Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Profil Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said, Peraih Kalpataru Era Soeharto

Sabtu, 30 Mei 2020 | 07:57 WIB Last Updated 2020-06-08T09:31:27Z
Ilustrasi: sampul buku "Mencetak Kader" berisi sejarah perjalanan hidup, kiprah, tindakan, dan pemikiran Abdullah Said ditulis oleh almarhum Ust Manshur Salbu yang juga sekretaris pribadinya saat perintisan Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim (Foto: Istimewa). 

ABDULLAH SAID adalah pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan yang kemudian menjadi organisasi massa Islam nasional bernama Hidayatullah.

Abdullah Said lahir di sebuah desa yang bernama Lamatti Rilau, salah satu desa di wilayah kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Bertepatan dengan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945, dengan nama lahir Muhsin Kahar.

Sejak masih dalam kandungan Abdullah Said sudah jadi perbincangan keluarga dan masyarakat di kampungnya, sebab usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun belum lahir juga. Bahkan ada pandangan miring bahwa yang dikandung itu bukan manusia tetapi buaya atau entah apa.

Untuk pendidikan dasar, selain bimbingan langsung dari ayahnya, KH Abdul Kahar Syuaib, Muhsin kecil sangat tertolong oleh Sekolah Rakyat (SR) yang ada dikampungnya.

Namun karena harus mengikuti ayahnya pindah ke Makassar, ia harus rela meninggalkan kampung halaman tercinta dan meninggalkan pendidikannya yang saat itu telah duduk di kelas III, antara tahun 1952-1954.

Setelah di Makassar, Muhsin kecil diterima di kelas IV di Sekolah Dasar No. 30 di kota itu. Di Sekolah ini Muhsin kecil selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran, termasuk pelajaran menggambar.

Bahkan, Muhsin kecil pernah mengangkat nama sekolahnya ketika menjadi yang terbaik dalam pertandingan menggambar antar sekolah dasar se-Kota Makassar.

Setelah lulus dengan nilai tertinggi, Muhsin Kahar melanjutkan pendidikannya ke sekolah agama, yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 Tahun), salah satu gurunya adalah KH. Djamaluddin Amien.

Dia memilih sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya karena disamping dapat mempelajari agama, juga merupakan sekolah yang sangat didambakan saat itu sebagai satu-satunya sekolah Pendidikan Guru Agama milik pemerintah yang ada di kawasan Indonesia Timur.

Lagi-lagi di PGAN 6 Tahun Muhsin kahar selalu menjadi bintang kelas, pandai berpidato dan berpengetahuan luas. Sejak masuk PGAN sampai kelas IV dia selalu ditunjuk sebagai ketua kelas, dalam setiap rapat dia selalu dipercayakan untuk memimpin.

Lulus sekolah lanjutan PGAN 6 Tahun dengan nilai tertinggi, Muhsin Kahar ditugskan untuk melanjutkan pendidikannya ke IAIN Alauddin, Makassar. Namun hanya setahun dia mengikuti kuliah lalu berhenti.

Dia telah membaca semua materi kuliah yang diberikan dosen. Hingga akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah, cukup menyita banyak waktu dan energi, sementara hasilnya sangat tidak seimbang dengan yang telah dikorbankan.

Kalau hanya untuk mendapatkan titel sarjana, bukan itu yang diperlukan. Namun yang dia butuhkan adalah bagaimana bisa mengaplikasikan ilmunya secara menyeluruh kapanpun dan di manapun dia berada.
Abdullah Said ketika menerima penganugerahan Kalpataru dari pemerintah yang diberikan langsung oleh Presiden Indonesia, HM Soeharto di Istana Negara (Foto: Hidayatullah.or.id)

Kalpataru

Kampus Induk Hidayatullah yang berada di atas lahan wakaf itu berdiri masjid, gedung-gedung sekolah dan perguruan tinggi, aula pertemuan, kantor, guest house, perumahan warga, juga dilengkapi sarana umum serta lingkungan hijau yang ditata sedemikian rupa sehingga tampak asri.

Tak heran bila pada tahun 1984, Presiden Soeharto menganugerahkan Kalpataru kepada Ust. Abdullah Said karena beliau dinilai mampu mengubah kawasan kritis di Gunung Tembak menjadi lingkungan pesantren yang hijau dan asri. Di tengah lokasi pesantren terdapat danau buatan yang tidak pernah kering meski berada di musim kemarau.

Ada yang menarik dalam rangkaian penganugerahan Kalpataru itu. Ketika Menteri Negara KLH Emil Salim menyelenggarakan jamuan buka puasa guna menghormati para penerima anugerah Kalpataru, salah seorang dari penerima anugerah itu tampil memberikan sambutan.

