Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Heroes 2020 dan Pelajaran Menarik yang Bisa Dipetik

Selasa, 22 September 2020 | 17:39 WIB Last Updated 2020-09-22T10:39:54Z


Oleh Bustanol Arifin*



BEBERAPA waktu lalu saya berkesempatan nonton series drama kungfu yang berjudul “Heroes" 2020. Drama ini mengangkat genre historical and martial art (sejarah dan bela diri). 


Film ini mengisahkan tentang biografi dari salah satu pahlawan dan ahli seni bela diri, Huo Yuan Jia. Selain aksi-aksinya yang menakjubkan, banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. 


Sebut saja misalnya semangat juang yang tak pernah padam untuk mengangkat martabat bangsa dan negara dari kaum penjajah. 


Dalam melihat peta juang dan jalan keluar negara dari cengkeraman kolonialisme, ada perubahan cara pandang dan berfikir sang pahlawan dari yang awalnya konservatif menjadi modern dan progresif. 


Tentu saja sisi romantisme perjuangan menjadi penyempurna adegan film yang dibintangi Vincent Zhao dan Nikita Mao ini.


Dalam kehidupan modern seperti saat sekarang yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, termasuk di dalamnya industri perfilman. Tak dapat dipungkiri dan dinafikkan bahwa media massa merupakan salah satu pilar dari eksistensi bangsa itu sendiri, bahkan dianggap sebagai pilar keempat demokrasi. 


Film selalu menarik dibincangkan karena termasuk bagian tak terpisahkan dari media massa tersebut. Selain sebagai hiburan, tak sedikit yang menjadikan film sebagai alat propaganda politik, budaya, pendidikan dan agama.


Terlebih kalau dilihat dari kacamata ilmu komunikasi, film menunjukkan identitas sebuah bangsa. Ia mencerminkan bagaimana kondisi peradaban masyarakatnya. Budaya yang dikembangkan, nilai-nilai kehidupan yang dianut dan diamalkan serta progresivitas keilmuan yang diwacanakan. 


Ibarat cermin, media hanya akan memantulkan cahaya sesuai dengan realita kehidupan masyarakat yang ada. Dalam arti yang lain untuk mengetahui gambaran dan kondisi masyarakat Indonesia, cukup melihat film-film yang ditayangkan melalui media massa maka secara eksplisit akan melihat gambaran kehidupan bangsa Indonesia.


Memang, di kalangan mazhab komunikasi itu sendiri ada perbedaan perspektif dalam memandang media massa. 


Pandangan pertama mengatakan bahwa media sebagai pembentuk, hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa media dapat mempengaruhi masyarakat melalui konten-konten yang disiarkan. 


Kehadiran Drama Korea dan tren K-Pop adalah contoh konkret yang telah banyak membentuk karakter dan pola pikir kalangan milenial Indonesia saat ini. 


Kedua, media sebagai cermin. Seperti yang digambarkan di atas, media mencerminkan kondisi masyarakat yang ada. Kriminalitas dan pergaulan bebas yang ditayangkan diambil dari kehidupan sosial masyarakat yang terjadi pada saat itu.


Ada juga yang berpandangan bahwa media bertindak sebagai guru. Selain berfungsi untuk memberikan informasi dan menghibur, media juga mengajarkan nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. 


Media bagaikan pendidik dan lembaga pendidikan yang hadir untuk mendidik dan memberikan pencerahan kepada masyarakat. 


Pandangan selanjutnya menganggap media sebagai ritual, seperti ritual keagamaan pada umumnya media mampu menghipnotis masyarakat melalui jadwal-jadwal tayangan yang sudah dikemas dan diagendakan. Sehingga masyarakat secara sadar maupun tidak mengikuti ritme media, menunggu waktu tayang yang sudah terjadwalkan layaknya waktu sholat dan sebagainya.


Bahkan, media dianggap sebagai ‘tuhan kedua’ karena memberikan janji-janji kebahagiaan melalui selebritas atau aktor film yang berperan sebagai ‘tuhan’ pemberi pesan sekaligus harapan. 


Mayarakat diminta untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh sang aktor jika menginginkan kesenangan dan kebahagiaan. 


Budaya konsumtif dan lifestyle (gaya hidup) yang tengah digandrungi oleh masyarakat merupakan keberhasilan dari ‘tuhan-tuhan’ lokal yang menjanjikan kebahagiaan manakala berbelanja dan menggunakan material tertentu. 


Pada saat yang sama, kecenderungan sebagian masyarakat khususnya kalangan milenial untuk mengikuti tren kehidupan yang ada telah memberikan warna tersendiri bagi bangkit dan majunya peradaban bangsa. 


Entah karena dibentuk dan dipengaruhi oleh media massa atau karena realitas sosial masyarakat yang dengan sendirinya memulai lompatan perubahan. Asumsi ini tidaklah salah, namun tidak semuanya benar karena bagaimanapun perubahan itu akan muncul manakala masyarakat menginginkan perubahan itu sendiri yang dilengkapi oleh seperangkat alat pemantik perubahan.


Misalnya, banyak kalangan muda yang menggandrungi olahraga sebagai pola dan gaya hidup kekinian. Sepak bola, khususnya futsal, menjelma menjadi olahraga yang paling digemari oleh masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, pemuda hingga orang dewasa. 


Satu sisi membawa kabar baik bagi tumbuh kembang generasi bangsa yang lebih memilih berolahraga sebagai gaya hidup sehat ketimbang larut dalam lingkaran dan kungkungan narkoba atau napza yang saat ini juga sedang menggempur generasi bangsa. 


