Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sketsa Wanita Muslimah di Era Modern, Teguh Imannya Meluas Kiprahnya

Senin, 25 Mei 2020 | 02:01 WIB Last Updated 2020-06-05T18:49:45Z


MUSLIMAH, tentu satu frasa yang tak asing lagi di telinga kita. Lantas apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata muslimah? Apakah ia hanya sebatas wanita beragama Islam, perempuan berkerudung, atau wanita yang sering ikut pengajian?

Ciri muslimah yang diungkap di atas tentu begitu adanya. Tapi, pada dasarnya, yang disebut wanita muslimah itu bukan hanya karena dia beragama Islam, berkerudung atau bahkan yang ikut pengajian.

Muslimah adalah wanita beragama Islam yang telah bersyahadat bahwa dirinya berserah diri kepada Allah dengan hanya menyembah dan meminta pertolongan kepada-Nya terhadap segala yang ada di langit dan bumi.

Nah, pada konteks ini kita akan membahas tentang muslimah masa kini. Kok masa kini, memangnya berbeda dengan muslimah pada masa dahulu?

Perlu dipahami terlebih dahulu. Bahwa ketika kita membahas muslimah, maka kita bukan saja bicara tentang kedudukan, tugas dan berbagai seluk-beluk sisi kewanitannya tapi juga tentang peradaban.

Selain sebagai muslimah, ia juga jelas sebagai persona wanita. Muslimah sebagai tiang penopang utama dalam keluarga memang "tidak nampak terlihat" dari luar tapi amat berpengaruh terhadap bangunan tersebut.

Di zaman dahulu, wanita seringkali dipersepsi bertugas untuk mengurus rumah tangga, baik mengurus anak, membereskan rumah, memasak, mengatur keuangan dengan baik dan lain-lain.

Karena itu, karena stigma tersebut, kemudian muncul seliweran pendapat yang terkesan merendahkan wanita yang dianggap tak perlu bersekolah tinggi karena akhirnya nanti hanya mengurus dapur, sumur dan kasur.

Padahal, di dalam Islam, wanita muslimah diposisikan pada derajat yang sangat tinggi. Memang setiap wanita normal memiliki bakat feminimitas tetapi aspek hormonal tersebut bukan berarti merendahkan kedudukan wanita.

Sudah menjadi sunnatullah muslimah diberikan kemampuan lebih untuk mengurus dapur, melahirkan, bahkan mengurus anak dan membesarkan anak-anaknya. Namun kaum feminis radikal kerap medemoralisasi potensi wanita tersebut sebagai bentuk penjajahan terhadap wanita.

Karena kegusaran yang berlandas pada pemahaman dangkal yang tidak final terhadap struktur kehidupan dan mekanisme penciptaan, feminis radikal lantas menciptakan istilah "patriarki" sebagai sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti.

Namun realitas itu bisa kita maklumi, sebab, feminis nampaknya lebih melandaskan pandangan-pandangan radikalnnya pada sejarah empiris kegelapan Barat masa lalu yang memang, kita tahu, sarat dengan praktik absurd atas harkat dan martabat wanita.

Adapun di dalam Islam, wanita muslimah sangatlah dimuliakan, dihormati serta memiliki peranan penting di dalam masyarakat. Kiprahnya menyejarah. Sebutlah mereka misalnya Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq sebagai,Fathimah az-Zahra, Zainab binti Jahsy, Hafshah binti Umar, Ummu Kultsum binti Uqbah dan masih banyak tokoh wanita muslimah lainnya dalam sejarah peradaan dunia.

Jika ditilik sejarah kehidupannya, sungguh mereka semua adalah muslimah tangguh, berpengaruh, pejuang dan memiliki kontribusi luar biasa terhadap kehidupan umat manusia melalui keteladanan dan kepelayanannya untuk kebaikan.

Muslimah Modern

Muslimah masa kini atau muslimah modern adalah wanita Islam yang teguh imannya, indah perangainya, maslahat keberadaannya, menjaga aurat dan kemuliannya serta dapat melakukan semua hal (multi tasking) bukan hanya sebatas pekerjaan rumah tangga tapi juga mampu berkiprah lebih dari sekedar lingkaran komunitasnya.

