Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pesantren Mahasiswa Dai, Ikhtiar Mengembangkan Dakwah Al Qur'an

Minggu, 20 Desember 2020 | 13:06 WIB Last Updated 2020-12-21T05:28:21Z

Suasana taklim Pesantren Mahasiswa Dai Ciputat (Donald Rajaguguk/ Nasional.news)

JARUM
jam menunjukkan pukul 02:20 dini hari. Tampak langkah kaki menuju titik saklar berada. Lampu di ruang tengah menyala. Sosok itu lantas menenteng gayung berisi perlengkapan. Handuk diselempangkan di bahunya. 


Tes..tess.. tes.., terdengar gemericik air mengalir. Tak lama kemudian, keluar perawakan lelaki dari kakus di rumah yang berlokasi di bilangan Pisangan, Ciputat, Tangerang, Provinsi Banten itu. 


Sosok tersebut, Apdhil (19 tahun), baru saja tuntas bersih bersih dan menyelesaikan wudhunya. Ia lantas bergegas ke mushalla yang berada di areal belakang komplek seluas 80 meter persegi itu.


Di mushalla, rupanya sudah ada jamaah lainnya. Masing masing tampak mendirikan shalat sunnah seraya menunggu jamaah lainnya hadir untuk selanjutnya mendirikan shalat tahajjud berjamaah. 


Hingga 30 menit menjelang masuk waktu shubuh, shalat tahajjud berjamaah itu ditutup witir 3 rakaat. Selepas itu, mereka melanjutkan hajat masing-masing. Diantaranya ada yang sahur puasa sunnah. Ada yang beristirahat dengan memejamkan mata sambil menanti azan shubuh berkumandang.


Itulah aktifitas rutin mengawali pagi di asrama Pesantren Mahasiswa Dai atau lebih familiar dengan nama Pesmadai. Pesmadai yang berlokasi tidak jauh dari berbagai kampus di Ciputat ini berdiri pada tahun 2010. 


Direktur Pesmadai, Ust Ahmad Muzakky, yang ditemui media ini di kantornya beberapa waktu lalu, menjelaskan, Pesmadai adalah pesantren mahasiswa kader dai yang menerapkan sistem kurikulum pendidikan karantina (student housing) selama 1 tahun dalam rangka menyiapkan lahirnya tenaga muballigh atau ustadz yang kelak mengabdi di masyarakat.


Sistem pendidikan student housing sendiri kini banyak diadopsi oleh perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri seperti telah diselenggarakan di sejumlah negara Eropa. Pasalnya, pola pendidikan yang intensive seperti ini dinilai lebih akseleratif melahirkan lulusan yang memiliki kapabilitas, mutu dan kualitas terbaik.   


"Pesmadai dengan format student housing ini sebenarnya satu corak tradisional yang sudah menjadi warna pesantren di Tanah Air. Selain itu, konsep ini memang sudah terbukti bahkan kini banyak diadopsi bahkan oleh pendidikan di Barat," kata Muzakky. 


Dia menyebutkan, Pesmadai sebagai wadah pembinaan generasi muda, diharapkan melahirkan peserta didik yang tinggi ilmunya, kokoh imannya, meluas amalnya, mulia akhlaknya, cinta negeri serta menjadi perekat ukhuwah. 


Namun, meskipun berasrama, ternyata mahasiswa yang berhasil lulus menjadi peserta program Pesmadai tidak dipungut biaya sepeser pun. Saat ini Pesmadai meluaskan kiprahnya dan sudah tersebar di berbagai daerah dengan 6 asrama yaitu di Jabodetabek, Semarang, Surabaya, Samarinda dan Bengkulu.


Muzakky hanya tertawa ketika ditanya apakah ia tertarik menerapkan pendidikan berasrama seperti yang dilakukan Institut Auf Dem Rosenberg di Swiss yang biaya pertahun untuk setiap peserta mencapai USD88.775 atau sekitar Rp. 1.255.930.996. 


"Nggak lah. Kita tidak berfikir ke sana. Pesmadai berbeda karena fokusnya adalah mencetak dai seperti namanya yang siap mengabdi kepada umat, menyebarkan risalah Islam ini dengan keteladanan dan cinta," kata Muzakky. 


Meskipun tak berbayar, Pesmadai tetap mengutamakan kualitas dan mutu penyelenggaraan program terutama pada kompetensi utama yang diharapkan dimiliki oleh semua outputnya yaitu hafalan Al Qur'an dan penguasaan bilingual, Arab dan Inggris.


"Kenapa Al Qur'an karena inilah pedoman hidup kita. Mukjizat akhir zaman yang begitu dahsyat muatannya. Siapa yang menyibuki Al Quran maka itulah sebaik-baik kesibukan," kata Muzakky.  


Muzakky menerangkan, Pesmadai yang concern pada pengembangan dan penguasaan Al Qur'an sejalan dengan visi tugas kenabian yakni mendakwahkan firman Allah SWT sebagai jalan kebahagiaan dan keselamatan. Tapi, karena saat ini sudah tidak ada lagi Nabi, maka, para dail-lah yang menjadi penerus pekerjaan mulia para Nabi. 


"Kehadiran Pesmadai tidak lepas dari visi dakwah menebarkan rahmat ke seluruh alam," tukasnya.  


Sebagai lembaga yang berada dibawah Yayasan Dai Muda Indonesia legal formal SK Kemenkumham No. AHU-0004236, Pesmadai memiliki peranan dalam memajukan pendidikan dalam rangka menegakkan amanah konsitutsi yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945. 


Namun, disadari bahwa mengharapkan peran pemerintah saja tidaklah cukup. Dibutuhkan kerja kolektif segenap elemen bangsa untuk ikut bergerak dalam dakwah pengabdian dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.


Dan, sebagai wujud komitmen dan kesungguhan melibatkan diri dalam program visioner bangsa ini, Pesmadai membuka program pendidikan mahasiswa dai yang dibina di sentra-sentra pendampingan guna mendorong kaum muda tak sekedar cakap secara intelektual, tetapi juga perhatian terhadap penguatan dakwah serta peduli pada kondisi bangsa dan negaranya.


"Pesmadai membuka pintu seluas-luasnya kepada segenap khayalak untuk terlibat dalam amal jariyah yang pahalanya terus mengalir dengan memajukan pendidikan, menguatkan gerakan memasyarakatkan Al Qur'an dan dakwah Islamiyah," ungkapnya.


Dia menambahkan, asrama yang menjadi sentra binaan umumnya masih merupakan lahan sewa atau pinjaman. Karena itu, pihaknya sangat menyambut apabila dari para muhsinin ada yang ingin berderma mewakafkan rumah atau tanahnya untuk dikelola menjadi fasilitas Pesmadai.


Ia pun mengajak pemerhati dan segenap kaum muslimin, tak terkecuali pemerintah dan pihak pihak terkait lainnya, untuk mendukung beragam program Pesmadai. Salah satu fokus program Pesmadai saat ini adalah wakaf pembebasan lahan untuk pembangunan asrama Pesmadai.


"Amal jariyah terbaik adalah infaq shadaqah sebagaimana ditegaskan Nabi dalam sabdanya dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim," kata Muzakky seraya menukil Al Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 261 tentang dahsyatnya amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggal dunia. 


"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui"

×
Dari JempolKU Beramal+