Dari suaranya yang berat dan tenang, orang faham laki laki ini adalah seorang orator yang pandai berpidato. Dia adalah Abdullah Said.

"Saya terharu pada malam hari ini," katanya pelan. "Ada seorang sahabat saya yang sudah 20 tahun kami berpisah... ternyata pada malam ini baru saya jumpai dia". Hadirin sesaat bertanya tanya siapa gerangan yang ia maksud.

"Itulah dia Bapak Tanri Abeng...," katanya seraya menunjuk Presiden Direktur Bir Bintang yang hadir pula malam itu.

Tapi bagaimana pula pemimpin pesantren ini bisa bersahabat dengan Presdir Bir Bintang?

"Kami pernah sama sama aktif di PII ketika di Ujung Pandang dulu," kata Said kepada majalah Panjimas seperti diulas dengan judul Sang Ustadz Pemenang Kalpataru pada majalah Panji Masyarakat, Edisi 21 Juni 1984.

Saat itu, di Pelajar Islam Indonesia (PII) Abdullah Said di bidang dakwah sementara Tanri Abeng menjadi bendahara. Namun ketika mulai merantau ke Kalimantan, Tanri Abeng pun ke Amerika untuk belajar.

Dan memang, setelah beberapa tahun nasih telah membawa hidup mereka masing masing. Seorang menjadi direktur pondok pesantren dan seorang lagi direktur Bir Bintang.

Pada kesempatan penganugerahan tersebut, Abdullah Said juga sempat diterima oleh Wakil Presiden (Wapres) ke-4 Umar Wirahadikusumah di Istana Wapres.
Abdullah Said ketika diterima Wakil Presiden (Wapres) ke-4 Umar Wirahadikusumah di Istana Wapres usai penganugerakan Kalpataru (Foto: Majalah Panji Masyarakat, Edisi 21 Juni 1984)


Pemikiran

Pemikiran Abdullah Said dapat ditelusuri dari karya tulis, ceramah, dan berbagai aktivitas dia. Namun, jika melihat pada catatan-catatan dia, memang tidak dijumpai tulisan yang secara khusus membahas pandangan atau pemikiran dia, ini dapat dimaklumi sebab dia memang manusia kerja, “Man of Action” seperti yang dikatakan Amien Rais (Mantan MPR-RI, mantan ketua Umum Muhammadiyah), ketika dimintai komentarnya terhadap pribadi Abdullah Said.

Dari berbagai cacatan, ceramah dan gerakan serta aktivitas da’wahnya, dapat diidentifikasi beberapa gagasan sebagai pemikiran dakwah Abdullah Said sebagai berikut:

Bidang Dakwah

Bagi Abdullah Said dakwah adalah prioritas utama, tekad dia adalah di manapun dia berada nantinya, umurnya akan dihabiskan untuk mengurus Islam.

Dia pernah mengatakan tentang kerja dakwah ini bahwa: “Dakwah bukanlah pekerjaan ringan, karenanya Allah tidak menitip amanah ini kepada sembarang orang. Setetes hidayah dari Allah, jauh lebih berarti dari berjilid-jilid buku yang ditulis oleh seorang penulis paling terkenal sekalipun.”

Pengkaderan

Tingginya perhatian dia terhadap pengkaderan ini sehingga dia terus berpikir untuk mencari metode pengkaderan yang dapat melahirkan kader-kader yang tangguh.

Maka dari kajian dan diskusi yang dia lakukan, lahirlah sebuah metode yang digunakan dalam mendidik kader yang disebut “Sistematika Wahyu”.

Terkait dengan pembinaan kader ini, Abdullah Said menyatakan bahwa: kaderisasi adalah permasalahan serius yang dihadapi oleh hampir setiap organisasi. Sehingga sering dikatakan, “sekarang kita sedang mengalami krisis kader”.

Abdullah Said berpandangan bahwa kader menjadi dewasa bukan karena kemanjaan tapi karena keprihatinan. Dari hidup yang prihatin terasah perasaannya, tajam intuisinya, peka jiwanya, tanggap nuraninya. Pikirannya terlatih, keterampilannya terbina, pelan-pelan jiwa kepemimpinannya terbangun.

Sosok Da'i

Hal yang tak kalah penting dan selalu ditekankan oleh Abdullah said adalah bahwa letak keberhasilan ceramah atau dakwah bukan hanya ditentukan semata karena kemahiran beretorika. Perhatian pendengar dan audiens sangat ditentukan oleh perilaku dan akhlak da’i karena orang memperhatikan budi pekerti dan tingkah laku sehari-hari.

