Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kepemimpinan yang Solutif dan Telaah Leadership Blind Spots

Kamis, 11 Juni 2020 | 13:30 WIB Last Updated 2020-06-11T10:58:05Z
Putri Fauziyah Haqiqi

SERINGKALI kita mendengar bahkan membahas tentang leadership. Misalnya ketika sedang dilakukan pemilihan ketua dalam setiap kegiatan dalam organisasi.

Namun, tahukah Anda, apakah arti dari leadership? Sebagian besar mungkin sudah paham, tapi boleh jadi juga belum mendalami sepenuhnya.

Karena itu di sini kita akan membahas apa itu arti dari leadership, apa saja muatan, sisi, substansi dan mencoba melakukan elaborasi mengenai leadership.

Leadership atau kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang banyak dengan cara memberi pengarahan atau contoh agar orang lain yang dibina mau mengerjakan perintah dan tujuan kelompok atau organisasi.

Menurut saya, leadership kurang lebih sama dengan manajerial/ managerial. Jika leadership berasal dari kata leader atau pemimpin, adapun manajerial asal katanya dari manage. Orang yang me-manage disebut manager.

Artinya, leadership dan manager adalah dua padanan pengertian yang memiliki pengertian yang relatif sama. Namun meskipun sama, keduanya sebenarnya memiliki karakteristik dan bentuk telaahnya sendiri sendiri.

Seorang pemimpin beda dengan manager meskipun keduanya sama-sama memahami bisnis organisasinya dengan baik.

Seorang pemimpin bertanggung jawab dalam menciptakan visi organisasi, konsep bisnis, rencana, serta program untuk mencapai target organisasi. Sementara manager bertanggung jawab atas penerapan dan pencapaiannya.

Karakter dan sifat pemimpin diasarkan kepada beberapa kategori yang berbeda yaitu sifat dan juga intelektual. Sifat karakter kepemimpinan merupakan suatu karunia yang dibawa dari lahir.

Adapun sifat yang harus memiliki kepemimpinan yaitu rasa tanggung jawab, melindungi, peduli, teliti dan hormat atau respek.

Penting ditekankan bahwa melindungi disini amat mendasar karena kewajiban selain mempengaruhi bawahan juga harus melindunginya agar mereka bekerja dengan baik dan sesuai target dan agenda kerjannya.

Kemudian kecakapan intelektual, ini amat urgen sekali dalam konstruk leadership sebab yang pasti dalam membangun jiwa pemimpin mustilah ditopang dengan kadar intelektualnya.

Cara mempertajam intelektual ya dengan cara belajar. Namun calon pemimpin tidak selalu lahir dari altar formal akademik, justru kebanyakan pemimpin lahir karena tempaan lapangan. Dan harus diingat, menjadi pribadi yang berintegritas jauh lebih penting dari sekedar kemampuan intelijensi.

Kemampuan intelijensi tumbuh dari hasil pemupukan. Bangun intelektualisme dengan interaksi, perbanyak literasi, sosialisasi, kontemplasi, berkolaborasi dan berkontribusi pada bidang-bidang yang diamanahi atau diminati.

Setiap manusia dianugerahi jiwa atau bakat pemimpin dan bakat itu jangan sampai hilang. Terus diasah. Umur bukanlah hambatan karena belajar tidak mengenal batas usia. Dinilah kelak jiwa leadership itu bertunas.

Di sisi lain, tidak sedikit permasalahan yang harus dihadapi oleh suatu organisasi atau perusahaan bisnis. Disinilah peran penting seorang pemimpin perusahaan diperlukan untuk menyelesaika masalah.

Kehadiran seorang pemimpin di setiap momen turbulensi sangat diperlukan, namun kehadiran yang benar-benar memahami dan tampil progresif menyelesaikan masalah. Selain itu, leader harus mampu mendorong para bawahan untuk tetap bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Garis besarnya adalah untuk menjadi pemimpin harus memiliki bekal kemampuan berfikir, wawasan luas serta mau belajar dari orang lain. Cikal bakal pemipin adalah mereka yang memiliki karakter pembelajar dan mau menjadi pendengar yang baik.

