Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Fitrah Berjamaah dan Persatuan sebagai Kunci Kemenangan

Selasa, 22 September 2020 | 11:06 WIB Last Updated 2020-09-22T04:10:10Z

Ilustrasi tangan salam kompak (Pixabay/ Truthseeker08)

Oleh Mazlis B. Mustafa

SETIAP manusia memiliki fitrah berhimpun dan saling bergantung satu sama lain. Yakni kehendak atau keinginan untuk hidup berjamaah. Berkumpul dalam satu ikatan dan perkumpulan di mana mereka merasakan adanya kesamaan sehingga melahirkan rasa nyaman bagi setiap pribadi yang ada di dalamnya. 


Kenyamanan hidup dengan terpenuhinya semua kebutuhan lahiriah tidak menjadi jaminan bahwa seseorang manusia betah untuk hidup sendiri dan karenanya dia tidak membutuhkan orang lain untuk melanjutkan hidup. 


Manusia pertama nan mulia, nenek moyang manusia, Nabi Adam AS adalah contoh nyata dari fitrah berjamaah manusia. Baginda adalah hamba Allah dari kalangan manusia yang mendapatkan nikmat yang sangat langka, yakni merasakan hidup di surga. 


Surga merupakan tempat terindah di mana puncak kenikmatan lahiriyah dapat dicapai yang digambarkan oleh wahyu-wahyu Allah SWT lewat para rasul. Segala keinginan akan dipenuhi dan kenikmatan yang ada di dalamnya digambarkan sebagai yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga dan tak pernah terbayang di benak siapa pun.


Namun, tingginya nikmat surga yang didapatkan oleh Nabi Adam AS ternyata tidak cukup untuk membuatnya bisa ia nikmati sendiri. Ia membutuhkan pasangan di mana ia bisa hidup bersama-sama. Dalam kata lain manusi membutuhkan orang lain untuk hidup berjamaah.


Bagaimana dengan kehidupan manusia di zaman ini? Di kehidupan modern seperti sekarang ini, baik disadari atau tidak, manusia tetap memiliki kecenderungan orang untuk berjamaah. Walaupun redaksi yang digunakan untuk mewujudkan fitrah manusia ini dengan berbagai macam bentuk. 


Mereka yang suka dengan politik maka mereka membentuk serikat atau jamaah yang bernama partai politik. Mereka yang memiliki rasa kepedulian dengan sesame manusia berjamaah dalam organisasi sosial. Mereka yang punya kesamaan hobi, berjamaah dalam klub-klub yang beraneka ragam, mulai dari klub sepak bola, klub basket, klub motor, komunitas gamers sampai perkumpulan gosip ibu-ibu.


Aristoteles, seorang filsuf Yunani,  memperkenalkan istilah “zoon politicon”. Istilah yang ia gunakan untuk menyebut manusia sebagai makhluk social. “zoon” sendiri berarti hewan dan “politicon” berarti bermasyarakat. 


Jadi, dalam pandangan Aristoteles, manusia adalah “hewan yang bermasyarakat”. Di mana manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk hidup. Di sinilah letak perbedaan konsep manusia  sebagai makhluk sosial oleh Aristoteles dengan konsep berjamaah dalam Islam.


Manusia sebagai makhluk sosial hanya dilihat dari sisi kebutuhan “hewani”-nya terhadap keberadaaan orang lain. Sedangkan, konsep berjamaah dalam Islam berdiri di atas landasan kesamaan iman dan visi hidup yang hakiki. Mencakup persoalan lahir dan batin, memadukan orientasi hidup di dunia dan kebahagiaan hidup yang kekal abadi di akhirat kelak. 


Pentingnya Hidup Berjamaah

Hidup berjamaah dalam Islam merupakan perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an Surah Ali Imran 103.


واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا

Artinya, “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan bercerai berai!” (QS Ali Imran: 103).


Di dalam kitab tafsirnya yang dikenal sebagai Tafsir al-Baghawi, juz 2, halaman 103, al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan mengenai urgensi persatuan sebagaimana tersirat dari Surat Ali Imran [3] ayat 103 di atas. 


