Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kesejahteraan Nelayan dan IUU Fishing Jadi Fokus Indonesia pada Forum IORA

Selasa, 23 Juni 2020 | 22:09 WIB Last Updated 2020-06-23T22:45:00Z
Penyelenggaraan the 1st Meeting of IORA Cluster Group on Fisheries Management (CGFM) dilaksanakan secara virtual oleh Kementerian Luar Negeri bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (Foto: kemlu.go.id)

JAKARTA – Di tengah pandemi global COVID-19, Indonesia konsisten mendorong kemitraan regional di Kawasan Samudra Hindia dalam kerangka Indian Ocean Rim Association (IORA) dengan menginisiasi pendirian Kelompok Kerja Sama Pengelolaan Perikanan.

Inisiatif tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan the 1st Meeting of IORA Cluster Group on Fisheries Management (CGFM) yang dilaksanakan secara virtual oleh Kementerian Luar Negeri bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Selasa (23/06/2020).

Kelompok Kerja ini terdiri dari para pemangku kepentingan di bidang perikanan, baik dari kalangan swasta maupun pemerintah dari sembilan negara, yakni Bangladesh, Iran, Indonesia, Kenya, Madagaskar, Mauritius, Oman, Tanzania, Thailand dan lembaga think-tank dalam kerangka IORA yang menangani isu perikanan yaitu IORA Fisheries Support Unit (FSU).

Kelompok kerja ini nantinya akan bertugas untuk mendiskusikan permasalahan perikanan secara lebih menyeluruh di Samudra Hindia.

Inisiatif Indonesia di Samudra Hindia diharapkan dapat mendukung visi dan implementasi kerja sama Indo Pacific yang damai dan sejahtera.

Selanjutnya, kepemimpinan Indonesia di bidang kelautan dan perikanan dalam forum IORA diharapkan berkontribusi pada diplomasi ekonomi, mendorong berbagai isu kelautan dan perikanan, mencegah IUU Fishing, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan di daerah pesisir, yang menjadi salah satu kepentingan dan prioritas nasional.

“Saat ini kita menghadapi COVID-19 sebagai musuh bersama. Sebagai organisasi dengan negara-negara anggota yang berada di Samudra Hindia, sudah sepatutnya IORA berfokus kembali kepada potensi kerja sama kelautan, termasuk sektor perikanan," ujar  Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya, saat pembukaan pertemuan tersebut secara daring.

Kelompok Kerja Perikanan dibentuk untuk menghasilkan program konkret dalam mendukung pemulihan ekonomi paska pandemi, khususnya meningkatkan kesejahteraan nelayan, mendorong pariwisata bahari di Samudra Hindia, dan meningkatkan perdagangan dan investasi perikanan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Zulficar Mochtar, menegaskan bahwa lebih dari 3,5 juta nelayan di Indonesia terkena dampak pandemi.

Di samping itu, penangkapan ikan secara ilegal, dampak perubahan iklim, sampah plastik, dan berkurangnya stok ikan adalah masalah yang kerap dihadapi oleh para nelayan saat ini.

“Melalui upaya kolektif di forum IORA, diharapkan dapat berkontribusi pada penghidupan, penyediaan lapangan kerja, ketahanan pangan, dan pengentasan kemiskinan bagi masyarakat kelautan dan perikanan," jelas Zulficar.

Pertemuan ini menyepakati sejumlah dokumen strategis, antara lain Kerangka Acuan Kerja pendirian Kelompok Kerja Perikanan dan rancangan Program Kerja yang akan diimplementasikan dalam jangka pendek, menengah dan panjang di bidang perikanan di IORA.

Indonesia selama ini berperan aktif di forum IORA, antara lain sebagai Wakil Ketua IORA pada 2013-2014 dan Ketua IORA 2015-2017.

Dalam kurun waktu tersebut, Indonesia berhasil meningkatkan profil IORA melalui penyelenggaraan KTT IORA pertama pada Maret 2017 di Jakarta dan sukses menformulasikan visi penguatan kerja sama kelautan dan kemaritiman yang tercakup dalam Jakarta Concord 2017.

Pembentukan Kelompo​k Kerja ini merupakan tindak lanjut dari the Jakarta Concord dan IORA Action Plan 2017-2021. (kemlu)
×