Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Masa Pandemi Munculkan Kesempatan dan Inovasi Ketahanan Pangan

Senin, 26 Oktober 2020 | 16:30 WIB Last Updated 2020-10-27T12:54:40Z


BOGOR - Masalah ketahanan pangan menjadi masalah yang sangat penting sekaligus rentan dalam situasi bencana dan pandemi COVID-19. Pandemi mampu mengubah pola, budaya, tata kelola, dan cara kerja kita semua.


Demikian disampaikan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko dalam webinar perdana Prof Talk bertema “Ketahanan Pangan di Masa Pandemi COVID19" seperti dilansir Humas LIPI, Senin (26/10/2020).


Terkait pangan, menurut Handoko, tentu hal ini menimbulkan tantangan yang tidak mudah dalam banyak kasus. Khususnya mengganggu upaya kita untuk menangani stunting secara nasional yang tak kunjung turun.


Dalam kesempatan tersebut, Handoko juga mengingatkan selain munculnya banyak masalah, pandemi perlu dilihat dari sisi lain, yaitu memunculkan berbagai kesempatan dan kreatifitas baru yang mampu mendukung ketahanan pangan nasional. 


“Untuk itulah Prof Talk kali ini diharapkan dapat menggali berbagai ide baru yang dapat diadopsi untuk menjadi kebijakan terkait,” ungkap Handoko.


Senada dengan Handoko, Endang Tri Margawati, Peneliti Bioteknologi Hewan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, mejelaskan, terlepas dari berbagai problem yang ada, masa pandemi telah mendorong munculnya berbagai inovasi. 


“Sumber daya alam kita masih sangat mendukung. Berbagai inovasi pertanian telah dilakukan sebelum masa pandemi. Hal yang perlu dilakukan saat ini adalah melakukan integrasi pertanian untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan ekonomi,” ujar Profesor Riset LIPI tersebut.


Dirinya menjelaskan, urban farming termasuk dalam pertanian terintegrasi. Misalnya, bercocok tanam dengan metode hidroponik yang terintegrasi dengan pemeliharaan ikan.


Sedangkan untuk ketersediaan protein hewani kita tidak perlu khawatir, karena menurutnya, Indonesia adalah negara bahari dan masayarat kita terbiasa memelihara hewan ternak secara mandiri. 


“Untuk mengatasi situasi saat ini pemerintah perlu memastikan ketersediaan pangan, terjaminnya akses pangan pemanfaatan pangan, dan meningkatkan gizi masyarakat dengan memberikan extra fooding pada kelompok masyarakat tertentu,” ungkap Endang.


Tak hanya itu, Tahlim Sudaryanto, salah satu narasumber Prof Talk dari Kementerian Pertanian menjelaskan kinerja sektor pertanian (pangan) masih relatif baik. 


Menurutnya, kinerja sektor pangan berperan sebagai buffer terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia mengatakan, tidak dipungkiri di beberapa sisi tetap menimbulkan dampak. 


“Pandemi mengakibatkan terjadinya penurunan di sektor tenaga kerja, terganggunya pemasaran  komoditas pangan dan beberapa kasus di usaha peternakan,” ungkap Tahlim, Profesor Riset bidang Sosial Ekonomi Pertanian.


Namun dirinya menegaskan bahwa Kementerian Pertanian selaku lembaga teknis yang bertanggung jawab dalam bidang pertanian (pangan) juga telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa pandemi. 


“Berbagai program telah dipersiapkan. Di antaranya program peningkatan kapasitas produksi melalui food estate, diversifikasi produksi dan konsumsi pangan, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan, pengembangan pertanian modern, dan beberapa paket jejaring pengaman sosial,” imbuhnya.


Tak diragukan, pandemi COVID19 telah memberikan pembelajaran terhadap perlunya reorientasi kebijakan ketahanan pangan ke depan. 


Pemerintah dan masyarakat perlu terus bersinergi untuk saling mendukung dalam mempertahankan ketahanan pangan, sehingga lebih siap terhadap berbagai gangguan yang akan dihadapi.

×