Selain karena menyehatkan, olahraga juga mampu membangun kekuatan tim yang solid dan terorganisir. Melalui pertandingan, ikatan persaudaraan dibangun atas dasar kebersamaan. 


Namun, tak sedikit juga yang memutus benang persaudaraan menjadi perseteruan dan permusuhan melalui lapangan-lapangan olahraga. Momentum merajut persatuan nasional dengan semangat persaudaraan pupus oleh kepentingan lokal dan kelompok tertentu. 


Tak jarang perang urat syaraf antar klub membawa malapetaka hingga melibatkan daerah-daerah yang pada akhirnya saling membanggakan diri masing-masing sambil menegasikan daerah lainnya. 


Selain itu, media secara tidak langsung juga ikut berperan menciptakan kondisi yang demikian dengan mengkapitalisasi turnamen, liga atau pertandingan olahraga ini untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.


Tentu nilai manfaatnya lebih banyak dimiliki oleh orang yang gemar berolahraga daripada yang tidak. Apalagi tuntutan kerja generasi milenial atau biasa disebut generasi 4.0 saat ini yang mengharuskan bekerja sepanjang hari dan tujuh hari dalam sepekan telah membuat sebagian orang kelelahan dan mengalami stres berkepanjangan. 


Sehingga olahraga merupakan sarana untuk membugarkan kembali otot-otot yang tegang dan me-refresh kembali pikiran-pikiran yang sedang kacau. Olahraga mampu mengembalikan pikiran segar dan kekuatan fisik yang bugar. Seperti pepatah mengatakan “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”.


Ditengah perubahan tren kehidupan masyarakat saat ini. Pemuda harus mampu memanfaatkan momentum ini sebagai peluang untuk memuluskan dan mensukseskan jalan dakwah. Hadir memberikan warna dan nilai lebih melalui sebuah kegiatan nyata sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peradaban. 


Seperti alur film Heroes, yang berawal dari kelompok bela diri biasa dan hanya ingin menjaga nilai-nilai leluhur yang diwariskan kepadanya. Kemudian, berubah menjadi sebuah wadah sekaligus kekuatan besar mewujudkan perubahan, membebaskan masyarakat dari belenggu opium dan pesimisme. 


Pada awalnya berlatih bela diri agar menjadi sehat dan memiliki tubuh kuat, lalu kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah gerakan untuk mencerdaskan generasi bangsanya.


Bagitulah kira-kira yang harus dilakukan oleh para pengemban dakwah. Mengamati, memahami, menggeluti, kemudian memberikan solusi atas problematika keummatan yang sedang dihadapi. 


Mengamati identik dengan proses pencarian informasi sekaligus mengumpulkan masalah-masalah keummatan yang sedang terjadi. Kemudian memahami seluk beluk permasalahan tersebut sambil melakukan pemetaan terhadap objek dakwah yang akan dihadapi. 


Tak cukup sekedar memahami, para pengemban dakwah harus mampu merasakan dan menikmati kondisi real di lapangan sehingga ia mampu memberikan kontribusi yang konkret serta nyata untuk sebuah perubahan.


Setidaknya, jika saat ini generasi milenial banyak menggemari olahraga maka, para juru dakwah mampu masuk kedalamnya dengan membawa nilai-nilai perubahan. Paling tidak memberikan nilai tambah berupa kegiatan-kegiatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Misalnya, di suatu daerah tertentu setelah dilakukan pemetaan dakwah.


Ditemukan kondisi masyarakat yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan, ekonomi tertinggal dan tingkat pendidikan yang terbelakang. Pada saat yang sama potensi untuk menjadi masyarakat berkembang dan maju sangat dimungkinkan. 


Disinilah peluang dakwah itu terbuka lebar. Para pemuda pengemban dakwah bisa saja mengumpulkan para pemuda di daerah tersebut, kemudian membuat sebuah kelompok atau klub sepak bola atau futsal sebagai pintu masuk untuk memulai kegiatan dakwah. 


Tentu tujuan akhirnya bukan menjadi seorang pelatih atau pemain sepak bola professional, akan tetapi mengajak manusia ke jalan yang benar dan diridhai oleh Allah SWT. 


Tanpa menghilangkan budaya dan tren kehidupan masyarakat yang ada, juru dakwah mampu menyampaikan nilai-nilai ketuhanan melalui kegiatan yang dimaksud. Awalnya bermain futsal untuk kesehatan dan mengikat persaudaraan dan kekompakan, namun pada akhirnya dari merekalah lahir juru bicara peradaban sekaligus sebagai agent of change.


Hal yang demikian juga pernah dilakukan oleh para wali songo dalam menyebarkan dakwah Islam di bumi nusantara. Mereka menggunakan strategi dakwahnya dengan menjadikan tren kehidupan masyarakat pada saat itu sebagai jalan untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah mereka. 


Misalnya mereka berdakwah dengan wayang, yang dikemudian tak hanya mampu memikat masyarakat untuk memeluk Islam, akan tetapi wayang juga dijadikan sebagai media informasi, edukasi dan hiburan bagi objek dakwah mereka. 


Artinya, bahwa, ada peluang di setiap tantangan dakwah yang dihadapi sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman. 


Mereka yang mampu memanfaatkan momentum ini akan menjadi juru dakwah yang dapat membawa kemajuan peradaban, memberikan solusi atas problematika keummatan dan pada akhirnya kemenangan dakwah berada dalam genggaman.  



*)BUSTANUL ARIFIN, penulis adalah aktifis pemuda tinggal di Bandung

×