Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sejarah Masuknya Agama Islam di Tanah Rongkong Luwu Utara Sulsel

Sabtu, 20 Juni 2020 | 11:20 WIB Last Updated 2020-06-25T10:30:29Z
Salah seorang petuah (matua mangganan) atau tokoh adat Rongkong Sitantu Panapi (Foto: Alamsyah/ Nasional.news)

LUWU UTARA - Pada 1954, Rinding Allo di Tanah Rongkong pernah menjadi kampung tak berpenghuni. Penyebabnya adalah konflik DI/TII yang dipimpin Kahar Muzakkar dengan tentara republik.

Pada masa itu dusun-dusun di Rinding Allo menjadi salah satu tempat persembunyian pasukan Kahar. Oleh tentara republik kampung ini dikosongkan, rumah-rumah dan lumbung padi dibakar.

Yang menarik, Kahar Muzakkar adalah tokoh penyebar ajaran Islam di kawasan yang masyarakatnya dulu penganut animisme ini.

Sebelum Islam masuk di tanah Rongkong, masyarakat di dusun ini berpegang atau berkeyakinan kepada kepercayaan agama Aluq, sebuah keyakinan animisme yang menyembah dewa.

Menurut penuturan salah satu petuah (matua mangganan) atau tokoh adat di Rongkong bernama Sitantu Panapi, suku Rongkong yang berada di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, mulai mengenal Islam melalui jalur perdagangan.

Para pedagang asal Bugis dan Enrekang yang notabene adalah muslim itu masuk ke tanah Rongkong untuk berniaga sambil berdakwah mengajarkan Islam.

"Masuknya Islam di Rongkong juga karena perantau asal Rongkong yang merantau di negeri orang yang pulang dengan membawa keyakinan keislaman," kata Sitantu Panapi kepada Nasional.news beberapa waktu lalu.

Dari asimilasi dan interaksi itu, Islam kemudian mulai dikenal di kalangan masyarakat Rongkong.

Sitantu Panapi menyebutkan, umumnya masyarakat tertarik dengan Islam karena melihat bahwasanya agama ini adalah agama yang bersih, agama yang mengajarkan tentang adab dan pada akhirnya masyarakat Rongkong tertarik dan memilih menjadi seorang muallaf.

Karena dalam Islam dianjurkan mempunyai tempat ibadah berupa masjid, maka para pedagang asal Bugis dan Enrekang berkerjasama dengan para muallaf masyarakat suku Rongkong mendirikan masjid di salah satu desa tepatnya di  Salutallang. Dan, di situlah masjid pertama yang ada di kawasan Rongkong.

Ketika penjajah Belanda masuk ke tanah Rongkong dimasa sebelum kemerdekaan negara Republik Indonesia, umat muslim kala itu menghadapi tantangan yang tidak ringan karena tekanan penjajah.

Penjajah Belanda menyatroni rumah rumah penduduk dan mulai melakukan tindakan diskrimantif dengan menerapkan ketentuan bahwa semua orang Islam laki laki dewasa semuanya digundul. Tujuannya, agar penjajah Belanda bisa mengidentifikasi mereka.

Kedatangan penjajah Belanda rupanya juga memiliki misi lain yakni menyebarkan agama tertentu yang akhirnya lahirlah 3 keyakinan di suku Rongkong yaitu agama Aluq (animisme ), agama Islam dan nasrani.

Ketika Kahar Muzakkar datang di kampung Rongkong itu pada tahun 1951-1954, ia pun mengungkapkan keresahannya, bahwa agama aluq tidak benar. Kahar Muzakkar dan anak buahnya berupaya meluruskan ajaran yang dianggap menyimpang tersebut.

Maka dari itu Kahar Muzakkar pun meminta bahkan memaksa orang orang Rongkong yang menganut keyakinan Aluq dan nasrani untuk masuk Islam. Jika tidak, maka akan menerima konsekwensi mati.

Lambat laun masyarakat Rongkong pun dengan suka rela masuk Islam, namun tak sedikit yang terpaksa demi keselamatan diri. Diantara mereka juga ada juga yang melarikan diri ke Sabbang dan daerah daerah lainnya.

Dikisahkan Sitantu Panapi, dalam proses dakwahnya, Kahar Muzakkar bersama anak buahnya yang pertama kali diajarkan adalah tentang Tauhid dan tata cara shalat.

"Setelah itu ajaran-ajaran yang lain diberikan secara bertahap mengikuti kultur adat masyarakat di daerah itu," kata Sitantu Panapi.

Ketika masyarakat Rongkong sudah masuk ke dalam agama Islam, maka Kahar Muzakkar menyerukan agar setiap desa membangun masjid untuk tempat beribadah karena masjid yang dibangun oleh pedagang pedagang dari Bugis bersama para mualaf masyarakat Rongkong yang bertempat di Salutallang sudah mulai rapuh.

Sejak itu masyarakat Rongkong menjadi  mayoritas Islam. Berbagai hukum hukum adat yang bertantangan dengan syariat Islam secara bertahap dihapuskan.

Kebijakan itu sesuai dengan lontaran Luwu, patuppu riadae passanderi sara'e, yang artinya, "hukum adat yang sesuai dengan norma-norma kebiasaan tradisi harus dijalankan dan berdasarkan kepada syariat agama”.

Adapun hukum adat yang tidak bertentangan dengan agama, tetap dijalankan dan dilaksanakan sampai sekarang.

Sedangkan tantangan untuk saat ini, banyak muncul wacana dari beberapa tokoh masyarakat adat Rongkong untuk kembali membangkitkan proses budaya yang telah hilang dari kebudayaan Rongkong itu sendiri.

Tapi perlu digarisbawahi bahwa kondisi objektif dari masyarakat Rongkong untuk saat ini sudah diakomodir oleh ummat Islam yang mayoritas di kawasan ini.

Maka, konsekuensinya, proses budaya yang hari ini diikhtiarkan oleh sebagian toko adat Rongkong itu tetap harus disesuaikan dengan nilai nilai keislaman.

ALAMSYAH
×