Dia pernah mengatakan: ”Dakwah yang lebih didengar adalah dakwah yang didukung oleh pembuktian ayat, berupa peragaan dan praktik di lapangan pada diri dan keluarga.”

Hal lain yang selalu ditekankan oleh Abdullah Said kepada para da’i Hidayatullah adalah agar tidak meninggalkan shalat lail demi suksesnya dakwah.

Menurut dia seorang da’i adalah pejuang Islam yang memikul beban yang sangat berat sehingga seharusnya dia senantiasa dekat dengan Allah SWT yang akan memberikan keringanan dan kemudahan dalam menjalankan misi dakwahnya.

Dia mengatakan: “Bagi mereka yang pernah melakukan shalat lail tentu merasakan dan mengakui adanya pertarungan yang sangat seru dan sengit dalam menghadapi godaan syetan dan pengaruh nafsu yang luar biasa kuatnya.”

Metode Dakwah

Mengenai manhaj dan metode dakwah ini Abdullah Said mengatakan bahwa: “Karena ketidak jelasan manhaj, kadang-kadang dakwah Islam tidak lebih sekadar hura-hura”

Dengan menapak tilas perjalanan Rasulullah, Abdullah Said berusaha keras memetik hikmah dari kondisi yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu hingga turunnya 5 surat pertama sebagai bahan pembinaan.

Menurut pendapatnya, Allah SWT yang merekayasa kondisi Nabi Muhammad demikian itu tentu punya target.

Setelah melalui pengkajian yang intens Abdullah Said akhirnya merumuskan suatu metode pembinaan berdasarkan tertib turunnya lima surat pertama, yang kemudian dikenal dengan Manhaj Sistematika Nuzulul Wahyu. Yang selanjutnya metode ini dijadikan sebagai manhaj da’wah Hidayatullah.

Pendidikan

Secara akademik Abdullah Said bukanlah siapa-siapa. Dia bukan guru besar juga bukan penulis kritis terhadap sistem yang ada.

Namun bagi seorang ilmuwan sejati, kiprah dia lebih dari sekadar upaya fisik, tapi implementasi ide dan gagasan yang holistik dan realistis.

Pasalnya peninggalannya berupa Pesantren Hidayatullah, di dalamnya terkandung warisan konsep pendidikan yang sangat dibutuhkan umat di masa ini dan masa yang akan datang.

Abdullah Said bukanlah seorang kritikus tapi problem solver. Dia tidak ingin hidupnya tersita untuk mengkonsep pemikiran kritis sementara dalam alam realita tidak terwujud satu karya apapun.

Dia memandang pendidikan sebagai amanah keimanan yang harus mengantarkan manusia pada derajat ketaqwaan.

Dia kurang setuju dengan pendidikan yang berorientasi pada predikat kesarjanaan, yang dia inginkan adalah pendidikan yang berorientasi pada kekaderan yang kehadirannya ditengah masyarakat benar-benar langsung dirasakan manfaatnya, sehingga orientasi dia adalah mendidik santrinya untuk siap pakai.

Pendidikan yang sempat ada dimasa dia adalah Pendidikan Dasar Islam (PDI), setingkat SD, pendidikan Ulama dan Zuama (PUZ), setingkat SMP, dan Kuliah Muballighin dan Muballighat (KMM), setingkat SMA.

Pada kesemua jenjang pendidikan tersebut dia lebih menekankan praktik langsung daripada berkutat dengan teori di dalam ruang kelas belajar, sehingga menghasilkan kader-kader yang siap diterjun bebaskan ke mana saja dan kapan saja.

Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, obsesi Abdullah Said adalah membangkitkan perekonomian golongan ekonomi lemah, dengan mencarikan dan memberikan pinjaman kepada para pedagang kaki lima dan santri-santri yang mempunyai kecendrungan untuk berdagang.

Demikian pula pada sektor angkutan umum, dia membeli beberapa buah mobil angkutan kota sebagai pengawal, diharapkan kedepan armada angkutan kota terus bertambah dibawah koordinasi Hidayatullah.

Dia juga berkeinginan membuat super market yang menyediakan segala macam kebutuhan, dalam guyonannya dia mengatakan, “dari terasi hingga helikopter tersedia”, dengan sistem pesan-antar, pesan di malam hari- pagi harinya diantarkan oleh petugas.

