Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

"Kita Harus Bergerak Sistematis, Jangan Terjebak Isu Booming di Media"

Senin, 21 Desember 2020 | 14:59 WIB Last Updated 2020-12-27T02:23:37Z
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi memberikan pidato sambutan pembukaan Rapat Kerja Nasional Pemuda Hidayatullah di Kabupaten Kebumen, 27-28 November 2020 (Foto: Screenshot Youtube Pemuda Hidayatullah)

USAI dilantik di forum Musyawarah Nasional (Munas) VII yang digelar di Jakarta bulan Januari 2020 lalu, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi langsung tancap gas. Ragkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) serentak digelar dan tuntas dilakukan di 10 PW se-Indonesia dalam rentang waktu 2 bulan. Ada yang digelar offline dan selebihnya dilakukan secara virtual.

Di bawah kepemimpinnannya, Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah juga langsung menetapkan tagline baru di periode 2020-2023, yaitu Progresif Beradab. "Kita harus bergerak sistematis, agar tetap fokus dan terukur," kata Imam dalam obrolan dengan media ini beberapa waktu lalu.

Dalam perlangkahnnya, Imam mengemukakan bahwa pemuda Islam dan khususnya bagi Pemuda Hidayatullah perlu untuk membangun kekuatan narasi dan ketangguhan wacana. Hal itu kata dia karena saat ini kita telah memasuki era pertarungan ide dan intelektualisme.

Ketika diwawancarai Ketua Pusat Kajian Strategis Pendidikan Islam Indonesia (PKSPII) Abdullah al-Mustofa, Imam Nawawi kembali menegaskan pandanganya mengenai pentingnya berfokus pada tujuan dan terus berproses menjadi pemuda yang berdaya.

Portal Nasional.news menerbitkan ulang wawancara PKSPII dengan Imam Nawawi tersebut dengan sejumlah penyesuaian dan sudah mendapatkan konfirmasi dari yang bersangkutan. Berikut petikannya:
***

Apa kiprah dan peran yang harus dilakukan pemuda bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan umat?

Berdasarkan situasi terkini dan keteladanan para pejuang Muslim masa lalu, pemuda masa kini harus kembali pada tradisi awal Nabi Muhammad SAW mendidik para sahabat, yakni dengan memperdalam kemampuan membaca dengan basis Iqra' Bismirabbik (QS. Al-'Alaq: 1).

Kemudian, melihat tantangan nyata dari luar Islam, kemudian menempa diri untuk bisa menjawab dengan aksi dan karya nyata. Sembari terus bergabung dengan "barisan-barisan" keumatan, bisa melalui lembaga pendidikan, pesantren atau pun organisasi kepemudaan seperti Pemuda Hidayatullah, untuk mengaktifkan karunia Allah berupa usia yang muda, fisik yang kuat, serta energi tubuh yang prima.

Dengan langkah tersebut, insya Allah kesadaran akan hakikat hidup dan dorongan untuk sadar bagaimana mengisi kehidupan ini dengan spirit iman akan senantiasa terjaga bahkan memancar ke setiap ruang-ruang kehidupan kita.

Bagaimana idealnya pemimpin terutama dalan konteks negara dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan nasional?

Pertama, berikan keteladanan.

Kedua, hargai dan hormati para guru, terlebih ulama yang sebenarnya keberadaan mereka sangat kontributif bagi hadirnya mental masyarakat yang sehat, ruhani yang prima, sehingga disadari atau tidak, peran guru dan ulama adalah terdepan dalam menciptakan masyarakat yang aman dan penuh persaudaraan.

Ketiga, memberikan ruang aktualisasi bagi kaum muda negeri untuk mampu bersaing secara profesional guna lahirnya kaum muda Indonesia yang enerjik dan dapat diandalkan.

Bagaimana dengan beratnya peran para pendidik, yakni guru dan orangtua?

Tetap sabar dan istiqomah, bahwa mendidik sama dengan merawat alam semesta yang dimulai dari langkah nyata dengan tekun mengajarkan ilmu, meneladankan akhlak dan produktivitas dalam karya. Tidak ada konsep dan teori tertentu untuk melahirkan pemuda yang pemberani serta mampu menjadi agen perubahan, selain dari keteladanan dan keistiqomahan sang guru dalam mendidik.

Persis seperti diteladankan oleh Imam Al-Ghazali dengan menulis Ihya' Ulumuddin yang pada akhirnya lahir generasi Sholahuddin Al-Ayyubi. Atau seperti Syaikh Aaq Syamsuddin yang tekun mendidik Sultan Muhammad Al-Fatih, bahkan pada saat detik-detik Konstantinopel akan ditaklukkan.

Bagaimana dengan pemuda yang kini berhadapan dengan beragam isu berbagai dinamikanya?

Pemuda harus melangkah secara lebih konkret dan terarah serta sistematis, jangan terjebak isu yang booming di media yang sebagian kita melihat kalau pun diurus sampai kapan pun tidak akan ketemu pangkal dan ujungnya.

