Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Profil Arief Rosyid Hasan, Millenial Komisaris di Bank Syariah BUMN

Minggu, 17 Mei 2020 | 09:30 WIB Last Updated 2020-05-28T00:49:53Z
KEPUTUSAN Sirkuler Pemegang Saham Tanggal 3 April 2020 menetapkan dan mengangkat Arief Rosyid Hasan sebagai Komisaris Independen PT Bank Syariah Mandiri (BSM).

Anak muda milenial ini memang dikenal dengan berbagai aktifitasnya dalam pengembangan ekonomi syariah berbasis keummatan terutama melalui sejumlah gerakan yang melibatkan anak-anak muda.

Dikutip dari website pribadinya, pria kelahiran Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, 4 September 1986 ini merupakan lulusan Dokter Gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin tahun 2010. Meraih Magister Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia pada tahun 2014.

Sebelum menjabat sebagai Komisaris Independen, dia juga aktif di sejumlah organisasi misalnya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (2013-2015), Ketua Pemuda di Dewan Masjid Indonesia (2017-sekarang), Wasekjen BPP HIPMI (2019-sekarang), dan menginisiasi sejumlah kolaborasi dengan anak muda di Masjid hingga di Lembaga Pemasyarakatan.

Beliau secara intensif terlibat dalam diskusi bersama dengan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (DEKS BI), Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (DPBS OJK), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), hingga Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) dalam mendorong peran pemuda untuk kebangkitan ekonomi ummat dari Masjid.

Arief mendirikan Indonesian Islamic Youth Economic Forum (ISYEF) dan menyelenggarakan Muktamar Pemuda Islam bersama 20 Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Islam.

Sejak 2019. Dirinya juga terlibat dalam mengkaji dan mendorong sejak awal adanya kerangka kebijakan integral yang lebih fokus pada kelompok umur pemuda dalam menghadapi bonus demografi hingga kemudian dia diamanahi menjadi tim Pokja Pelayanan Kepemudaan di Kemenpora.

Tokoh di Balik Perpres Pemuda

Soal demografi memang menjadi perhatian serius pria low profile ini. Saat masih menjadi Ketua Umum PB HMI, Arief sudah mewanti-wanti bahwa Indonesia tergolong lambat dalam mempersiapkan pemanfaatan bonus demografi ini.

Padahal Indonesia sejak tahun 2012 telah memasuki fase bonus demografi dan sampai sekarang belum ada kerangka kebijakan integral yang lebih fokus pada kelompok umur pemuda.

Sehingga, menurut Arief, jika tidak ditangani dengan baik, bonus demografi yang selama ini menjadi harapan untuk memajukan Indonesia dapat menjadi “window of disaster” karena besarnya beban sosial yang harus ditanggung. “Hal ini menjadi sangat mendesak mengingat peluang ini hanya akan terjadi dalam waktu yang relatif pendek,” tutur Arief dalam salah satu FGD bersama tokoh dan pegiat di Jakarta, Rabu 28 Oktober 2015.

Soal bonus demografi ini terus dan selalu diulang-ulang Arief dalam berbagai forum diskusi, pertemuan dengan senior HMI yang sudah jadi tokoh nasional, sambutan di berbagai acara HMI, tulisan di media massa, bahkan dalam beberapa buku yang diterbitkannya.

Tidak berhenti di situ. Sejak 2014, Arief menjadi inisiator berbagai focus group dicussion tentang bonus demografi. Arief mempresentasikan tantangan dan solusi pemuda dalam menghadapi bonus demografi ke Bappenas, LIPI, Kemenkeu, dan Kemenpora.

Berbagai langkah terus ditempuhnya untuk menegaskan pentingnya menyikapi bonus demografi, tantangan dan solusinya. Akhirnya pada Mei 2015, Arief menyampaikan dokumen singkat ber-kop PB HMI kepada Presiden Joko Widodo. Isi dokumen tersebut adalah tuntutan dihadirkannya kebijakan pengarusutamaan pemuda.