Hal ini tidak hanya saling menguntungkan, tetapi juga sebagai sebuah cara untuk menertibkan hukum sehingga kaum wanita tidak perlu jauh-jauh keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Disamping itu dia juga menginginkan agar memproduksi sendiri bahan-bahan makanan dengan tujuan menyediakan lapangan kerja dan untuk menghilangkan keragu-raguan terhadap produk-produk makanan yang ada.

Dalam sebuah kesempatan kuliah malam jum’at, 25 Maret 1990 dia menyampaikan bahwa, “kita harus kaya dan kaya, tetapi bukan untuk pribadi tetapi untuk lembaga. Karena yang kita pikirkan adalah seluruh dunia, bagaimana meng-Islamkan peradaban sekarang”.

Politik

Kendati Hidayatullah tidak berorientasi kepada politik, tetapi Adullah Said tidak mau ketinggalan mengikuti perkembangan politik.

Soal pandangan politiknya, Said pernah mengemukakan bahwa jika suatu saat tiba-tiba pemerintah (yang saat itu berada dibawah kekuasaan partai Golkar) mengubah undang-undang keormasan dan memberikan kesempatan untuk menambah jumlah partai politik, maka Hidayatullah lah yang paling siap berpartisipasi dengan mengandalkan cabang-cabang yang ada diseluruh Indonesia yang siap menyala jika Gunung tembak sebagai generator telah dihidupkan.

Kendati saat ini telah cukup mapan dan memiliki modal memadai menjadi organisasi politik, Hidayatullah tetap on the track yang tidak berafiliasi kepada partai politik manapun. Hidayatullah fokus berdakwah serta semakin menguatkan kiprahnya membangun umat dan bangsa di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi.

Pada suatu kesempatan Said mengungkapkan keinginannya agar suatu saat Hidayatullah menguasai kursi pada tiga partai saat itu (Golkar, PPP, dan PDI), sehingga keputusan yang dikeluarkan didominasi oleh Hidayatullah.

Kutu Buku

Abdullah Said adalah pembaca yang tekun. Setelah memimpin Hidayatullah, dia semakin tekun membaca. Setiap hari dia membaca tiga koran terbitan Jakarta dan dua koran lokal (Balikpapan). Sementara, untuk media berkala dia membaca setidaknya sembilan majalah.

Buku-buku baru yang diiklankan di media dan dianggapnya penting, langsung dia cari. Tulisan-tulisan menarik diklipingnya. Singkat kata, kapan dan di manapun, dia sempatkan membaca. Maka, tak heran, jika di mobilnya penuh buku, koran, dan majalah.

Buku bertema apa yang dibacanya? Beragam! Tak hanya keislaman, tapi juga –antara lain- managemen, jurnalistik, dan pengembangan diri. Untuk yang disebut terakhir, koleksinya termasuk karya-karya Dale Carnegie, Stephen R. Covey, dan lain-lain. Karya John Naisbitt dan Alvin Toffler ada juga di perpustakaannya.

Waktu favorit Abdullah Said untuk membaca adalah usai melakukan shalat lail. Di banyak halaman buku-buku yang dibacanya penuh catatan di pinggirnya, berupa komentar dan –jika perlu- kritik dia. Untuk hal-hal yang penting, dia garis-bawahi. Dia terbiasa membaca buku sambil menulis di komputer.

Siapa yang memengaruhi Said sehingga sangat suka membaca? Salah satunya adalah KH Abdul Ghaffar Ismail. Ulama yang lahir di Bukittinggi dan wafat di Pekalongan itu sangat memberinya motivasi, yaitu lewat ungkapan: “Muballigh yang malas membaca adalah muballigh tai kucing”.

Bacaan Said yang kaya membuat ceramah serta tulisannya sangat menarik dan disenangi banyak pihak lantaran tajam dan aktual. Tulisan-tulisan dia yang dimuat majalah ‘Suara Hidayatullah’ di rubrik Kajian Utama adalah salah satu contohnya.

Abdullah Said meninggal dunia di Jakarta pada 4 Maret 1998 setelah beberapa waktu menjalani pengobatan atas penyakit yang dideritanya.

Referensi

  1. "Abdullah Said, Suka Membaca dan Berburu Buku"Inpas Online, 2 Maret 2015. Diakses tanggal 30 Mei 2020
  2. "Tentang Hidayatullah"Website Resmi Hidayatullah, Diakses tanggal 29 Mei 2020.
  3. "Abdullah Said", Wikipedia, terakhir diubah pada 8 April 2020, pukul 17.32. Diakses tanggal 30 Mei 2020
  4. "Sang Ustadz Pemenang Kalpataru", rubrik Profil majalah Panji Masyarakat, Edisi 21 Juni 1984.
×