama seputar Covid-19, Gaffar pun memberikan kiat ketiga, yaitu mengurung informasi dengan tidak menyebarkan informasi yang belum diseleksi dan terverifikasi.

"Menyebar informasi yang belum jelas itu sama saja dosanya meski Anda beri pengantar: "Ini benar nggak sih? kalau benar, mengerikan banget ya. Semoga cuma hoax." Kalau gatel banget mau mengirim sesuatu, mending Gofood atau Grabfood nasi padang saja ke teman, khususnya saya," kata Gaffar membagi kiat melawan hoax.

Update data terkini wabah coronavirus Covid-19 di Indonesia melalui portal pemerintah covid19.go.id pada 23 Maret 2020, diketahui telah mewabah di sebanyak 187 negara, sebanyak 294,110 kasus terkonfirmasi dan kematian 12,944 orang. Di Indonesia ada 579 yang positif, 30 yang sembuh dan 49 yang meninggal.

Pembaca juga dapat melakukan verifikasi setiap informasi seputar Covid-19 yang diterima melalui kanal Hoaks Buster di laman Covid19.go.id. Jangan lupa terus jaga kesehatan, kebugaran, lakukan pencegahan dan selanjutnya kita bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Esa.
×