Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Menaklukkan Ketidakpastian dan Bentangan Ibrah Al Qur'an

Senin, 21 September 2020 | 10:26 WIB Last Updated 2020-09-22T03:43:33Z


WABAH
pandemi Covid-19 tampaknya belum akan berakhir. Data yang menunjukkan tren meningkat terus saja terjadi, bahkan kini Menteri Agama pun dinyatakan positif Covid-19.


Sisi yang lain, rekomendasi agar terus tinggal di rumah, menggunakan masker, dan jaga jarak terus didengungkan. Sebuah keadaan yang benar-benar menjadikan siapapun harus benar-benar waspada.


Dalam situasi seperti ini, siapapun harus beradaptasi, tidak terkecuali gerakan kepemudaan. Organisasi kepemudaan harus memiliki konsen dan bahasan yang lebih mendalam, karena memang tidak mungkin dan tidak boleh berkegiatan di luar rumah apalagi menciptakan kerumunan.


Kita ketahui manusia bukan semata makhluk sosial, ia juga makhluk spiritual dan makhluk yang mencintai kebijaksanaan. Situasi demikian hendaknya dijadikan momentum untuk kembali mengasah kecerdasan spiritual dan kecerdasan kebijaksanaan.


Merenungi Ayat Alquran
Sebagai makhluk spiritual kita bisa lihat sejarah panjang umat manusia yang selalu ingin tahu, mengenal dan memastikan bahwa dalam hidup ini ada kekuatan tak terbatas, pengendali tunggal alam semesta, yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Tuhan.


Di dalam Islam, kata Tuhan (Rabb) justru yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad dalam ayat pertama Surah Al-Alaq. Iqra' Bismirabbik, yang artinya, bacalah dengan nama Tuhanmu.


Tuhan dalam lanjutan ayat tersebut bermakna yang menciptakan manusia dari segumpal darah. 


Ini berarti Tuhan yang dikenalkan dalam Islam benar-benar luar biasa, karena mampu menciptakan manusia dari segumpal darah, sebuah bahan baku yang sangat tidak bernilai menjadi dasar terciptanya manusia yang berkemampuan berpikir. 


Kemudian di banyak ayat Alquran dijelaskan bagaimana manusia pertama kali diciptakan dan selanjutnya secara biologis bagaimana hal itu bisa terjadi dalam wujud interaksi lelaki dan wanita yang secara syariah telah halal melakukan interaksi suami istri.


Namun, untuk apa manusia diciptakan dan mengapa masing-masing kita harus ada di dalam dunia ini? Alquran menjelaskan agar kita beribadah kepada-Nya semata dan melakukan banyak amal kebaikan. 


Dalam bahasa logika, kita bisa katakan, saat diri saya hadir atas kehendak-Nya, sudahlah pasti ada hal baik yang harus saya lakukan untuk-Nya.


Oleh karena itu kita dipandu dalam Islam senantiasa mendirikan shalat dan membaca ayat-ayat Alquran.


Di masa pandemi ini sangat baik kita tingkatkan kualitas interaksi diri dengan Alquran dengan senantiasa merenungi makna dan kandungannya, sehingga diri sebagai makhluk spiritual senantiasa tercerahkan.


Membaca dan merenungi ayat-ayat Alquran adalah jalan strategis untuk mengantar manusia tetap berkualitas kecerdasan spiritualnya, sehingga cara pandang dan orientasi hidupnya tidak semata-mata diwarnai oleh keadaan pragmatis dan fenomena empiris, tetapi juga ditujukan pada nilai-nilai transenden perihal siapa manusia dan mengapa dirinya diciptakan. Langkah ini akan menjadikan jiwa seseorang kokoh dalam kebaikan sekaligus visioner dalam pikiran dan tindakan.


Menariknya, bagi pemuda yang gemar membaca Alquran di hari yang dunia telah tiada tersedia syafaat yang akan menjadi penyelamat sejati kehidupan abadi nanti.


Cinta Kebijaksanaan
Pemuda identik dengan keberanian dan ketangguhan di medan kehidupan, namun jangan lupa, pemuda yang menginspirasi dan menggerakkan juga menenggelamkan diri dalam lautan kebijaksanaan, sehingga keputusan dan keberanian mereka dilandasi iman.


Kebijaksanaan akan menjadikan energi kaum muda tidak ludes untuk merespon segala hal yang memancing tindakan reaktif dan heroisme semu. 


Di masa pandemi ini, jelas, umat butuh kebijksanaan kaum muda agar masa-masa berat ini dapat dilalui dengan selamat di sisi lain juga siap melakukan lompatan besar, mulai dari pemikiran dan tindakan untuk Indonesia yang lebih bermartabat di masa mendatang.


Kebijaksanaan itu di antaranya diraih dengan mencintai ilmu. Dan, dalam Islam tidak satu pun ilmu melainkan terikat untuk diamalkan. 


Oleh karena itu, Islam tidak mengenal sekularisme, melainkan Tauhid, kesatuan, dimana setiap ilmu diikuti oleh amal. Dan, setiap amal dilandasi ilmu.


Apabila ini bisa dilakukan dengan baik, insya Allah kaum muda yang eksis di masa pandemi ini akan diberikan kekuatan oleh Allah untuk menaklukkan ketidakpastian hari ini di seluruh dunia. Sebab, di balik ketidakpastian ini ada Allah yang segala janji dan ancaman-Nya adalah pasti. Allahu a'lam.*


*) Imam Nawawi, penulis adalah kolumnis nasional.news

×