Di sini penulis merasa perlu menegaskan satu hipotesis bahwa pemimpin yang berpengaruh - baik pemimpin organisasi atau perusahaan bisnis, adalah leader yang kharismatik yang mampu memberikan pengaruh terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Kharisma seorang pempimpin lahir tidak begitu saja. Bukan sekedar aura yang dialirkan oleh faktor-faktor eksoteris dan esoterik, juga dipengaruhi oleh apa yang ingin saya sebut sebagai faktor transendental.

Pemimpin yang tidak berkharisma biasanya tak punya pengaruh. Dia memang dipatuhi tapi tak disegani. Namun kepatuhan itu bukan karena panggilan hati tapi karena ditakuti. Pemimpin tanpa kharisma bahkan berpotensi membuat kekacauan seperti diintrodusir oleh John C Maxwell.

Dalam salah satu artikelnya yang berjudul Leadership Blind Spots, John C Maxwell mendentifikasi ada 4 titik buta utama yang dihadapi dan dimiliki oleh seorang pemimpin yang sangat kuat daya rusaknya terhadap kepemimpinnya yang dijalankan.

Pertama, Perspektif Sempit (A Narrow Perspective). Maxwell menukil Larry Stephens berkata, "Jika satu-satunya alat yang Anda miliki adalah palu, Anda cenderung melihat setiap masalah sebagai paku". Ini sangat berbahaya karena sesungguhnya seorang leader itu pada dasarnya berpikir strategis dan berorientasi pada tindakan. Mereka melihat masalah dan bergerak cepat untuk menyelesaikannya.

Kedua, Ketidakamanan (insecurity). Ketidakamanan pada dasarnya menyebabkan para pemimpin hanya memikirkan diri mereka sendiri. Akibatnya menjadi sangat merusak, karena seorang pemimpin yang benar bukan fokus dan memikirkan diri sendiri, tetapi inti leadership adalah tentang orang lain, followers dan mereka yang dipimpin.

Ada banyak indikator atau gejala ketidakamanan ini bagi seorang pemimpin. Apabila Anda memiliki salah satu dari gejala berikut, Anda mungkin menjadi pemimpin yang tidak aman, dan karenanya kenalilah dengan baik. Dan Anda mungkin perlu mendapatkan bantuan dari mentor atau konselor objektif untuk mengatasi rasa tidak aman Anda.

Inilah sejumlah indikator atau gejala yang menjelaskan tentang ketidakamanan kepemimpinan meliputi: informasi yang menumpuk, membatasi hubungan pengikut kepada 
pemimpin lain, merasa terancam oleh pertumbuhan orang lain dan gaya mikro manajer.

Dan hal mendasar inilah yang sangat sering dilakukan secara keliru oleh banyak pemimpin, yaitu tidak dapat memimpin orang jika membutuhkan orang.

Atau jika Anda perlu mengendalikannya Hendak menjelaskan bahwa kepentingan pribadi diri sendiri seorang pemimpin pada orang lain, apalagi pada pengikutnya menjadi blind spots yang sangat merusak.

Ketiga, masih menurut Maxwell, adanya ego di luar kontrol (out-of-control ego). Bila dicermati dengan sungguh-sungguh, maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya "harga diri adalah musuh terbesar diri sendiri seorang pemimpin."

John Ruskin pernah berkata bahwa "Kebanggaan ada di dasar semua kesalahan besar." Karena ini menyangkut kecenderungan yang sangat kuat untuk melahirkan seorang pemimpin yang sombong!

Rasa tidak aman dan kesombongan membuat pemimpin hanya fokus pada dirinya sendiri, bukan yang dipimpinnya. Bahkan ia mengabaikan dan tidak menganggap berharga orang yang dipimpin dan orang lain. Matanya menjadi buta untuk menjaga dan meningkatkan harga diri menuju puncak arogansi.

Salah satu cara yang jitu untuk mengatasi kesombongan seorang pemimpin adalah dengan rasa terima kasih. Pemimpin yang berterima kasih, menjelaskan sikap kerendahan hatinya. Mengakui dukungan orang lain atas keberhasilannya dan karenanya berterima kasih.

Jadi, seorang pemimpin atau leader harus dapat memposisikan dirinya secara terkendali dalam kondisi apapun.

Sekian artikel yang saya ringkas. Semoga mampu menambah wawasan kawan-kawan sekalian. Terimakasih.

PUTRI FAUZIYAH HAQIQI
×