Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

"Kita Harus Bergerak Sistematis, Jangan Terjebak Isu Booming di Media" [2]

Senin, 21 Desember 2020 | 15:00 WIB Last Updated 2020-12-27T02:23:02Z


Bagaimana peluang Sistematika Wahyu diterapkan dalam pendidikan nasional bagi pemuda? 


Jelas ini perjuangan lintas generasi, tapi jika ini segera digulirkan secara massif insha Allah akan ada kesadaran kolektif yang cepat yang pada akhirnya dapat mendorong kesadaran umat, bahkan pemerintah itu sendiri untuk dengan segera melihat bahkan lebih jauh menjadikannya sebagai model pendidikan bangsa ini ke depan. 


Kader Hidayatullah dikenal sebagai kader yang visioner, progesif, militan, disiplin, solid dalam berukhuwah dan berjamaah dalam menjalankan berbagai aktivitas, serta rapi dan tertib dalam berbagai hal termasuk dalam berorganisasi. 


Bagaimana kultur dalam Sistematika Wahyu selalu terejawantah dalam setiap diri kader dan masa? 


Secara prinsip semua itu dicapai karena keteladanan dan komitmen para leader di lembaga ini untuk terus menjaga tradisi dan budaya yang positif itu sampai saat ini bahkan di era mendatang. 


Pendidikan terbaik adalah langsung merasakan dan membuktikan bahwa tantangan dakwah selalu menyediakan pertolongan Allah. Di sini mental ditempa, sehingga pindah satu tempat ke tempat lain, pindah dari satu tugas ke tugas lain, itu tidak ada keraguan apalagi ketakutan, karena diri sudah sadar dalam hidup ini Allah Maha Besar, apa saja kalau Allah Berkehendak, pasti terjadi. Tinggal bagaimana sadar, lalu melangkah, ikhtiar maksimal, kemudian tawakkal. 


Sebagai aktivis, bagaimana Anda melihat kondisi lapangan yang dihadapi pemuda dan terkait harapan mereka? 


Secara umum, mereka adalah para pejuang di lapangan, menyadari namun tidak mampu membahasakan secara deskriptif baik lisan maupun tulisan perihal kebahagiaan yang mereka rasakan. Sementara, orang akan tertarik dan mendukung jika hal itu dapat disampaikan secara luas. 


Maka saya melihat tantangan yang ada adalah bagaimana kader muda ini siap menjadi juru bicara-juru bicara peradaban, sehingga di balik usaha yang tampaknya biasa, merintis dan mengurus pesantren, masyarakat dapat melihat bahwa ada visi besar yang hendak dicapai oleh mereka, yakni tegaknya peradaban Islam. 


Apa suara mereka terkait masalah pendidikan bagi mereka? 


Mereka sadar pendidikan itu penting, maka mereka langsung belajar baik secara formal maupun informal. Tidak sedikit kader muda yang selain sibuk sebagai aktivis dakwah tetap menempuh kuliah S1 dan S2 di kota terdekat mereka tugas. Kalau harapan, perlu diadakannya pelatihan dan pendidikan yang dapat mengupgrade kemampuan mereka secara intelektual dan manajerial serta kepemimpinan, sehingga dapat lebih progresif dalam ekspansi dakwah. 


Apa harapan dan seruan Anda terkait pendidikan bagi pemuda kepada pemimpin bangsa dan negara, pendidik, pemuda dan warga Indonesia pada umumnya? 


Kepada pemimpin bangsa dan negara, kaum muda Indonesia itu hebat, berikan kesempatan belajar secara gratis, terutama di tingkat sarjana, master hingga doktoral, sehingga mereka bisa menjadi kader bangsa yang semakin terampil, visioner, dan dapat diandalkan untuk mewujudkan Indonesia yang progresif dan beradab. 


Kepada para pendidik, sentuhlah mentalitas para pemuda untuk lebih produktif, hadirkan tantangan-tantangan yang menjadikan mereka sadar dan produktif dalam karya nyata. 


Kepada para pemuda, bergairahlah dalam mengasah kemampuan diri, mulai dari skill, intelektual hingga spiritual yang diwujudkan dengan hadirnya kemampuan leadership dan manajerial yang memadai. 


