Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Merger Bank Syariah Ikhtiar Mengundang Keberkahan Allah

Kamis, 17 Desember 2020 | 15:27 WIB Last Updated 2020-12-19T17:03:36Z

Ilustrasi islamic finance (Foto: Nattanan23/ Pixabay)

Oleh Suhardi Sukiman*


BEBERAPA hari terakhir ini, merger bank syariah menjadi topik pembicaraan yang hangat dibahas, diulas di berbagai platform media massa bahkan ramai dikulik di grup-grup WhatsApp


Seperti diketahui, Bank syariah BUMN resmi merger yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT BRISyariah. 


Penggabungan bank syariah BUMN ini yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS) pun telah menetapkan struktur, nama, hingga logo baru. 


Nama baru bank hasil penggabungan atau merger yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang diikuti oleh penggantian logo. Nama tersebut digunakan secara efektif oleh PT Bank BRIsyariah selaku bank yang menerima penggabungan.


Merger yang secara efektif dimulai pada 1 Februari 2021 ini pun mendapat atensi publik dan disambut positif berbagai kalangan. 


Sejumlah analis melihat merger ini akan berdampak positif terhadap perkembangan ekonomi syariah karena entitas baru yang lahir dari aksi korporasi ini akan memiliki modal besar untuk bergerak menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.


Bagaimanapun, pada kenyataannya, sistem perbankan atau -lebih umum- keuangan syariah (islamic finance), memang menyimpan potensi yang amat sangat besar seiring dengan kian tingginya kesadaran masyarakat terhadap praktik ekonomi nabawi yang adil dan menetramkan. Secara konklusif peluang itu kemudian tertuang dalam visi Bank Syariah Indonesia "Menjadi 10 Bank Syariah Terbesar di Dunia".


Sehingga, saya kira, hasil merger ini kelak bisa melakukan terobosan besar yang tidak saja mampu melakukan konversi bank konvensional BUMN menjadi bank syariah, melainkan juga dapat memantapkan eksistensinya dengan melakulan ekspansi secara global. Sesuatu yang sebetulnya sangat mungkin -bahkan- tak sukar dilakukan, namun, kita "belum mau" merealisasikannya.


Tentu saja harapan tersebut sangat rasional dan realistis mengingat potensi dan sumber daya kita, bahkan Presiden Jokowi sendiri memandang merger bank syariah BUMN layaknya membangunkan raksasa besar yang sedang tertidur.


Kita sejatinya mampu memainkan peran besar serta menjadi mercusuar prototipe model keuangan syariah bagi dunia dengan melihat Indonesia yang merupakan negara muslim terbesar dunia berdasarkan data PEW Templeton Global Religius Future Project. 


Jika ditarik agak ke belakang, berbicara religiusme Islam di negeri ini, bukan saja potensi sektor keuangan syariahnya yang dianggap sebagai "raksasa tertidur", bahkan sejak awal lahirnya bangsa ini memang lekat dengan nilai Islam, yang, tidak saja simbolik, tapi juga secara substantif telah diakomodir secara terbuka oleh negara. 


Rekam historikal itu yang kemudian menjadi penanda betapa muatan Islam telah termanifestasikan ke dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara. 


Dengan adanya saling ketersambungan sejarah serta keterhubungan budaya sebagai kultur dari bangsa Indonesia yang Islami dan majemuk ini, maka merger bank syariah perlu untuk terus dikawal dengan niatan tulus agar tuntunan Ilahi yang dikonstruksi dalam bentuk penyelenggaraan ekonomi Islam mampu memberi kontribusi dan pengaruh positif sehingga tujuan dari syariat agama Islam dapat dirasakan sebagai solusi dalam memajukan ekonomi rakyat.


Tak kalah penting dari itu, merger bank syariah ini secara fundamental harus didasari oleh semangat pelayanan (loyalty) dan pengabdian (dedication) kepada umat sebagai stakeholder utama yang sangat menentukan tumbuh kembang korporasi. Alhamdulillah, harapan tersebut sudah ditunjukkan dengan adanya komitmen PT Bank Syariah Indonesia Tbk untuk memajukkan UMKM yang menargetkan porsi pembiayaan mencapai 23 persen dari total pembiayaan pada Desember 2021. 


Dengan segala sumber daya dan potensi yang dimilikinya saat ini, BSI berpeluang menguasai pasar keuangan syariah nasional dan menjangkau pasar dunia. Namun satu hal yang juga tak boleh dilupakan adalah upaya kebermanfaatan. 


Sehingga dengan demikian, berbagai hal elementer tadi merupakan peluang sekaligus tantangan bagi segenap jajaran BSI, sebab, sekali lagi, hal utama dari adanya syariah (maqashid asy-syariah) adalah merealisasikan kemanfaatan untuk umat manusia (mashalih al-'ibad) baik urusan dunia maupun urusan akhirat.


Tujuan ini disepakati para ulama karena pada dasarnya tidak ada satupun ketentuan dalam syariah yang tidak bertujuan untuk menghadirkan kebaikan (mashlahah). Terlebih, syariah sangat mendorong untuk terciptanya maslahah dalam dimensi dunia dan akhirat. Sehingga dapat dikatakan bahwa substansi dari maqashid syariah adalah maslahah


Demarkasi itu sebagaimana Imam Asy-Syatibi memberikan rumusan mengenai maqashid syariah diantaranya, bahwa syariah bertujuan menjaga agama (hifdzun ad-diin) dan menjaga jiwa (hifdzun an-nafs). Hal inilah yang menjadi tanggung jawab besar dari setiap kegiatan yang mengatasnamakan syariah tak terkecuali bagi perbankan dengan label Islam.


Lebih dari itu, penggabungan bank syariah BUMN ini ejawantah nilai ajaran Islam untuk berpadu dalam rangka membuahkan kebaikan dan menyebarluaskan kemaslahatan yang lebih merata sebab agama ini merupakan rahmat bagi semua (kaffatan linnas rahmatan lil aalamiin). Semoga ikhtiar untuk menebar benih kebaikan, meraih kemuliaan, keberkahan, keridhaan, dan keselamatan dari Allah Azza Wajalla ini berkesinambungan. 


*)SUHARDI SUKIMAN, penulis adalah mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah periode 2016-2020 dan kini Ketua Dewan Pengawas Koperasi Pemuda Islam (KOPI)

×
Dari JempolKU Beramal+