Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Guru Harus Perhatikan 3 Hal ini dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Kamis, 03 Desember 2020 | 10:00 WIB Last Updated 2020-12-03T03:27:59Z

Ilustrasi kegiatan pembelajaran jarak jauh atau pertemuan online (Foto: jagritparajuli99/ Pixabay)

PEMERINTAH melalui surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Agama, telah memutuskan memberi izin bagi sekolah untuk mulai belajar tatap muka pada Januari 2021.


Kendati demikian, sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online melalui perangkat teknologi informasi tetap menjadi pilihan utama saat ini.  


Apalagi, keputusan SKB  tiga kementerian tentang sekolah tatap muka tersebut dirasa masih terlalu dini sehingga menuai polemik. 


Banyak orangtua yang tak atau belum mau mengizinkan anak mereka mengikuti pembelajaran tatap muka karena mempertimbangkan karawanan daripada pandemi. 


Pemerintah pun cukup bijak memahami kondisi tersebut. Karena itu, bagi orang tua yang tidak mengizinkan anaknya belajar tatap muka, maka anak tersebut harus tetap difasilitasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) oleh pihak sekolah. 


Namun, yang tak kalah penting dari sekedar kebijaksanaan pemerintah sebagai fasilitator tersebut, adalah penyelenggaraan PJJ oleh sekolah. 


PJJ dikatakan berhasil apabila mampu menarik minat peserta didik. Namun disadari, tak mudah menarik minat peserta didik apalagi dengan pertemuan online. Terutama dalam hal ini peserta didik usia SD yang menjadi pokok bahasan kita. 


Selain ketersediaan perangkat yang harus saling terhubung dan stabil, sejatinya keberhasilan PJJ ditentukan oleh penyelenggara yang dalam hal ini adalah guru. 


Karena itu, guru harus memperhatikan 3 hal berikut ini dalam proses pembelajaran jarak jauh agar kegiatan belajar berjalan baik dengan dan produktif.


1. Menyapa seutuhnya

Ada pepatah mengatakan, cinta itu hadir pada pandangan pertama. Begitupun dalam pembelajaran online. Minat dan antusiasme murid tumbuh dan terpelihara ketika ia mendapatkan pengalaman pertama yang mengesankan. 


Dalam membangun chemistry dengan murid, seorang guru harus betul betul mampu memposisikan diri sebagai pendengar yang baik terutama pada permulaan pertemuan. 


Pada pembukaan pertemuan itu, mulailah dengan salam dan menyapa murid murid Anda. Berdoa bersama dan absen mereka satu persatu. Jangan lupa menyebutkan nama mereka dengan lugas, jelas dan terang. Ulangi jika ia tak menyahuti.  


Ini penting dilakukan sebab benyapa anak anak seringkali tak dianggap penting akhirnya diabaikan. Tidak sedikit guru yang menyapa sekedarnya dan hanya menyapa nama murid yang dekat dengannya. 


Bahkan, ada guru yang tidak atau lupa mengutarakan kalimat kohesif seusai mengabsen anak-anak murid, misalnya, "Ayo, siapa nama ananda yang belum disebutkan" atau "Ada yang belum disebut namanya". 


Dengan kalimat kohesif semacam itu, anak anak yang namanya terlewat tak disebutkan, akan merasa senang dan merasa dihargai. Karena bukan tidak mungkin ada nama anak yang terlewatkan dalam absensi. 


2. Membangun interaksi 

Interaksi atau saling keterhubungan hanya bisa terjalin apabila anak-anak merasa menemukan apa yang dicarinya. Dan, kita tahu, yang dibutuhkan anak anak adalah perhatian. 


Tentu seorang guru tak bisa merespon satu persatu semua suara murid dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh. Namun tak elok jika tak tanggap sama sekali. Maka disinilah pentingnya kepekaan komunikasi. 


Ketika ada pertanyaan penting dan berulang melalui chat atau raise hand, misalnya, maka ini harus segera ditanggapi. Jangan mendiamkannya dalam waktu yang lama.


Responlah setiap celoteh anak walaupun tak semua harus ditanggapi. Meresponnya pun tak selalu berupa jawaban, tetapi bisa juga berupa pertanyaan tentang apa masalah yang sedang mereka hadapi dalam pembelajaran. 


3. Memahami kondisi

Anak usia SD menjalani PJJ ini sudah tentu dengan pendampingan orangtua di sekitar mereka. Itulah sebabnya kita sebagai guru harus tetap profesional pada jam kerja tersebut.


Usahakan tak meninggikan suara ketika Anda marah saat mengajar online, karena melihat anak kecil Anda mengotori lantai atau berlari kesana kemari. 


Dalam kondisi seperti itu, Anda tidak saja sedang berhadapan dengan para murid di ujung kamera masing-masing. Melainkan juga dengan para wali murid yang mendampingi anak-anak mereka. 


Sebagai guru, kita manusia. Tentu sama seperti yang lain. Selalu ada problem di pagi hari. Harus menyiapkan sarapan. Harus memandikan anak. Harus menyiapkan perlengkapan kerja suami jika Anda sebagai istri. Atau harus memandikan anak jika Anda sebagai suami. 


Belum lagi, Anda pun harus online bersama anak anak Anda yang juga harus mengikuti pembelajaran online. Sukar sekali membayangkannya. Tapi, Anda harus tetap menjalaninya dengan profesional. 


Selain itu, tetaplah berhati-hati bersikap di depan kamera daring Anda. Jaga mimik wajah saat membalas WhatsApp dari seseorang yang mengirim pesan tertentu. 


Kan lucu ketika Anda tertawa ngakak di hadapan kamera sementara murid Anda yang tak memahami maksudnya. Perhatikan betul kapan mic Anda harus di-mute dan unmute


Demikianlah ulasan singkat tentang 3 hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran jaran jauh. Belajar online memang unik dengan dinamikanya masing-masing. 


Setidaknya sejak Maret lalu kita sudah menjalani kondisi era normal baru ini. Kita pun semakin terbiasa dan sudah menganggap ini bukan lagi new normal tetapi new reality atau kenyataan harus kita hadapi. 


Semoga kita segera keluar dari belenggu pandemi. Semoga kita semua juga selalu dalam kondisi sehat bahagia, tak kurang satu apapun. Jangan lupa terus berdoa, inilah senjata inti kita.

ANCHAL

×
Dari JempolKU Beramal+