Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Covid19 dan Kekhawatiran Ketika Umat Jauh dari Masjid

Jumat, 22 Mei 2020 | 11:30 WIB Last Updated 2020-06-05T18:51:51Z


Oleh Tasyrif Amin*

HIJRAH Rasulullah SAW ke Madinah adalah sebuah titik balik sejarah Islam. Dari turning point inilah Rasulullah bersama sahabatnya mulai membangun sistem kehidupan Islami yang berlandaskan pada nilai-nilai ketauhidan.

Bangunan masyarakat Madinah yang disebut Peradaban Islam Madinah adalah misi yang tertunda selama 13 tahun di Mekah. Yatsrib, tempat hijrah Rasulullah, yang kemudian berubah menjadi Madinah, akhirnya hadir sebagai kota suci, kota nabi, tempat terbitnya fajar baru yang memancarkan cahaya kebenaran ke seluruh jagat raya.

Rancang bangun Peradaban Islam Madinah diawali dengan sebuah bangunan bernama ‘masjid’, sebagai tempat menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, (Q.S. At Taubah: 18).

Rasulullah SAW juga mempersaksikan bahwa para pemakmur masjid adalah orang-orang yang dijamin keimanannya, dengan sabdanya yang masyhur ‘idzaa raaitummurrajula ya’taadul masjida fasyhadu lahu bil iman’ (H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah).

Buya Hamka mengungkapkan, bahwa pokok urusan Rasulullah di Madinah adalah membangun jamaah kaum Muslimin. Pokok urusan terbangunnya jamaah adalah pertemuan yang disusun oleh kewajiban beragama, shalat lima waktu berjamaah di masjid.

Dalam shalat berjamaah, hati anggota jamaah dapat disamakan tujuannya, yaitu langsung kepada Allah SWT. Lima kali sehari ke masjid adalah mengarahkan jamaah pada kebaikan tujuan, kebaikan pada pergaulan, kebaikan pada tetangga dan bertetamu. Duduk bersama sehabis shalat ada musyawarah tentang kebaikan dan kemaslahatan Umat Islam, (Hamka,2018/96).

Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury mengungkapan, bahwa masjid yang dibangun Rasulullah bukan sekedar tempat untuk melaksanakan shalat berjamaah semata, tapi juga merupakan tempat sekolahan bagi kaum muslimin, sebagai balai pertemuan untuk mempertemukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan di masa jahiliyah, sebagai tempat untuk mengatur segala urusan, sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan (Syaifur Rahman Al Mubarakfury, 2000/248).

Sangat nampak bahwa mulai urusan ibadah sampai urusan-urusan menyangkut politik dan pemerintahan, sejatinya adalah urusan yang terintegrasi dengan masjid. Karena pada realitasnya, tidak ada tempat lain bagi Nabi mengkonsolidasi umat Islam selain masjid, kecuali kalau dalam perjalanan perang. Ekstrimnya, Nabi hanya memiliki dua ruang transformasi publik, yaitu masjid dan medan perang.

Yusuf Al Qardhawi, menyampaikan bahwa politik telah menyatu dengan masjid khususnya pada masa keemasan Islam. Umat Islam mengalami kemunduran ketika politik dipisahkan dari masjid. (Yusuf Qardlawi, 2002: 277-278). Artinya, Umat Islam mengalami kemunduran ketika para pemimpin dan urusan keumatan tidak berpusat masjid.

Begitulah peran sentral masjid masa Nubuwah dan Khalifah Rasyidah. Tidak berubah dari mulai umat Islam berjumlah sedikit di Madinah, sampai tunduknya Kerajaan Persia dan Romawi ke pangkuan Islam. Bahwa meluasnya wilayah kepemimpinan umat Islam, pusat kendalinya tetap di Masjid Nabawi.

Ketika ada pertanyaan, kenapa Umat Islam hari ini tertinggal dan termarjinalkan. Salah satu jawabannya, karena Umat Islam jauh dari masjid. Sama sekali tidak bisa dibandingkan para pemimpin (Islam) hari ini dengan nabi yang fisik dan jiwanya ada di masjid.

Shalat berjamaah di masjid bagi Kaum Muslimin pun belum menjadi sebuah kekuatan. Tinjauannya terbatas pendekatan fiqh, bahwa shalat berjamaah di masjid hukumnya sunnah, tidak apa-apa kalau dilaksanakan di rumah.

