Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Profil Taufik Iskandar, Ketua Tani Muda Santan Menghadapi Tambang

Sabtu, 30 Mei 2020 | 06:30 WIB Last Updated 2020-06-07T10:22:52Z
Taufik Iskandar (Foto: Facebook)

DI tengah panas terik siang itu, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Kecamatan Marangkayu (HMKM) Kutai Kartanegara menggelar aksi demonstrasi di kantor besar Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim di Jalan Teuku Umar No 1 Samarinda, Selasa, 15 September 2015.

Aksi itu adalah rangkaian dari protes warga atas rencana Peningkatan produksi pertambangan batubara PT. Indominco Mandiri dari 16 Juta Ton menjadi 20 juta ton yang diikuti dengan rencana pemindahan alur Sungai Santan untuk dikeruk dan ditambang batubaranya.

Di tengah unjuk rasa, tampak sosok tegap dengan tubuh lusuhnya namun berbicara dengan suara lantang dan tegas. Dialah Taufik Iskandar, yang menjadi salah satu tokoh penggerak aksi tersebut.

Bersama Ketua HMKM Romiansyah dan Adi Rahman serta puluhan rekannya yang juga mahasiswa asal Santan, mendesak pemerintah untuk menolak rencana yang nyaris urung diketahui oleh DPRD dan instansi terkait lainnya itu.

Poster salah satu diskusi online yang menyoroti fenomena sosial dan ekologi yang mengadirkan narasumber aktifis dari berbagai latar belakang (Foto: Facebook Tani Muda Santan)

Berkat serangkaian aksi unjuk rasa yang dilakukan aktifitas mahasiswa ini termasuk mendatangi langsung lokasi konsesi tambang dan  kantor Gubernur Kaltim, akhrinya perusahaan asing dibawah bendera grup Banpu dari Thailand itu harus menelan pil pahit.

Sejak awal rekomendasi teknis perusahaan itu memang dinilai sidah bermasalah karena tidak sesuai dengan peruntukannya.

Dalam Permen PU No 18 Tahun 2009 Tentang Peralihan Sungai pasal 5 menyebutkan bahwa pengalihan alur sungai hanya ditujukan untuk kepentingan perlindungan fungsi sungai, pemanfaatan dan pengaliran sungai bukan untuk kepentingan penambangan batubara dan kepentingan korporasi swasta.

Cukup mencengangkan bagi warga yang sebelumnya tak tahu apa-apa. Pasalnya, perusahaan tambang ini sudah mengajukan pemindahan alur Sungai Santan sepanjang 6426 meter kepada Dinas Pekerjaan Umum.

Namun warga tak menyerah dan terus memperjuangkan kekayaan ekosistem kampung halamannya. Warga menilai persetujuan dan rekomendasi teknis yang dikeluarkan oleh PU tidak mewakili keinginan warga dan tanpa partisipasi pelibatan warga dalam pembahasannya.

Taufik Iskandar menjadi narasumber dalam sebuah diskus online bertajuk "Ekonomi Tanding: Upaya Warga Melawan dan Memperkuat Imunitas Sosial - Ekologi" Kamis, 28 Mei 2020 (Foto: Tangkapan layar/ Nasional.news)

Taufik Iskandar yang kini memangku amanah sebagai ketua Tani Muda Santan, mengungkapkan tatanan lingkungan di Desa Santan berubah sejak 1997, seiring masuknya perusahaan tambang PT Indominco Mandiri. Tahun 2017, perusahaan divonis denda Rp2 miliar karena membuang limbah tanpa izin.

Lembaga swadaya masyarakat, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) pun mendesak supaya izin perusahaan dicabut. Sayangnya desakan itu sama sekali tak digubris. Perusahaan bertahan, sementara kondisi lingkungan kian buruk.

Tak tinggal diam, warga kembali melawan begitu beredar klaim perusahaan tambang soal potensi batu bara di bawah Sungai Santan.

“Ternyata Sungai Santan yang mau dikorbankan untuk peningkatan produksi. Jadi, warga merasa ditipu. Karena, tanda tangan yang ada di pertemuan pertama itu diklaim oleh perusahaan. Bahwa warga yang menghadiri setuju. Padahal, mereka kan tidak tahu kalau Sungai Santan akan ditambang,” kata Taufik.

Penolakan warga ini bukan tanpa sebab. Dampak pertambangan yang dibuka sejak puluhan tahun lalu tetap mengintai. Mereka harus menghadapi bencana tahunan hingga menelan kerugian akibat gagal panen.

“Kalau musim hujan di antara bulan Januari sampai bulan Maret, itu kampung ini terus tenggelam oleh banjir. Hampir tiap minggu banjir datang, sehinggadampaknya adalah ke perekonomian warga. Misalnya lahan-lahan jagung, kelapa, itu gagal panen,” jelas Taufik.

Sungai Santan berada di kecamatan Marangkayu kabupaten Kutai Kartanegara. Sungai ini merupakan urat nadi kehidupan bagi masyarakat di 3 kampung yaitu, Santan ulu, Santan tengah dan santan ilir.

Pekerjaan Taufik belum selesai. Dia dan kawan-kawannya di Tani Muda Santan terus bergerilya membangkitkan kesadaran akan pentingnya merawat alam dan segala isinya. Selamat berjuang!

Simak Video: Tani Muda Santan Melawan

Referensi

  1. "Tani Muda Santan: Melawan Tambang, Menjaga Lingkungan", Kantor Berita KBR, Rabu, 04 September 2019. Diakses tanggal 30 Mei 2020.
  2. "Sungai Kami Tercemar Akibat Tambang Batubara Beroperasi", Mongabay.co.id, 8 September 2016. Diakses taggal 29 Mei 2020
  3. "Belum Puas Mencemari Selama Dua Puluh Tahun, kini PT.Indominco Mandiri malah ingin memindahkan Sungai Santan!", Jatam Nasional, 15 Septemnber 2015. Diakses tanggal 29 Mei 2020
  4. "Laporan tim KBR 68H: Berjuang untuk Sungai Santan", Special Broadcasting Service (SBS), 5 September 2019. Diakses tanggal 29 Mei 2020
  5. "Tani Muda Santan: Melawan Tambang, Menjaga Lingkungan", Channel Youtube Berita KBR, 26 September 2019. Diakses tanggal 30 Mei 2020
×