Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Berorganisasi Membuat Pemuda Lebih Progresif

Senin, 28 September 2020 | 08:33 WIB Last Updated 2020-09-28T07:18:00Z

Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi (Foto: Ismatullah/ Nasional.news)


JAKARTA - Semangat pemuda dalam berorganisasi, seharusnya tidak pernah padam. Karena melalui organisasi ini, progresivitas dan produktivitas pemuda akan lebih pesat, dan langgeng, dibanding ia bergerak secara inidividu.


Demikian dikatakan Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, dalam wawancaranya dengan media ini beberapa waktu lalu. Urgensinya ia ibaratkan oksigen dan air bagi kebutuhan manusia yang hidup di muka bumi. 


“Yang namanya makhluk hidup, sudah pasti membutuhkan oksigen yang bagus untuk bernafas, dan air yang jernih guna menghilangkan dahaga. Tanpa keduanya manusia bisa mati. Jadi, sangat penting,” tegasnya.


Lebih-lebih sebagai generasi muda Islam, sambung sosok kelahiran 35 tahun silam ini, telah menjadi keniscayaan untuk hidup berjamaah. Karena sudah menjadi tuntunan agama. Nash nash yang menyeru untuk berhimpun itu jelas. Dilarang bercerai-berai. Merapat. Jaga lurus barisan. Jangan bengkok. 


Shoffan kannahum bunyanum marshuush (....dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh),” ujarnya, mengutip surat Ash-Shof: 4).


Penulis buku Mindset Surga ini kemudian mengungkapkan sebuah fakta sejarah, bahwa, tidak bisa dipungkiri adanya perubahan sejarah di muka bumi ini, dilatari oleh kaum muda yang memiliki jiwa juang tinggi, dan ketaatan dalam komando organisasi/ jamaah. 


“Tidak usah jauh-jauh membuka jejak sejarah Islam di zaman Nabi ataupu para khalifah setelah beliau. Kemerdekaan Indonesia sendiri, dipelopori oleh tokoh-tokoh yang berjiwa organisatoris. Maka muncullah organisasi keummatan semisal Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Termasuk Hidayatullah. Pencetusnya adalah para aktivis,”  ungkap pengidola buku sejarah dan pemikiran Islam ini. 


Didasari fakta-fakta demikian, terang Imam, telah terjadi konsep berpikir yang keliru pada generasi pemuda, bila sampai lesu dalam berorganisasi. Hal itu harus diubah. Langkah awalnya dengan membenahi pola pikir; bahwa berorganisasi itu bukanlah beban atau penambah masalah. Tapi keharusan untuk menghasilkan percepatan dalam merealisasikan ide-ide besar. 


Berdasarkan pengalamannya terjun ke beberapa daerah. Ia mendapati banyak potensi anak muda yang terbengkalai. Akhirnya tidak termaksimalkan. Termasuk masalah ekonomi. 


Padahal, kata dia, kiranya itu terjaring dalam kemitraan, bukan mustahil bisa menjadi solusi mengetaskan kemiskinan. Layaknya Nabi Yusuf, yang mampu tampil sebagai problem solver ancaman krisis yang menimpa Mesir. Lebih-lebih di masa pandemi seperti saat ini.


“Realitas itulah yang saya rekam, dari beberapa kunjungan ke daerah-daerah,” ujar alumni pasca sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini.  


Progresif Beradab


Imam Nawawi dilantik menjadi Ketua Umum Pemuda Hidayatullah pada bulan Januari lalu. Ia terpilih secara aklamasi, setelah forum musyawarah, menyepakati dirinya untuk menakhkodai organisasi kepemudaan ini. Pada pengutusan sebelumnya, ia diamanahi sebagaia Sekretaris Jenderal.


Lalu, kemana Pemuda Hidayatullah di masa kepemimpinannya ini akan menuju?


Kata Imam, kalau dari sisi sprit dia ingin membangun pemuda yang  progresif beradab. Artinya maju sekencang-kencangnya, tapi tidak kehilangan identitas. 


Realitas semacam itu salah satu persoalan yang menurutnya tengah menimpa generasi milenial saat ini. Mampu mengikuti perkembangan zaman. Bahkan survive. Namun identitas diri sebagai muslim tertanggalkan, terutama yang bersangkutan masalah implementasi adab.


Sebagai bentuk ikhtiar mewujudkan apa yang menjadi visi itu, mantan presiden BEM STAIL Surabaya ini mengaku, bersama jajaran pengurus lain bersepakat untuk tidak terlalu banyak progam yang ditawarkan. Yang penting adalah fokus dan target pencapaian jelas.


“Karena Pemuda Hidayatullah organisasi dakwah, maka perkaderan menjadi prioritas utama. Bentuknya melalui beragam training, dakwah kampus, dakwah al-Quran bersanad, serta berusaha menghadirkan centra-centra Quran di ruang publik.,” paparnya.


“Hal lain yang terus digenjot,” imbuh suami Mia Kusmiati ini, “upgrading pengurus pusat sampai ke daerah, agar lebih aktif mengotimalkan dakwah digital, baik dengan channel YouTube, media sosial, dan lainnya. Dengan demikian,  dakwah online dan offline sama-sama kuat".



Selain itu, persoalan ekonomi juga menjadin perhatiannya. Karena itu Pemuda Hidayatullah berusaha untuk menggandeng banyak mitra ikut terlibat. Salah satunya adalah pengembangan pertanian hidroponik, seperti yang ada di Kebumen, Jawa Tengah. 


Poin penting dari ini semua, ujar Imam, setiap kader pemuda dimanapun berada, haruslah punya komitmen untuk berpegang dengan apa yang telah menjadi manhaj organisasi. Inilah menurut dia yang menjadi spirit gerak, para generasi awal, sehingga Hidayatullah bisa menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.


Selain itu, tumbuhkan juga keinginan kuat memberikan manfaat di tempat berada. Sekecil apapun bentuknya. Sesuai dengan kemampuan. Karena Allah pun, tidak menuntut hamba-Nya meleihi dari kapasitas diri.  


“Singkatnya, setiap kader Pemuda Hidayatullah haruslah hadir membawa solusi walau hanya sebatas komunitas, se-RT, se-kampung dan seterusnya,” tegas penulis aktif harian Republika ini.


Spirit Munas


Pada akhir Oktober ini, ormas Hidayatullah akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) V, secara virtual. Sebagai kader muda organisasi, Imam berharap, momentum Munas kali ini, salah satu pencapaiannya, mampu melahirkan  gagasan yang secara langsung bisa menjadi penguat peran pemuda di dalam berkiprah.


Dengan demikian, harap ayah tiga anak ini, Pemuda Hidayatullah dapat benar-benar menjadi wadah perkaderan yang mewarisi nilai, spirit, dan semangat juang para pendirinya, sehingga hadir kebermanfaatan yang lebih luas bagi umat.


Terkhusus untuk kader muda Hidayatullah, himbau Imam, spirit Munas ini, harus menjadi batu loncatan gerak pemuda agar lebih progresif. Tancapkan pula komitmen untuk  terus istikamah berkhidmat pada ummat.


“Para orangtua kita (peserta Munas) telah memberikan keteladanan tentang arti pengabdian kepada bangsa, negara dan agaman. Maka, generasi muda janganlah kalah,”  pungkasnya. (Khairul Hibri)

×