Kepada warga Indonesia pada umumnya, mari hadirkan budaya baru yang dapat mendorong anak bangsa cinta kepada ilmu, gemar beramal, dan terdepan dalam kebaikan-kebaikan bersama. 


**** 


IMAM NAWAWI lahir di Jember, Jawa Timur, 15 Juli 1985. Putera ke lima dari pasangan Suradi dan Paesah ini menuntaskan pendidikan dasar dan menengah pertama di Kabupaten Jember. SDN Klatakan V 1996 dan SMPN 2 Tanggul 1999. 


Lulus sekolah menengat atas, penulis langsung nyantri di Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dibawah bimbingan Al Ustadz Hamzah Akbar, yang saat ini mengamanahi Ketua Departemen Koperasi DPP Hidayatullah. 


Sekolah menengah atas ia selesaikan di SMAN 1 Loa Kulu, Tenggarong, Kutai Kartanegara pada tahun 2004. Usai menuntaskan program S1, Imam mengabdi di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat. 


Selain aktif sebagai guru bidang studi Sejarah dan Sosiologi pada Madrasah Aliyah Integral Hidayatullah Depok, ia juga sekaligus wakil Ketua PK III Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah bagian Keasramaan. Di STIE Hidayatullah Depok ia terdaftar sebagai dosen pengampu mata kuliah Filsafat Islam dan Bahasa Indonesia. 


Selanjutnya, pada awal tahun 2009 ia memutuskan bergabung dengan program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, jurusan Manajemen Pendidikan Islam dan selesai pada tahun 2011. 


Imam pernah aktif di berbagai organisasi pelajar dan kemahasiswaaan ini kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah. Ketika SMA peneliti pernah menjadi Ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII). 


Imam merintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta mantan perintis dan ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim. Ia juga pernah didapuk menjadi Ketua Lembaga Dakwah Kampus STAIL Surabaya, Presiden BEM STAIL Surabaya. Termasuk sempat aktif sebagai Ketua Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Surabaya. 


Imam mengatakan segala hal dalam kehidupannya pada hakikatnya semua adalah pertolongan dan anugerah dari sisi Allah. Namun, dalam proses, dia mengemukakan ini semua tidak bisa dilepaskan dari harapan orangtua dan ketekunan guru-gurunya dalam mendidik mental untuk yakin sepenuh hati bahwa Allah Maha Penolong. 


"Pada puncaknya kesadaran itu hadir begitu kuat kala membaca perjalanan hidup almarhum Abdullah Said (pendiri Hidayatullah). Beliau bukan ahli dan bukan ulama. Dengan segenap keterbatasannya, berkat spirit QS. At-Taubah ayat 105, beliau bersemangat dalam bekerja untuk umat. Akhirnya Allah memberikan jalan bahkan keberhasilan menebar manfaat ke seantero negeri ini. Bahkan mungkin ke depan akan merambah Asia hingga Eropa," kata Imam yang mengaku banyak diinsprasi dari tokoh pendiri Hidayatullah itu. 


Kemudian, kecintaan Imam pada ilmu terus menguat kala dirinya kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Pesantren Hidayatullah Surabaya. Dia mengungkapkan, pada tahun 2005 dirinya berkesempatan menghadirkan INSISTS yang langsung dihadiri pendirinya Gus Hamid Fahmy Zarkasyi. 


Imam mengaku kagum melihat usaha Gus Hamid dan aktifis di INSISTS dalam melakukan upaya-upaya nyata di tengah gempuran pemikiran Barat yang liberal. Dengan kemampuan yang sangat terbatas, mereka berkeyakinan bahwa gerakan nyata akan menjadi gelombang besar perubahan. 


"Mereka adalah orang yang terus berkarya, dan mereka yang menjadi "idola" saya," kata Imam. 


Disela kesibukannya memimpin gerbong organisasi Pemuda Hidayatullah, kini Imam juga menjadi pembina di Komunitas Pena Nusantara (PENA), pimred Majalah MULIA dam aktif menulis di berbagai rubrik media massa dan portal berita nasional.

×
Wakaf Yuk Amal Abadi ++