Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Meluruskan Mindset Sukses Agar Tak Terjebak Menjadi Materialistik

Rabu, 27 Mei 2020 | 07:28 WIB Last Updated 2020-06-05T18:45:18Z
Ilustrasi harta benda berupa emas batangan (Foto: Erik Stein/ Pixabay)

ORANG sukses adalah orang yang selalu pernah gagal namun tidak larut dengan kegagalannya. Masalahnya, mindset kita sudah terlanjur terpasung dengan paradigma yang sebetulnya bertolak belakang dengan fitrah humanity kita.

Akibatnya, ketika dewasa, kita sukar bangkit dari kegagalan dan ketertinggalan. Dampak terparahnya adalah mengakibatkan kita menjadi permisif, hedonis dan kanibalis yang menghalalkan segala cara demi terpenuhinya keinginan nasfu keserakahan.

Diantara pola pikir anomali yang sedari kecil ditanamkan ke benak alam bawah sadar kita adalah tuntutan lingkungan tentang definisi sukses bahwa kesuksesan selalu diukur dengan capaian materi.

Kondisi itu sebenarnya bisa kita maklumi karena memang sejak kecil kita juga sudah terpapar dengan berbagai teori menyesatkan seputar ekonomi kapitalisme atau gaya hidup kanibalisme.

Pada akhirnya, otak kita pun memberi konklusi bahwa indikator kesuksesan adalah kekayaan yang melimpah, harta benda yang menumpuk, ketenaran, penampilan yang parlente dan lain sebagainya.

Dalam teorinya, setiap individu dalam sebuah masyarakat kapitalistik dimotivasi oleh kekuatan-kekuatan ekonomi sehingga ia bertindak sedemikian rupa untuk mencapai kepuasan terbesar dengan pengorbanan atau biaya yang sekecil-kecilnya. Inilah kanibalisme modern.

Di dalam Islam, kita tidak mengenal ajaran absurd semacam itu. Islam tidak menakar kesuksesan dengan capaian materi semata yang berhasil didulang sebagaimana teorinya Adam Smith.

Kesuksesan dalam Islam adalah upaya sungguh-sungguh untuk memberi manfaat seluas-luasnya kepada umat kapan dan dimanapun berada.

Sehingga, tak ada istilah gagal dalam kamus setiap muslim. Karena setiap kebaikan aktifitas, tindakan, ucapan, dan perbuatan seorang muslim bernilai ibadah.

Setiap ibadah walaupun sedikit yang berhasil kita lakukan berarti kita telah sukses menjadi pribadi yang bermanfaat. Jangan lihat kuantitasnya, lihatlah kualitasnya.

Ibadah atau kebaikan berkualitas adalah yang dilakukan secara berkelanjutan, konsisten atau istiqomah. Demikianlah sejatinya kesuksesan yang harus ada dalam mindset kita.

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

Ahabbu 'l-a'mal 'indallahi adwamuha wa in qalla (HR. Muttafaq ‘Alaih, dari ‘Aisyah (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 163))

Artinya: "Kesuksesan (amalan) yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan terus menerus walaupun itu sedikit.”

Orang yang pernah mengalami kegagalan bahkan bisa membangun sebuah peradaban yang mewah dan megah, terbentang luas dari timur ke barat, dengan amalan kebaikan yang dilakukannya secara istiqomah.

Hakikat Kesuksesan

Kesuksesan itu adalah ketika kita mampu berdiri tegak dan mengepalkan tangan serta percaya diri di atas keyakinan dan mindset yang benar.

Dengan mindset yang benar, kita menjadi berani mendestruksi paradigma yang sudah terlanjur melekat pada diri dan meyakini hakikat kesuksesan yang sesungguhnya.

Orang yang memiliki kemantapan hati seperti ini tak pernah ragu mengambil langkah pertamanya walaupun orang lain berada di depannya.

Dia terus melangkahkan kakinya walau ujian berat selalu menimpanya dan senantiasa berbisik kepada dirinya, “Berlarilah sampai kegagalan itu lelah mengikutimu”.

Kesuksesan dan kegagalan seperti dua pilihan dan memang hanya ada dua pilihan dalam kehidupan. Memilih sukses atau terus bertahan dalam kegagalan.

Maka, orang yang sukses adalah orang yang berani mengambil resiko dalam kehidupannya dan yakin bahwa jatah gagal dalam hidupnya harus dihabiskan sebelum kesuksesan datang menghampiri.

Dalam Islam, orang sukses yang sesungguhnya adalah mereka yang bisa memegang teguh agamanya sampai hayat memisahkan. Dengan keteguhan imannya, ia melewati banyak cobaan dan cemoohan dengan senyuman yang terkulum.

Di zaman seperti sekarang ini, kita generasi muda memang menghadapi tantangan yang tidak ringan tapi, Insya Allah, kita yakin sekali bisa menaklukkannya.

Sebagai agama fitrah yang selaras dengan kemanusiaan, pastinya Islam menjadi musuh berbagai ideologi yang telah terbukti telah gagal menjadi solusi kehidupan manusia.

Ada ideologi komunisme yang sudah usang namun terus berusaha bangkit walaupun terseok seok. Sosialisme yang juga sudah jadi batu nisan. Dan, terakhir, kapitalisme yang pelan-pelan hanya akan jadi kenangan.

Itulah mengapa Islam sebagai ideologi kerap menjadi bulan-bulanan yang acapkali didemonisasi berwajah menyeramkan, radikal, teroris, esktrim dan penuh kebrutalan. Karena pembencinya kehilangan cara membendung ajaran Islam yang terbukti memanusiakan manusia karena memang Islam adalah agama yang memanusiakan manusia.

Bagi mereka yang telah berislam dengan benar, berbagai stigma negatif itu tak akan menggoyang keyakinanannya meski harus memegang bara api. Inilah kesuksesan sejatinya.

Para sahabat Nabi telah mencontohkan kepada kita hakikat kesuksesan yang sesungguhnya, bahkan mereka menggadaikan nyawanya supaya tegak berdiri di atas keyakinan agamanya.

Orang yang gagal dan pernah terpuruk dalam kubangan dosa, belum tentu tertinggal. Dengan ketukan pintu hidayah dalam hatinya, ia bisa merubah kegagalannya menjadi sebuah kesuksesan sampai kelak ia mampu bangun peradaban.

Mari memperkuat pondasi diri dengan bekal keimanan dan ketakwaan. Mudah mudahan Allah SWT memberikan jalan terang pada kita berupa cahaya petunjuk-Nya untuk menapaki kesuksesan yang hakiki.

Terus mantapkan mindset hidup yang berlandas pada nilai ketuhanan karena hakikat dari kesuksesan adalah bangkit dari kegagalan dan memegang teguh agama yang Allah ridhai sampai hayat memisahkan.

*) DUDI SUPRIADI, penulis adalah mahasiswa STEI SEBI
×