Dokumen itu kemudian membuahkan hasil yang terbilang monumental dimana akhirnya pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan.

Pada April 2019, Arief dkk kembali mendesak pemerintah agar segera membentuk Pokja sebagai tindak lanjut Perpres 66/2016 tersebut. Desakan itu membuahkan hasil dengan terbentuknya Pokja pada tanggal 20 Mei 2019. Arief terpilih sebagai perwakilan pemuda dan membawa bendera lembaga yang didirikannya, Merial Institute. Salah satu tujuan dibentuknya Pokja yakni agar program kepemudaan di Kementerian/Lembaga lebih terkoordinasi dan terukur pencapaiannya.

Kegemaran Berkolaborasi


Bekerja sama untuk suksesnya bakti sosial, kegiatan kepemudaan, pelatihan, dan seterusnya, adalah makanan sehari hari bagi Arief Rosyid. Ia semakin menggairahkan kegemaran berkolaborasinya.

Dikala tak lagi menjadi Ketum PB HMI, semangat aktivisme Arief justru semakin meluas. Malahan dia justru mencatatkan lebih banyak rekam jejak berkolaborasi dengan tujuan yang belum berubah: mendorong perbaikan SDM, khususnya pemuda seperti mendirikan komunitas Rabu Hijrah.

Rabu Hijrah berlangsung setiap hari Rabu, selama Februari hingga Maret 2019. Arief mengajak para tokoh di bidang usaha dan tokoh agama untuk memberikan literasi bagi pemuda di tujuh kota di Indonesia. Literasi dalam Rabu Hijrah yang diberikan terkait potensi ekonomi umat dan bagaimana kaum muda turut serta.

Ia juga turut aktif dalam KAHMI Economic Forum. Kolaborasi ini ada di bawah bendera Korps Alumni HMI (KAHMI). Forum ini bertujuan membangun narasi objektif tentang perekonomian nasional berbasis inovasi dan SDM dan bersama Ketum HIPMI Bahlil Lahadalia, Arief Rosyid masuk tim perumus RUU Kewirausahaan Nasional untuk mendorong kebijakan pro kewirausahaan.

Arief membentuk Pergerakan Indonesia Maju (PIM) dimana kolaborasi ini bertujuan merawat jejaring dengan para pakar, tokoh bangsa untuk mengulas diskursus kebangsaan. Dia juga secara aktif menggelar riset melalui lembaga Merial Institute yang didirikannya untuk mendorong perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pemuda. Arief ingin Merial Institute jadi lembaga think thank untuk urusan pemuda.

Bukan hanya itu, Arief Rosyid pula terinspirasi mendirikan Suropati Syndicate karena melihat beragam aktivitas, termasuk diskusi, yang berlangsung di Hyde Park, London. Arief pun membawa ide diskusi outdoor di taman yang bertempat di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Tujuannya, ada diskusi rutin di ruang publik kota tentang isu aktual.

Arief aktif mengikuti pelatihan di dalam dan luar negeri, seperti Basic Training HMI, Makassar, 2004; Intermediate Training HMI, Mamuju, 2005, Advance Training, Padang, 2008; Sekolah Pemikiran Pendirian Bangsa Megawati Institute, Jakarta, 2012; Pelatihan Analisis Persiapan Implementasi JKN dan SJSN, Depok, 2012; Pelatihan WHO & SEAPHIN “Strenghtening Non-Communicable Disease Program at National and Sub National Level”, Jakarta, 2012.

Arief juga tokoh muda dalam helatan Delegation for International Peace Conference on “Return To Palestine”, Lebanon, 2013; E Pluribus Unum Camp US Embassy, Jakarta, 2014; Pelatihan Ketahanan Nasional Pemuda Kemenpora, Jakarta, 2014; dan The International Visitor Leadership Program “Civil Society in Muslim Communities“ - The US Department of State, USA, 2016.
×