Lebih baik segera bersikap tegas, mengambil langkah seperti para ulama terdahulu menempa diri, atau para mujahid bergerak mengasah mental, serta menyiapkan diri menjadi pendidik generasi mendatang. Dan, semua itu bisa hadir kalau ibadah dan ketajaman ruhiyah terus dijaga. Sembari terus mengasah kemampuan intelektual yang didasari komitmen spiritual yang terus-menerus ditingkatkan.

Apa langkah Pemuda Hidayatullah dalam mewujudkan khoiru ummah?

Pertama, bangun kesadaran bahwa hidup kita tidak sebatas sebagai abdullah, tetapi juga khalifatullah, kesadaran ini akan menjadikan diri sadar dan mengerti bahwa ada tanggungjawab keummatan yang mesti diemban dan ditunaikan. Sebab, pemuda yang terbaik adalah yang bisa melakukan amar ma'ruf nahi munkar, dan itu syarat menjadi khairu ummah.

Kedua, hiasilah masa muda dengan kecintaan terhadap ilmu dan buktikan dengan produktifkan menghadirkan karya-karya nyata, walau sederhana. Misalnya, menulis setiap hari, mengisi media sosial dengan konten-konten dakwah, dan mengajak anak-anak muda untuk lebih aktif dan progresif dalam kebaikan

Ketiga, jangan ragu untuk mengamalkan kebaikan atau mewujudkan niat mulia dengan segera memulai melakukan sesuatu. Contoh, mendidik anak-anak yang tinggal di sekitar rumah, cek, kalau ada di antara mereka belum bisa mengaji, mulailah dengan membuka pelajaran mengaji dan seterusnya.

Keempat, kalau ingin menjadi guru, jadilah guru yang visioner, yang tidak sebatas menunaikan kewajiban sebagaimana regulasi yang berlaku tapi juga hadir dalam membina mental murid-murid, dan dilengkapi dengan mendoakan mereka melalui doa-doa terbaik untuk kebaikan kehidupan dan ilmu mereka.

Bagaimana langkah Pemuda Hidayatullah memberi warna positif bagi bangsa dan negara?

Pemuda Hidayatullah menetapkan tiga program utama pada 2021, yaitu, satu, melakukan edukasi secara nasional tentang pentingnya leadership bagi kaum muda Indonesia yang ditargetkan dapat terlaksana di seluruh wilayah Indonesia. Kedua, melakukan training literasi dan multimedia bagi generasi muda di setiap kabupaten di seluruh Indonesia. Dan, ketiga, melakukan pelatihan membaca Alquran bersanad yang langsung dibina oleh kader Pemuda Hidayatullah yang telah meraih sanad.

Gerakan Pemuda Hidayatullah merujuk pada konsep Sistematika Wahyu, bisa dijelaskan?

Secara global, yang dimaksud Sistematika Wahyu adalah historis kenabian Nabi Muhammad dimulai dari menerima wahyu pertama, yakni Surah Al-'Alaq, kemudian Al-Qalam, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, dan Al-Fatihah yang menurut Tafsir Sinar Buya Ahmad turun berurutan.

Fakta itu kemudian digali dan dikaji secara mendalam, akhirnya ditemukan satu "hikmah" bahwa ternyata rangkaian turunnya ayat demi ayat Alquran itu dapat dijadikan sebagai pola, metode, atau manhaj untuk membentuk kesadaran diri dalam ber-Islam secara lebih mendasar, kokoh, dan progresif.

Lantas bagaimana tuntunan Sistematika Wahyu khususnya pada aspek pembinaan bagi pemuda?

Intelektualitas adalah perangkat dasar yang harus dimaksimalkan dengan mengamalkan prinsip dari Iqra' Bismirabbik, maka kaum muda harus aktif membaca dengan tidak sembarang membaca, tapi dengan kembali pada tuntunan Allah bagiamana melihat realitas ini dengan cara membaca yang benar dan maslahat.

Kemudian, hidup harus memiliki dasar dan tujuan yang jelas, maka pemuda harus banyak berinteraksi dengan Alquran sampai lahir komitmen mendalam dalam hati dan akal bahwa tidak ada jaminan keselamatan selain dengan menjadikan Alquran sebagai way of life. Ketika Allah menegaskan bahwa dengan nikmat Islam, Nabi Muhammad tidak akan gila, itu berarti sumber kegagalan dan kemunduran kaum muda Muslim adalah ketika jauh dari Alquran.

Selanjutnya mesti sadar bahwa pendidikan itu bukan semata soal kognisi tapi juga ruhiyah, maka pemuda Muslim harus menghiasi hari-harinya dengan ragam amal ibadah yang diteladankan oleh Nabi, mulai dari dzikir hingga Tahajjud di malam hari. Akan gersang jiwa dan hati seorang pemuda jika kognisinya bagus namun ibadahnya tidak dijaga.

Langkah yang tak kalah penting adalah bangkit untuk dakwah. Karena masih terkategori pemuda, bisa saja ambil langkah bangkitkan kecerdasanmu, bangkitkan kepiawaianmu dalam bidang yang kamu cintai, bangkitkan perjuanganmu yang semua ditujukan untuk membesarkan nama Allah, wa robbaka fakabbir (QS. Al-Muddatstsir: 3).

Bersambung ke halaman berikutnya, klik di sini.
×
Dari JempolKU Beramal+