Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Novel Coronavirus dan Akhir dari Tujuan Hidup Kita

Senin, 16 Maret 2020 | 00:00 WIB Last Updated 2020-03-19T13:41:45Z
Oleh Mazlis B. Mustafa

DATA jumlah kasus infeksi Novel Coronavirus (COVID-19) hingga hari Senin, 16 Maret 2020, sebagaimana yang dikumpulkan oleh John Hopkins University, total mencapai 162.687 kasus dengan sebaran sebanyak 140 negara. Dari jumlah tersebut, terdapat 6.065 kasus kematian. Sementara, 75.620 di antaranya telah dinyatakan sembuh. (dilansir dari Kompas.com)

Sedangkan data kasus (COVID-19) di Indonesia hingga hari Senin, 16 Maret 2020, sebagaimana dihimpun dari keterangan pers yang disampaikan oleh juru bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, di Kompleks Istana Negara, total sudah mencapai 134 kasus. Dari jumlah tersebut, terdapat 5 kasus kematian. Sementara, 8 orang dinyatakan sembuh.

Terus bertambahnya angka-angka kasus dan kematian, membuat masyarakat dunia was-was, waspada, ketakutan bahkan tidak sedikit yang tergolong panik. Kepanikan ini dapat dilihat dengan adanya kasus panic buying dan moral panic yang terjadi hari-hari ini.

Ditinjau dari fitrahnya, rasa waspada, ketakutan dan panic ini merupakan sikap manusiawi sebagai makhluk hidup yang memang memiliki sifat atau insting untuk bertahan hidup. Manakala, ada hal-hal yang mengancam hidupnya, maka nalurinya akan memberikan pada tubuhnya secara spontan untuk menghindari ancaman dan marabahaya yang ada di hadapannya.

Hanya saja sikap takut dan panik yang berlebihan merupakan bukti kurangnya kekuatan mengelola rasa, fikir dan zikir seorang manusia, apatahlagi kalau dia adalah seorang yang mengaku beriman kepada Pemilik Segala Ketentuan, Allah SWT.

Ditinjau dari kondisi psikis iman manusia dalam menghadapi ancaman COVID-19, manusia tergolong menjadi dua golongan. Yang pertama, waspada  dan takut mati karena urusan dunia. Yang kedua, waspada dan takut mati dari terjangkit wabah karena urusan perbekalan akhirat.

Golongan pertama, mereka yang waspada dan takut mati karena urusan dunia adalah mereka yang takut mati karena khawatir akan meninggalkan kenikmatan duniawi yang selama ini didapatkan. Harta, uang di rekening, rumah, anak dan istri, keluarga besar, mobil, asset pribadi dan perusahaan merupakan benda-benda yang sangat takut untuk dia tinggalkan.

Dia merasa akan merugi besar manakala mati, dan meninggalkan semua kemewahan dan harta yang sudah ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Terbayang baginya perjuangan yang selama ini dia tempuh untuk memiliki semua harta benda itu. Tidak rela rasanya dia mati sedangkan dirinya belum puas dan masih ingin berlama-lama menikmati hasil jeri payahnya selama ini.

Sedangkan golongan kedua, mereka yang waspada dari terjangkit wabah karena urusan perbekalan akhirat adalah mereka yang sejatinya takut kehilangan kesempatan, waktu dan usia untuk memperbanyak ibadah sebagai bekal yang akan dia persembahkan kepada Allah SWT di yaumil akhir kelak. Kekhawatirannya akan hidupnya semata-mata terfokus kepada optimalisasi mujahadahnya mempersiapkan diri menghadapi yaumil mizan (Hari Pertimbangan Amal Manusia).

Yang menjadi sentral kecemasannya adalah manakala dia sudah pergi meninggalkan dunia padahal amal yang akan ditimbang tidak lebih banyak dari dosa yang pernah dicatat oleh malaikat. Yang dia harapkan hanyalah mendapatkan catatan amal dari sebelah kanannya di hari akhirat nanti. Dia takut termasuk orang yang merugi, karena catatan amalnya diberikan dari sebelah kiri sambil menyesali perbuatannya selama di dunia yang tidak sungguh-sungguh dalam memanfaatkan waktu untuk ibadah.

Dari kedua golongan di atas, dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa walaupun rasa waspada dan takut itu sama, tapi karena landasan tujuan dan niatnya berbeda, maka berbeda pula nilai yang dia dapatkan.

Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita dalam hadits yang sangat populer: Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa ada seseorang yang ingin melamar seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Tapi, wanita itu enggan menikah dengan pria tersebut kecuali pria itu hijrah. Pria itu hijrah kemudian berhasil menikahi Ummu Qais, sehingga orang-orang pada waktu itu menyebutnya sebagai Muhajir Ummu Qais.

Hadits ini disampaikan sebagai peringatan baik untuk kisah di atas maupun dalam segala hal lainnya. Hijrah yang dilakukan karena tujuan mencari Ridho Allah dan membantu perjuangan Rasulullah SAW, maka yang ia dapatkan sesuai dengan hal yang dituju. Betapa ruginya hijrah dan hidupnya sepanjang hijrahnya jika tidak terhitung sebagai amal ibadah di sisi Allah SWT. Rugi sungguh sangat rugi.

Maka, begitu pula halnya dengan hidup. Hidup yang dianugerahkan kepada manusia haruslah semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Karena inilah tujuan hidup manusia di dunia ini.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Arti: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Tujuan hidup yang benar maka akan mengantarkan manusia ke garis finish yang benar pula yaitu surga. Sedangkan, tujuan hidup yang salah maka akan mengantarkan kita ke alamat destinasi yang salah pula, itulah neraka.

Perbaiki tujuan hidup ini semata-mata karena mencari ridho Allah SWT agar setiap hembusan nafas kita selalu dalam rangakaian pengabdian kepada Allah SWT. Terus muhasabah diri agar tujuan hidup menjadi berarti, terus mawas diri agar hidup bahagia hakiki. Wallahu ‘alam bi Ash-shawab.

___
*) MAZLIS B MUSTAFA,
Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah
×