Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Petani Muda Santan Panen Hasil Kebun di Masa Pandemi Covid-19

Senin, 08 Juni 2020 | 15:00 WIB Last Updated 2020-06-08T09:27:36Z
Berbagai jenis pangan lokal yang dikelola Tani Muda Santan (Foto: Facebook Tani Muda Santan)

KUTAI KARTANEGARA - Di tengah meluasnya candaan sebagai "generasi rebahan" yang sebenarnya terkesan sebagai stigma negatif terhadap anak muda, ada sekelompok millenial yang aktif melakukan perubahan.

Hal tersebut seperti ditunjukkan oleh komunitas Tani Muda Santan di Kampung Santan, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kendati bangsa sedang dirundung lara karena wabah corona (Covid-19), petani millenial ini terus menggiatkan gerakan ketahanan pangan dengan berkebun berbagai jenis konsumsi pangan lokal.

Mereka bergerak, membangun konsolidasi dan melakukan pengabdian masyarakat dengan aktif mengkampanyekan gerakan ketahanan pangan.

"Hari ini Tani Muda Santan melakukan panen yang ditanam beberapa bulan yang lalu dimasa pandemi covid19. Ayo menanam biar nggak impor pangan terus dari China,"  kata Ketua Tani Muda Santan, Taufik Iskandar, dikutip Nasional.news dari keterangannya di Facebook resminya, Senin (8/6/2020).

Menurut Taufik, pangan lokal adalah sumber strategis yang dapat mendukung terwujudnya sistem pangan sehat dengan cara menanam sendiri di kebun ataupun di pekarangan rumah.

"Mari memproduksi pangan lokal yang aman dan bergizi. Pangan yang terjamin keamanan dan kualitas gizinya dapat menjamin berlangsungnya regenerasi yang sehat dan produktif," imbuh aktifis yang getol menyuarakan penguatan gerakan pemandirian ekonomi tanding ini.

Ekonomi tanding yang dimaksud adalah mendukung seluruh bentuk-bentuk ekonomi pilihan rakyat yang non batubara.
Salah satu lahan perkebunan yang dikelola oleh Tani Muda Santan (Foto: Facebook Tani Muda Santan)

Membangun ekonomi tanding dengan menguatkan produksi pangan lokal untuk melawan ekonomi batubara dipandang sebagai satu cara mujarab mencegah meluasnya ekspansi industri batubara baik pertambangan hingga pembakaran batubara.

Riset Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dalam buku buku "Mengarak Ekonomi Tanding", mengemukakan bahwa selain umur kegiatan tambang yang pendek, sementara dampaknya terus berkelanjutan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dampak ekonomi batubara hanya dinikmati oleh pemerintah melalui pajak dan tenaga kerja dari luar yang memiliki keterampilan dan pendidikan khusus. Sementara, ekonomi warga yang bergantung pada alam telah membawa dampak ekonomi langsung pada warga.

Ada jurang yang menganga pada perlindungan ekonomi warga yang telah menghidupi puluhan atau ratusan tahun hingga saat ini.

Selain terdapat gejala ekonomi tambang merenggut ekonomi setempat yang sudah ada, juga yang paling riskan yakni mewariskan sedimentasi sosial berupa perpecahan warga antara yang pro dan kontra.
×