Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pentingnya Perolehan Dana Riset Eksternal untuk Optimalisasi Penelitian

Selasa, 27 Oktober 2020 | 14:00 WIB Last Updated 2020-10-27T14:49:22Z

Ilustrasi peneliti melakukan serangkaian analisa dalam sebuah laboratorium (Foto: Darko Stojanovic/ Pixabay)

JAKARTA - Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko, mengatakan bahwa anggaran negara harus dikelola untuk mendapatkan dana lain melalui riset, yang nantinya dapat menambah devisa negara. 


“Riset memiliki potensi yang tinggi untuk menjadi salah satu sumber devisa negara, untuk membantu negara dan masyarakat,” tambah Handoko saat membuka webinar Strategi Perolehan Dana Eksternal, dilansir laman resmi LIPI, Selasa (27/10/2020).


Menurutnya, memaksimalkan potensi memperoleh dan memanfaatkan dana eksternal juga menjadi penting bagi peneliti sebagai individu dalam membangun rekam jejak yang baik. 


Kendati demikian, Handoko mengingatkan bahwa aset utama peneliti haruslah tetap ide kreatif dan inovasi yang ada dalam diri masing-masing.


Dia menyebutkan, menurut UNESCO, dana eksternal sebuah lembaga riset biasanya sebesar 75%. “Rasio dana eksternal yang lebih tinggi mencerminkan kualitas lembaga riset yang terpercaya,” ujar Handoko menekankan.


Saat ini Indonesia masih berada pada peringkat ke-74 dari 141 negara dalam hal kemampuan inovasi. Adapun untuk komponen publikasi ilmiah,Indonesia berada pada peringkat ke-56. 


Secara umum, tingkat kemampuan inovasi Indonesia berada pada peringkat ke-6 di antara negara ASEAN, di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina.


Handoko mengatakan produktivitas publikasi ilmiah bergantung pada sejumlah faktor, salah satu yang menjadi faktor penting adalah anggaran. 


Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai lembaga yang memiliki fungsi penelitian dan pengembangan senantiasa berupaya untuk meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah dan inovasi. 


Oleh karena itu, dalam Rencana Strategis tahun 2020-2024, LIPI menerapkan kebijakan bahwa anggaran penelitian yang bersumber dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) harus diimbangi dana eksternal dengan perbandingan 1:1.


Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) menjadi salah satu sumber dana eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan riset. 


Wisnu Soenarso, Direktur Fasilitasi Riset LPDP, menjelaskan bahwa peneliti LIPI dapat memanfaatkan dana penelitian Riset Inovatif dan Produktif (RISPRO). 


Sifat pendanaan RISPRO berjangka panjang dan tidak mengikuti siklus tahunan anggaran. Pendanaan ini meliputi insentif untuk tim periset, pembiayaan/pembelian peralatan atau mesin, diseminasi riset dalam dan luar negeri, dan pembiayaan pengujian, standarisasi, serta sertifikasi produk atau teknologi.


“Substansi yang menjadi penilaian pendanaan RISPRO setelah lolos seleksi administrasi antara lain kualitas penelitian, luaran, kemutakhiran,” ujar Wisnu. 


“Kami juga melihat rekam jejak periset yang dilihat dari produktivitas riset, relevansi keilmuan periset dengan kegiatan riset, serta pengalaman kerjasama dengan industri,” sambungnya. 


Ia menambahkan sejauh ini LIPI sudah berada di jalur yang benar dalam memanfaatkan dana penelitian LPDP. 


“Saya perlu mengapresiasi LIPI dalam mengelola dana melalui RPL (Rekening Pemerintah Lainnya) sehingga dana bisa dikelola dengan teratur. Ini sudah lebih baik daripada banyak lembaga lain,” tukas Wisnu.


Direktur Pengembangan Teknologi Industri, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), Hotmatua Daulay mengatakan LIPI juga dapat memanfaatkan Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 153/PMK.010/2020 tanggal 09 Oktober 2020, Pasal 1 Ayat 2. 


PMK itu berbunyi “Kepada Wajib Pajak yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan tertentu di Indonesia, dapat diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 300% (tiga ratus persen) dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan Penelitian dan Pengembangan Tertentu di Indonesia yang dibebankan dalam jangka waktu tertentu.”


Hotmatua menyebutkan, Pengurangan Penghasilan Bruto sebesar 100% dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan Penelitian dan Pengembangan, serta tambahan Pengurangan Penghasilan Bruto sebesar 200% dari akumulasi biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan Penelitian dan Pengembangan dalam jangka waktu tertentu. 


"Jumlah ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan riset,” ujar Hotmatua.


Selain itu, Kemenristek/BRIN juga memiliki program-program pendanaan yang dapat dimanfaatkan peneliti LIPI sebagai sumber dana eksternal. Kelompok penelitian dapat mengajukan proposal penelitian untuk program tertentu yang sesuai dengan jenis riset.


“Saat ini Kemenristek/BRIN memiliki program pendanaan untuk penguatan riset dan pengembangan dan penguatan inovasi. Masing-masing program memiliki jumlah dana penelitian yang berbeda-beda yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti LIPI,” jelas Hotmatua.


Dalam lingkup penguatan riset dan pengembangan, pendanaan yang dapat dimanfaatkan antara lain Riset Litbang dan Pengabdian Masyarakat (Diseminasi Teknologi untuk masyarakat) sebesar Rp. 18,8 Milyar, Penelitian dan Pengembangan Produk PRN (lisensi, Reverse Engineering) sebesar Rp. 472 Milyar, dan Penelitian dan Pengembangan Purwarupa sebesar Rp. 16 Milyar.


Sedangkan dalam penguatan inovasi, dana yang dapat dimanfaatkan di antaranya Teknologi dan Inovasi untuk UMKM sebesar Rp. 16,5 Milyar, Pengembangan Sistem Inovasi sebesar Rp. 34,3 Milyar, dan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 sebesar Rp. 1,5 Milyar.


Turut hadir dalam sesi berbagi pada webinar tersebut adalah Ocky Karna Radjasa (Deputi Bidang Ilmu Kebumian LIPI), Yenny Meliana (Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI), dan Puspita Lisdiyanti (Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI) yang pada kesempatan tersebut membagikan tips dalam mendapatkan dana eksternal untuk penelitian.

×
Wakaf Yuk Amal Abadi ++