Saat ini wanita muslimah telah berhasil membuktikan bahwa pendidikan yang tinggi tidak hanya untuk para pria tapi juga wanita. Kesadaran wanita menempuh pendidikan lebih tinggi karena menyadari bahwasanya madrasah pertama bagi anak-anaknya adalah dirinya sehingga ia perlu membekali diri.

Jika seorang wanita berpendidikan lebih tinggi maka ia akan memiliki pemahaman dan pengetahuan yang lebih banyak, bukan saja soal ilmu eksakta, sosial, kedirian, namun juga bekal ilmu kepengasuhan dan keagamaan sehingga ia semakin tercerahkan dengan cahaya Islam.

Dalam agama Islam, wanita sangat dimuliakan bahkan ada peribahasa mengatakan “surga di bawah telapak kaki ibu” saking Islam sangat meninggikan martabat wanita.

Betapa tidak, wanita yang mengandung selama 9 bulan 10 hari, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui selama 2 tahun, merawat anak anaknya hingga dewasa dan menjadi generasi penerus bangsa dan pelanjut risalah agama.

Sebagia wanita muslim, sekarang saatnya kita bertanya apakah kita sudah pantas dan siap menjadi figur muslimah modern dengan ciri-ciri seperti telah disebutkan di atas.

Muslimah modern sebagai prototype wanita yang teguh imannya dan menjaga kemuliannya sebagai wanita Islam, merupakan mercusuar yang menerangi kegelapan. Muslimah yang kelak meletakkan pondasi peradaban mulia karena fungsi luar biasanya sebagai arsitek peradaban untuk generasi penerus kita.

Lantas, apa saja sih yang harus kita siapkan sebagai muslimah modern dan calon arsitek peradaban? Berikut ini ulasannya.

1. Kuatkan Takwa

Mari terus berusaha menjadi muslimah yang bertakwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan Allah SWT. Hal tersebut sangat penting tidak hanya untuk calon arsitek peradaban tapi juga untuk kita semua.

Ketakwaan kepada Allah adalah pondasi utama kita selaku umat Islam dan dari hal tersebut kita akan mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Karna Allah memandang manusia bukan dari paras wajah, status sosial, kaya atau miskin.  Allah memandang manusia dari tingkat ketakwaan kepada-Nya.

2. Visioner

Mempunyai visi atau tujuan-tujuan di masa yang akan datang merukana modal penting yang musti kita miliki sebagai muslimah modern. Kita sebagai calon arsitek peradaban sangat dituntut untuk mempunyai tujuan yang jelas di masa depan termasuk dalam mempersiapkan generasi bekualitas.

Sebagai muslimah, harus disadari bahwa anak itu sebagai aset kita, sebagai generasi penerus bangsa dan umat. Kita jadikan anak bukan hanya sebagai aset dunia tapi juga aset akhirat dengan memberikan pendidikan agama yang baik mengajarkan akhlak yang baik agar akhlak anak kita kelak tidak tergerus oleh zaman,

3. Terus Belajar

Terus belajar dan berupaya menguasai Ilmu.  Sebagia madrasah pertama bagi anak-anaknya, seorang ibu harus menguasai ilmu, terutama ilmu dalam mendidik anak. Karena, mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Harus ada ilmu ilmu yang harus kita pelajari, baik dari fase perkembangan anak, bahasa anak, manajemen untuk mendidik anak dan manajemen waktu untuk mengurus rumah tangga.

4. Asah Kepedulian

Muslimah modern dengan peran pentingnya sebagai calon arsitek peradaban, ada yang tak boleh dilupakan yakni peduli akan umat. Kepedulian ini untuk menciptakan generasi peduli umat.

Seorang muslimah yang baik, sadar bahwa lingkungan akan berpengaruh terhadap perkembangan anak anak. Maka kita harus menciptakan lingkungan yang baik untuk anak, ketika umat dan lingkungan sekitar kita baik maka akan terciptalah anak yang insya Allah akan baik, mulai dari akhlak, pendidikan, pergaulan dll.

Semoga kelak kita menjadi para muslimah sebagai arsitek peradaban yang, baik saling menasehati dalam kebaikan, saling mengingatkan ketika di antara kita ada yang salah, jangan bosan untuk saling mengingatkan.

Silvi Apriyanti, mahasiswi STEI SEBI semester 2 prodi Perbankan Syariah
×