Umat Islam belum tersadarkan bahwa masjid itu adalah pancaran hidayah dan barokah (Q.S. Ali Imran : 96), bahwa siapa yang mendatanginya dia dapat hidayah dan berkah di sisi Allah. Masjid adalah tinggal landas dan tempat take off menuju ke hadirat Allah, (Q.S. Israa : 1). Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian miraj ke Shidratul Muntaha. Bukan tempat yang lain.

Dengan shalat berjamaah, umat Islam terpimpin dalam satu komando. Dengan shaff yang rapat, ada energi spiritual yang menyatu di tengah jamaah. Dengan intensitas pertemuan, konsolidasi sosial dan jihad mudah dilakukan.

Dan moment shalat berjamaah adalah bentuk pendidikan integritas, bahwa ketika ada  yang keluar angin atau kena najis, dia minggir. Termasuk imam shalat sebagai pemimpin, harus mundur ketika wudhunya sudah batal, meskipun tidak ada jama’ah mengetahuinya.

Nilai-nilai itulah yang menjadikan masjid begitu urgent di tengah kehidupan Umat Islam. Sampai kemudian Rasulullah mengancam bagi orang yang tidak shalat berjamaah di masjid akan mendatanginya untuk membakar rumahnya. Karena sebuah keyakinan, ketika umat jauh dari masjid, Umat Islam akan tercabut dari peradabannya, dan menjadi umat yang lemah.

Allah SWT berfirman melalui lisan Rasulullah SAW,

“Demi kemuliaan dan keagunganku, sesungguhnya Aku bermaksud akan menurunkan siksaan kepada penduduk bumi, tetapi ketika Aku melihat penghuninya sedang memakmurkan rumahku (masjid), saling mengasihi sesamanya karena Aku, selalu melakukan istigfar di waktu sahur, Aku palingkan siksaan itu dari mereka”.

Dengan hadits qudsi, ada pemaknaan lain, bahwa boleh jadi wabah dan musibah datang karena menjauh dari masjid.

Adalah sebuah masalah besar, ketika pandemi Covid19, langsung arahnya tutup masjid. Dengan dalih menjaga jiwa lebih penting dari shalat jamaah. Shalat jamaah itu sunnah, bisa dilaksanakan di rumah.

Sekali lagi secara fikh itu tidak masalah, namun jangan lupa bahwa menjauhkan umat Islam dari masjid adalah mencabut umat dari peradabannya, merenggangkan ikatan spiritualnya, dan yang lebih pasti adalah menjadikan umat jalan sendiri-sendiri, tanpa sebuah kepemimpinan.

Kita sepakat Covid19 berbahaya, harus diputus rantai penularannya. Dengan protokol kesehatan, sesungguhnya masjidlah yang paling bisa mempraktekkan.

Semua orang yang datang di masjid adalah orang-orang yang sudah suci dari kotoran, teratur, terpimpin, dan durasinya singkat. Dibanding pasar tetap dibiarkan ramai, orang-orang tetap berkerumun di bandara dan terminal, yang sangat rentan terjadi penularan. Ini sesuatu yang tidak logis.

Umat Islam sabar menunggu, rela shalat tarawih 1 bulan di rumah, dengan harapan bisa shalat Idul Fitri bersama-sama di masjid.

Namun harapan itu seperti mimpi buruk di siang bolong, tiba-tiba terbit peraturan tidak boleh shalat Iedul Fitri berjamaah di lapangan dan di masjid, dan ini berlaku sampai di daerah terpencil yang belum tahu apa itu namanya Covid19. Akhirnya kesempatan merekat peradabannya, berlalu sudah.

Saya sudah mengakhiri tulisan ini dengan tetap berharap ada penguatan himbauan MUI Pusat untuk bisa shalat jamaah dan shalat Ied di masjid. Namun bathin ini tiba-tiba kembali resah, melihat ada konser sukaria dari elit-elit negara, dengan melanggar protokol kesehatan yang dibuatnya sendiri.

Dengan kejadian terkahir ini, kuat dugaan bahwa sedang terjadi by desain pelemahan umat Islam yang lebih dahsyat bahayanya dari Covid19. Waspadalah!

*) TASYRIF AMIN, penulis adaah Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Artikel ini dikutip dari laman Hidayatullah.or.id
×