Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Rumus Diagnosa Kesehatan Lembaga Keuangan Syariah

Kamis, 23 April 2020 | 00:32 WIB Last Updated 2020-04-23T17:33:13Z
Oleh Dudi Supriadi*

SANGAT menarik ketika membahas tentang kesehatan suatu perusahaan. Apalagi yang akan kita bahas adalah kesehatan lembaga keuangan syariah.

Sebagaimana yang kita ketahui lembaga keuangan adalah tempat menarik dan menyalurkan uang dari dan untuk masyarakat. Atau, secara lebih lengkapnya peran lembaga keuangan menurut Thamrin Abdullah dalam bukunya Lembaga Keuangan, adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana tersebut kepada peminjam untuk kemudian digunakan untuk ditanamkan pada sektor produksi atau investasi.

Dalam hal kinerja perbankan juga hal yang sangat penting yang harus diketahui oleh stakeholders, sebagaimana hal ini diatur oleh peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 13/1/PBI/2011 penilaian kesehatan bank merupakan salah satu hal yang diatur oleh Bank Indonesia yang akan berguna dalam menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dan untuk menghadapi risiko di masa yang akan datang.

Dalam menilai kinerja perusahaan termasuk lembaga keuangan ini ada beberapa rasio yang harus kita hitung beberapa di antaranya Rasio Solvabilitas, Rasio Liquiditas: Financing To Deposit Rasio, Non Performing Finance, capital Adequacy Rasio, Rentabilitas: Return On Aset, rasio menilai tingkat efisiensi bank.

Nah, penulis ingin coba mengajak pembaca untuk berkenalan dengan beberapa rasio di atas. Saya akan menjelaskan dengan sangat sederhana sekali agar dapat dipahami dengan baik, karena, menurut saya, ini merupakan rumus diagnosa untuk memahami kondisi kesehatan lembaha keuangan syariah.

Saya ingin agar pembaca memperhatikan betul poin pertama yang saya sampaikan ini karena dalam hemat saya ini penting dipahami terutama untuk mahasiswa ekonomi syariah karena ini landasan teoritisnya sebetulnya.

Pertama, dalam menentukan tingkat kesehatan perusahaan dalam hal ini lembaga keuangan ada yang namanya Rasio Liquiditas. Nah, beberapa syarat sebuah perusahaan dikatakan liquid diantaranya perusahaan mempunyai premary resrves. Namun jika tidak terpenuhi, maka harus ada secondary yang cukup untuk selajutnya diubah menjadi liquid tanpa kecurigaan yang berarti.

Terakhir, masih sekaitan dengan rumus diagnoas yang saya kemukakan di awal, bahwasanya perusahaan harus juga punya cara mendapatkan alat liquid dan salah satu caranya bisa berhutang dalam menghitung Rasio Liquiditas.

Dalam telaah kajian tersebut, ada yang namanya financing to Deposit Ratio atau FDR. Saya akan jelaskan. Financing to Deposit Ratio adalah perbandingan antara pembiayaan yang diberikan oleh bank dengan dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dikerahkan oleh bank.

Rumus dalam mencari FDR = Pembiayaan / Dana Pihak Ketiga (DPK) X 100%. Nilai rasio yang rendah menunjukan risiko liquiditas yang tinggi sedangkan rasio yang tinggi menunjukan perusahaan memiliki aktiva lancar berlebih dan akan berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas. Ini sebagaimana diutarakan Yusuf Muhammad dalam bukunya “Dampak Indikator Rasio Keuangan terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia” 9865: 141–51.

Kedua, Rasio Rentabilitas, guna mengetahui kemampuan bank dalam memperoleh laba dan mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan opresaionalnya.

Rumusnya adalah ROA = Laba Sebelum Pajak/Rata Rata Total Aset X 100%. Rasio ini biasnya paling disoroti oleh perusahaan karena mampu melihat keuntungan sebelumya dan di proyeksikan untuk melihat keuntungan perusahaan kedepannya.

Selanjutnya Rasio untuk menilai kualitas aset perusahaan, rasio yang digunakan untuk menilai kualitas aset biasanya dengan menggunakan Nnon Performing Finance (NPF) antara rasio NPF denga ROA ini saling berkaitan karena dalam NPF ini mengukur risiko risiko besarnya pembiayaan yang bermasalah pada suatu bank.

Berkaitan denga ROA karena semakin tinggi NPF ini akan semakin tinggi risiko bank tersebut dalam pembiayaan dengan semakin tinginya risiko ini maka keuntungan atau laba yang dihasilkan perusahaan akan semakin sedikit ROA akan semaki sedikit.

Adapaun rumus Non Performing Finance menurut Yusuf Muhammad dalam bukunya adalah Npf= Pembiayaan yang diterbitkan Bank/Total Pembiayaan X 100%. Dengan ini kita bisa menerawang kesehatan perusahaan baik unit syariah ataupun konvensional.

Meskipun belum sepenuhnya memadai sebagai kajian yang konfrehensif dan menjadi telaah ilmiah yang dapat dijadikan sumber otoritatif kepustakaan sejauh ini, penulis berharap makalah ini menjadi bagian dari upaya pengayaan khazanah keilmuan khususnya di bidang keuangan syariah.

___
*) DUDI SUPRIADI, penulis adalah mahasiswa STEI SEBI
×