Di dalam penafsirannya yang memgambil riwayat dari Ibnu Mas'ud, bahwa bersatu dan menjaga kekompakan (jamaah) merupakan perkara yang ditekankan oleh syariat. Ia menyatakan; “(wa’tashimu bi habli al-lahi jami’an)” memiliki makna al-hablu (dalam ayat ini) adalah suatu sebab yang bisa mengantarkan pada tercapainya cita-cita. 


Iman dinisbatkan maknanya dengan tali karena iman merupakan sebab bagi tercapainya tujuan, yaitu hilangnya rasa takut/ kekhawatiran. Ibnu Mas’ud berkata: “al-habl itu adalah jama’ah. Lebih jauh ia menjelaskan: (seolah ayat tersebut bermakna) wajib atas kalian berjamaah". 


"Karena sesungguhnya jamaah merupakan tali Allah yang dengannya Allah menyampaikan perintah. Sesungguhnya sesuatu yang kalian benci bersama jama’ah dan ketaatan adalah lebih baik dibanding dengan sesuatu yang kalian benci dalam kondisi perpecahan/ tercerai berai”


Amirul Mukminin Umar bin Khattab, dalam pernyataannya yang sangat mahsyur mengatakan “bahwasanya tidak ada Islam kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan keamiran, dan tidak ada keamiran kecuali dengan ketaatan.” 


Sampai di sini, kita bisa melihat betapa pentingnya hidup berjamaah bagi umat Islam. Dalam Al Quran surah Ali Imran ayat 103 menjelaskan pentingnya persatuan dalam ikatan jamaah disampaikan tepat setelah ayat 102 menjelaskan tentang orang yang beriman dan bertakwa. 


Begitu pula dengan pernyataan Saidina Umar bin khattab yang menyampaikan penting jamaah setelah Islam. Makna yang dapat kita pelajari keduanya adalah setelah seseorang beriman kepada Allah SWT setelah dia menyatakan diri sebagai orang Islam dan setelah ia bertakwa kepada Allah SWT, maka selanjutnya adalah ke mana ia akan hidup berjamaah?

Jamaah Kunci Kemenangan

Al Qur’an Surah As Shaf 4:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”


Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan berbaris rapi dalam satu kesatuan jama’ah seolah-olah mereka adalah bangunan yang kokoh lagi mantap sehingga musuh tidak dapat menembusnya.


 “Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]


Kalau dianalogikan sebagai sebuah motor di mana semua perangkat yang ada di dalamnya bekerja secara simultan, maka semua perangkat jamaah Islam bekerja dalam satu kesatuan yang pada akhirnya akan mengantarkan umat Islam kepada satu destinasi visi yang sama. 


Setiap mereka merupakan satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan karena setiap yang satu bekerja untuk mendukung kerja besar yang lain. Bahkan, pentil yang kecil sekalipun, keberadaanya akan berpengaruh kepada kerja besar dan tercapainya kepada destinasi impian yang sedang dituju. 


Pentil jika tidak berfungsi dan mengerjakan pekerjaannya yang kecil sebagai penahan angin dalam ban, maka ia akan berefek kepada melambannya kinerja jamaah, bahkan mampu membuat kerja dan tujuan besar kendaraan ini berhenti serta merta.


Perjalanan sejarah telah memberikan bukti bahwa Islam akan berjaya manakala umatnya berada dalam satu jamaah. Tinta sejarah yang diukirkan di zaman Rasulullah SAW di Madinah yang dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyah hingga Turki Usmani hanya akan dicapai manakala umat Islam bersatu dalam sebuah kapal besar dalam mengarusngi samudera kehidupan dengan segala macam tantangan ombak dan badai yang menghadang. 


Tanpa kapal besar ini, maka umat Islam hanya akan terombang-ambing dalam sekoci-sekoci yang mereka tumpangi untuk sekedar menyelamatkan diri. Besarnya fitnah dunia dan serangan musuh Islam akan menenggalamkan siapa saja yang berani melawan arus dalam kesindirian. Wallahul Musta’an.



*) MAZLIS B. MUSTAFA, penulis adalah aktifis pemuda yang juga Sekreteris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah

×