Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sisi Tersirat dari Idul Fitri di Tengah Pandemi

Minggu, 24 Mei 2020 | 01:00 WIB Last Updated 2020-06-05T18:50:01Z
Ilustrasi masker dan alat pelindung tangan (Foto: Alexas Fotos/ Pixabay) 

SEBUAH keadaan kadang tak bisa benar-benar dilawan, bukan saja oleh seorang semata, melainkan manusia seluruh dunia.

Negara maju, negara berkembang atau apapun istilahnya, caranya sama, lockdown. Padahal yang disebut Korona itu tak benar-benar banyak orang yang tahu, paham, apalagi mengetahui dengan haqqul yakin.

Sebuah fakta bahwa yang invisible bagi indera kadang benar-benar bekerja dan menampar manusia yang kerapkali sok tahu.

CNBC dalam artikelnya "Why scientists are changing their minds and disagreeing during the coronavirus pandemic" menyebutkan bahwa sebagaian saintis bisa dikatakan kewalahan menjawab secara ilmiah, apa ini Korona.

Kata yang menarik dari kesimpulan artikel itu adalah mengubah cara berpikir. Bagi umat Islam tentu saja harus diubah dari cara berpikir biasa menuju cara berpikir Ilahiyah-Nubuwwah.

Sebab kalau dipikir-pikir secara sederhana, menghadapi virus mematikan itu rekomendasi sains ternyata hanya soal penggunaan masker dan hand sanitizer.

Apakah itu sebuah rekomendasi hebat, dan apakah sebuah masker yang tipis dan biasanya dibeli siapapun bisa itu benar-benar bisa membunuh virus?

Konyolnya, dalam situasi seperti itu, harga masker melambung tinggi hingga langka.

Bandingkan dengan rekomendasi Islam, yang menghendaki setiap umatnya mendirikan shalat lima waktu dalam 24 jam.

Berarti, ada 5 kali seorang Muslim mesti membasuh wajah, tangan, sebagian rambut, telinga dan kaki.

Belum lagi ketika Muslim itu menjalankan adab dengan baik, hendak membaca Alquran dia berwudhu. Hendak mengisi dan mengikuti kajian dia berwudhu.

Menariknya, setiap kali wudhu dilakukan, seorang Muslim bukan saja fisiknya yang akan bersih dari kotoran, tetapi juga rahmat Allah datang dan menghapus segala dosa kecil yang menempel akibat kesalahan indera manusia.

Lebih dari itu secara ruhiyah, wudhu yang mengantarkan seorang Muslim mendirikan shalat juga dapat mensucikan hati dan pikiran, sehingga lahir ketenangan dan kebahagiaan. Sebuah kondisi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan daya tahan (imun) badan manusia.

Sebuah artikel menyebutkan bahwa kala bahagia kita akan merasakan optimis yang lebih dari biasanya, lebih mudah dekat dan percaya dengan orang lain, kepercayaan diri meningkat, dan tidak merasa sendiri walaupun di tempat sepi sekalipun.

Lebih dari itu individu yang merasa bahagia akan lebih terhindar dari virus atau bakteri penyebab penyakit.

Hal ini dikarenakan perasaan bahagia membantu mempercepat proses penyerapan vitamin dan mineral dalam tubuh yang akan memperkuat sistem imun kita.

Bagaimana kalau seorang Muslim selama Ramadhan di tengah wabah ia banyak melakukan ibadah, amal shaleh, membahagiakan sesama dengan peduli dan berbagi, akankah ketenangan hati tidak menghampiri hati dan pikirannya?

Oleh karena itu, umat Islam harus bergeser, dari sekedar membaca dengan nama sains ke membaca dengan nama Rabb (Iqra' bismirabbik) dimana semua ini harus disikapi secara mandiri dengan kembali pada bagaimana Islam mengatur kehidupan kita sehari-hari.

Bisa jadi pandemi ini adalah "cara" Allah untuk mengingatkan seluruh umat manusia bahwa mereka rugi kalau tidak membaca dengan nama Rabb yang Maha Menciptakan.

Dan, secara empiris kita bisa saksikan bersama, bahwa banyak pemimpin dunia saat ini frustasi melihat pandemi ini. Karena satu-satunya kultur terkuat mereka dalam hidup hanyalah ekonomi.

Karantina atau lockdwon berarti menghambat ekonomi. Tambah angka kematian meningkat setiap hari. Sisi lain, secara politik ini akan mengguncang tampuk kekuasaan. Sisi lain, hati terus gelisah karena tak ada tempat bersandar. Tuhan tidak dikenal dalam mindset mereka.

Jadi, Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi ini menjadi sebuah puncak bukti bahwa mengapa umat Islam atau kita semua masih merasa tenang, optimis, dan siap berjuang bahkan berjihad di masa mendatang tiada lain karena kita yakin, hidup ini sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Bukan ekonomi, apalagi kekuasaan.

Kita sama-sama lihat, gedung tinggi, milik perusahaan, pemerintah, universitas, dan lain sebagainya kini tak memiliki arti kala manusianya tak lagi harus mendatangi. Apa maknanya? Inilah dunia, kelak akan tiada dan tidak berarti apa-apa.

Apakah kita masih akan mengagumi dunia ini dengan kekaguman yang berlebihan? Allahu a'lam.

Mas Imam Nawawi
1 Syawal 1441 H
×