Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

SMP SMA Luqman al Hakim Boarding School Surabaya Gelar Wisuda Tahfidz

Sabtu, 28 November 2020 | 13:30 WIB Last Updated 2020-11-28T16:32:30Z

Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, KH Drs Abdul Rahman, menyerahkan plakat penghargaan kepada salah satu perwakilan wisudawan (Foto: dokumentasi panitia)


SURABAYA - Luqman al Hakim Islamic Boarding School Hidayatullah Surabaya menggelar wisuda tahfidz Al Quran dengan sebanyak 60 peserta santri program tahfidz Quran mengikuti proses wisuda ini, Sabtu (28/11/2020). 


Wisuda ini digelar terbagi 4 santri dengan hafalan 30 juz bersanad. Selebihnya, terbagi wisuda tahfidz kategori 20, 15, 10 dan 5 juz.


Kepala Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Ustadz Samsudin, dalam sambutannya mengatakan untuk menjadi hafidz Quran bukan hal mudah. Santri harus berjibaku dengan segala kesulitan saat menghafal. 


Dia menerangkan, dukungan guru dan orang tua dalam mendalami Al Quran menjadi penentu kesuksesan santri dalam menghafal Quran.


Di tengah kondisi pandemi saat ini, santri boarding school yang ada di Surabaya timur ini tetap semangat menghafal Quran. Menghafal Quran itu sulit, begitu juga memelihara hafalannya pun juga sulit.


“Menghafal Quran itu tidak mudah, begitu juga memeliharanya,” kata Samsudin dalam keterangan persnya. Maka dari itu, lanjutnya, ia berpesan kepada santri agar terus menjaga hafalannya di saat shalat tahajjud setiap malam.


Di tempat yang sama, Syeikh Ahmadi al Yamani, pengajar program tahfidz Quran menyampaikan pesannya agar santri tidak berhenti belajar, menjaga kalamullah, dan selalu berjuang untuk menuntaskan hafalan. 


“Jangan membuang waktu dengan banyak bermain. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menghafal dan menjaganya,” pesan lelaki asal Yaman itu.


Karena kondisi pandemi, acara yang biasanya dihadiri orangtua santri, digantikan dengan acara secara online. Seluruh orangtua menyaksikan prosesi wisuda melalui aplikasi.


Salah satu orangtua santri yang putranya ikut wisuda, Radi Saputro mengatakan, teruslah menghafal Quran. Karena ada hal yang luar biasa bagi anak yang menghafal Quran.


“Memberikan mahkota kehormatan kepada orangtua di akhirat nanti,” pesannya.


Lelaki yang juga pengajar di salah satu perguruan tinggi di Gresik itu juga menyampaikan karantina yang dilakukan pesantren selama bertahun tahun untuk menghafal Quran bukan proses yang mudah. Ia berterima kasih mewakili orantua atas proses yang dilakukan oleh pihak pondok pesantren.


Meski tidak bisa menghadiri prosesi wisuda, orangtua memberikan hadiah kepada putranya. Sebagai bentuk penghargaan dan rasa saying kepada putranya atas pencapaian hafalan Quran putranya.

×
Dari JempolKU Beramal+