Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tiga Kunci Bisa Tetap Tegak Meski Dimasa Krisis dan Pandemi

Minggu, 27 September 2020 | 10:00 WIB Last Updated 2020-09-27T04:39:00Z

Ikustrasi pasar dan pedagang menjajakan hasil panenya (Pixabay/ dok. TuanAnhNgo)


JAKARTA - President of Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Happy Trenggono mengatakan kita sebenarnya memiliki modal cukup untuk bisa tetap tegak meski sedang dalam kondisi krisis apalagi masa pandemi Covid-19 seperti saat sekarang ini. 


Dia mengatakan, kalau kita mulai bertanya dari mana kita memulai mencetak 10.000 pengusaha, sebetulnya kata dia pertanyaan besarnya juga bagaimana kita membuat tumbuhnya ekonomi. 


Menurutnya, ada 3 hal yang prinsip yang bisa menjadi modal untuk tetap survive di tengah krisis. Pertama, menggunakan kekuatan konsumsi. 


"Kita bisa membangun ekonomi di tengah tengah krisis hari ini sebetulnya, apalagi kalau tidak krisis. Dengan apa? Dengan menggunakan kekuatan konsumsi sebagai modal utama membangun ekonomi," katanya ketika menjadi narasumber dalam Webinar Series 03 - Pra Munas V Hidayatullah bertajuk "Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna" seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (27/9/2020).


Jadi, dia menjelaskan, kalau kapitalis, menggunakan kekuatan kapitalnya menguasai semua. Nah, hari ini, kita menggunakan kekuatan konsumsi. Kenapa? 


"Ada satu konsep yang sangat sederhana yang jarang dipahami bahwa pengeluaran seseorang adalah pendapatan bagi orang lain, total pengeluaran berpengaruh pada ekonomi dan total pendapatan akan menuju pada pertumbuhan ekonomi," kata pendiri gerakan Beli Indonesia ini. 


"Sebenarnya, ketika kita itu mengeluarkan, di sebelah kita ada pendapatan. Nah, bayangin, kalau kita setiap hari beli beras, kita tidak peduli saudara kita jualan beras, kita malah belinya ke tempat lain. Sebetulnya kezaliman ini kita ciptakan sendiri. Membeli di luar keluarga kita sementara keluarga kita ada, itu adalah kedzaliman karena kita sedang memboikot mereka untuk tidak mendapatkan pendapatan," terangnya. 


Prinsip yang kedua, membangun ekonomi berbasis komunitas. Heppy menjelaskan, ketika ekonomi melemah dan negara melemah, maka ada satu yang menguat yaitu komunitas. 


"Anda kalau lihat ada bencana alam, ketika negara belum melihat dan hadir di situ, yang namanya komunitas sudah masuk lebih dulu.  Apalagi di Indonesia. Urusan politik pun diselesaikan oleh komunitas," katanya. 


Heppy mengatakan ekonomi komunitas ini termasuk yang tidak pernah kita bahas. Maka, bagi Hidayatullah, menurut Heppy, membangun ekonomi berbasis komunitas ini adalah sebuah peluang karena di dalamnya solid dengan kesatuan pandangan yang sama dan diikat dalam satu keluarga yang sama. 


"Di sana ada konsumsi yang bisa dikendalikan," katanya. 


Prinsip yang ketiga, memanfaatkan revolusi digital untuk menyalip di tikungan. Heppy menerangkan, hari ini kita diuntungkan dengan apa yang disebut dengan revolusi digital. Biasanya dalam pemerintahan menggunakan istilah revolusi industri. Industri 4.0 adalah hasil revolusi digital. 


Dia membeberkan, revolusi pertama ditandai dengan temuan mesin uap, revolusi kedua ditemukannya production line (produksi massal), revolusi ketiga adalah otomasi dan revolusi keempat ini adalah digital. Ciri ciri revolusi, kalau memanfaatkannya, maka akan meningkat produktifitas berlipat lipat luar biasa. 


"Nah hari ini, dengan revolusi digital, bisnis itu tidak serumit zaman dulu. Dulu kalau ingin punya pabrik dan jualan seluruh Indonesia, anda harus punya pabrik sendiri, armada sendiri, yang kekuatan modalnya luar biasa.  Tapi, Anda lihat, dengan revolusi digital, membuat bisnis tidak serumit dulu dan bisa disambung sambung dengan kekuatan yang lain," pungkasnya.


Webinar Series 03 - Pra Munas V Hidayatullah bertajuk "Mencetak 10.000 Wirausahawan Mandiri dan Berdaya Guna" ini juga menghadirkan narasumber Dewan Penasehat Aosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) Asih Subagyo dan dipandu oleh Musliadi Raja yang juga pengusaha katering brand Ayya Catering.

×