Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Membaca George Floyd, Kegentingan Amerika dan Bagaimana Menyikapinya

Senin, 01 Juni 2020 | 01:26 WIB Last Updated 2020-06-05T18:39:39Z
Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di luar kantor Polisi Minneapolis yang terbakar, Kamis, 28 Mei 2020, di Minneapolis. Protes dilakukan atas kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal dalam tahanan polisi Senin, pecah di Minneapolis untuk malam ketiga berturut-turut (Foto: John Minchillo | AP via Sltrib)

DUNIA terkejut, ketika kematian seorang George Floyd oleh oknum polisi di Minneapolis Amerika telah memicu “gerakan sosial” masif yang menjadikan 26 kota di Amerika harus memberlakukan jam malam.

Mata dunia seakan-akan dipaksa melihat bahwa Amerika yang konon adi daya ternyata rapuh di dalamnya.

Narasi yang mengikuti kejadian ini adalah ketidakadilan dan diskriminasi, dimana masyarakat kulit hitam kerap diposisikan secara buruk. Sedangkan kulit putih menjadi kelompok yang hidupnya lebih baik dalam banyak sisi.

Seorang sahabat mengirimkan opininya kepada saya bahwa apa yang belakangan terjadi di Amerika adalah puncak dari luka sejarah lama yang terus dibiarkan menganga. Akibatnya, kini gejolak massa tidak lagi terbendung.

Secara eksternal, Amerika sedang panas-panasnya berhadapan dengan China dalam banyak kepentingan, terutama politik dan ekonomi. Keduanya telah melempar ke publik beragam aksi dan reaksi yang nampaknya akan cenderung kian sengit.

Lantas bagaimana semestinya kita memandang fakta luar biasa ini?

Pertama, sebagai insan muda yang memiliki visi peradaban, cara kita melihat fenomena belakangan ini tetap dalam bingkai manhaj nubuwwah, dimana setiap peradaban pasti akan bertemu dengan kata akhir. Dalam bahasa Ibn Khaldun, akan mengalami masa lahir dan masa mati.

Itu karena peradaban dalam pandangan bapak sosiologi itu bisa diibaratkan seperti manusia itu sendiri yang lahir, tumbuh lalu dewasa dan meninggal dunia.

Bisa dikatakan, boleh jadi ini adalah sesi akhir dari peradaban kapitalisme yang dipresentasikan Amerika yang saat itu terjadi, kapitalisme akan berbenturan kuat dengan komunisme. Jika itu benar-benar terjadi, maka dunia mengalami “kekosongan” peradaban.

Dalam bahasa Islam jelas, bahwa kejayaan dan kelemahan adalah dua kondisi yang akan “menyapa” siapa saja, sebagai sebuah keniscayaan dari ketetapan-Nya atas kehidupan dunia ini. Di mana sisi yang paling penting adalah apakah diri tetap dalam iman dan siap menjadi saksi-saksi kebenaran, keadilan, dan keadaban.

Kedua, sebagaimana pandangan pada poin pertama, benturan Kapitalisme dan Komunisme adalah sebuah keniscayaan siklus, seperti benturan antara Romawi dan Persia pada masa Islam baru lahir dan belum dikenal sebagai entitas peradaban.

Dan, secara psikologis, kini tidak sedikit orang-orang di dunia yang melihat secara langsung bahwa apa yang selama ini ada, yang tampak sebagai kekuatan dan gengsi keduanya, ternyata berdiri tegak di atas landasan yang rapuh.

Ketiga, fokus pada manhaj itu sendiri. Saat Romawi dan Persia berbenturan, Nabi Muhammad SAW yang kala itu baru mendapat risalah fokus membangun manusia-manusia bermental dan bervisi peradaban.

Artinya, kita tidak mungkin menjadi komunitas kuat di dunia ini hanya dengan banyak komentar, mengulas atau apapun dari apa yang terjadi. Tetapi, kita memiliki kesempatan untuk melakukan akselerasi pembentukan karakter sesuai manhaj dan visi untuk tampil menawarkan solusi baru bagi peradaban dunia.

Di sini, biasanya banyak orang akan tumbang, karena perjalanan jauh, bukan seperti tim sukses pemilu yang di depan mata tersaji aroma jabatan dan kekuasaan.

Tetapi sudah menjadi hukum sejarah, bahwa para penegak peradaban tidaklah banyak orang, baik dari sisi konsep, implementator, maupun pengembang.

Dari tiga poin di atas, langkah yang paling mungkin dilakukan adalah menguatkan gerakan dakwah peradaban itu sendiri. Sebagai contoh, soal warna kulit misalnya. Islam tidak pernah memandang derajat manusia itu dari permukaan dan perbedaan warna, suku dan sebagainya.

Kriteria dasar Islam memandang orang baik, mulia atau tidak adalah pada hatinya, bertaqwa atau tidak.

Pada saat yang sama, kita bisa gunakan metode Nabi dalam dakwah di fase Makkah, dengan mendominankan sabar, ibadah, dzikir dan tilawah Al-Qur’an secara tekun dan berkesinambungan. Ini penting sekali, karena dunia sekarang tidak lagi melihat teknologi dan militer semata.

Lebih dari itu, melakukan semua itu akan menjadikan jiwa raga kita memiliki energi besar dalam kebaikan dan penegakan dakwah peradaban.

Selanjutnya, sisi yang tak kalah penting dilakukan oleh kaum muda adalah mengenal dengan baik konstalasi politik global, sehingga ada kemampuan membaca keadaan sekaligus menyiapkan respon efektif, sehingga umat Islam tidak lagi menjadi buih yang hanya dihempas oleh permainan gelombang di tengah lautan.

Langkah ini bisa dicapai dengan banyak melakukan aktivitas membaca, sharing dan diskusi perihal sejarah, politik hingga peradaban, sehingga ada kemampuan memadai diri dalam melihat, memberikan opini bahkan rekomendasi aksi yang dibutuhkan.

Sebab, apa yang sekarang terjadi pada dasarnya adalah transisi peradaban, yang, kalau umat Islam “gagal” melihatnya sebagai momentum, maka bukan tidak mungkin kita akan terus pandai “menyanyikan” Islam sebagai keindahan, namun tidak benar-benar merasakannya dalam kehidupan yang sesungguhnya. Allahu a’lam.*

IMAM NAWAWI, kolumnis
×