Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

dr Saifuddin Hamid, Pelayan Kesehatan Masyarakat Pedalaman itu Telah Pergi

Jumat, 08 Januari 2021 | 13:00 WIB Last Updated 2021-01-08T13:22:06Z

dr Saifuddin Hamid usai shalat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman saat menjadi dokter relawan di Aceh (Foto: Wahid Hanif/ Nasional.news) 

ABDUL MUIN kaget luar biasa. Ia dengan nada sedikit tertahan bahkan bertanya 2 kali untuk memastikan validitas informasi yang baru saja didapatkannya itu. "Kapan meninggalnya," katanya saat media ini menginformasikan meninggalnya dr Saifuddin Hamid.  


Muin menyampaikan duka sangat mendalam atas kepergian dokter yang selalu enerjik ini. "Innalillahi wa innaa ilaihi roji'un, turut berduka cita atas meninggalnya beliau," sambungnya. 


Masih segar betul dalam ingatan pengurus Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) ini tentang bagaimana gigihnya dokter Saifuddin dalam setiap aktifitasnya sebagai relawan.

Almarhum menapak, berjalan kaki berpuluh kilo, menyusuri sungai, tanjaki lembah dan saling bersenggol senggolan di atas mobil yang berguncang hebat di tengah medan jalan yang rusak demi menjumpai muallaf Suku Wana di balai desa Opo, Kecamatan Morowali Utara, Sulawesi Tengah.


Di usia yang tak lagi muda ditandai dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih, almarhum juga bergerak memberikan layanan kesehatan gratis kepada 100-an mualaf warga Suku Wana yang berada di Dusun Fatu Marando, Sabtu (25/11/2017).


"Tidak pernah beliau mengeluh akan beratnya medan yang dilalui. Beliau adalah sosok pelayan kesehatan masyarakat pedalaman khususnya para muallaf," kata Abdul Muin dalam obrolan dengan media ini beberapa waktu lalu. 


Muin juga mengaku tak bisa melupakan pengalaman kebersamaan dengan dr Saifuddin ketika mereka melakukan perjalanan menuju Dusun Tinambu yang ada di Sumatera Barat. "Waktu itu kami akan melaksanakan kegiatan ikrar syahadat Suku Mentawai sejumlah 68 jiwa," ungkap Muin. 


"Pak Dokter selalu mengajarkan kepada kami untuk tidak gampang berkeluh kesah. Karena usia kalian jauh lebih muda dari saya," kata Muin seraya menukil pesan dr Saifuddin yang selalu diingatnya. 


Saat menjumpai muallaf suku Ta Wana dalam sebuah program khitanan massal bersama IMS, Muin menceritakan girangnya dr Saifuddin dikarenakan selain bertemu langsung dengan Abah Rindu selaku kepala suku, ia juga sangat tertarik dengan suasana yang ada di Fatu Marando. 



"Beliau senang karena di pemukiman muallaf itu masjid sudah tersedia dan rumah tertata rapi. Saat itu beliau sempat berdoa semoga saudara-saudara muallaf kita di suku Ta Wana ini diberikan kesehatan dan kemakmuran," imbuh Muin yang kebetulan baru beberapa hari dari desa muallaf tersebut. 


Sebagai dokter yang terbilang mapan, dr Saifuddin bisa menikmati waktunya dengan berbagai kesenangan. Namun, baginya, kesenangan tidak semata terletak pada materi. Ia justru banyak menikmati harinya dengan berbagai aktifitas kemanusiaan dan keagamaan, bahkan hingga akhir hayatnya. 


Saban waktu, ia nyaris habiskan waktunya untuk mengurusi kesehatan orang lain. Ia masuk hingga ke pelosok, daerah pedalaman, kawasan terpencil dan menjumpai muallaf di perkampunga suku terasing. 


Saifuddin seolah tak mengenal lelah, di tengah sakit yang menderanya beberapa bulan terakhir ini, justru yang kerap ditanyakan bagaimana perkembangan dakwah dan pelayanan kesehatan ratusan muallaf pedalaman. Hingga kemudian, akhirnya ia dipanggil ke keharibaan Allah SWT.  


Saifuddin Hamid telah pergi. Dokter senior dan sosok pendiri dari lembaga kesehatan Islamic Medical Service (IMS) ini, wafat hari ini, sebelum ibadah shalat Jum'at, 24 Jumadil Awwal 1442 H, 8 Januari 2021.


Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi yang pernah cukup intens berinteraksi dengannya, mengatakan kepergian dokter Saifuddin yang mewariskan semangat pelayanan itu meninggalkan duka yang mendalam. 


Imam menarik hikmah seraya mengatakan, Islam selalu memberikan dorongan agar umatnya membaca dengan sebaik-baiknya, bahkan pada tingkat membaca dengan nama Rabb, "Iqra' Bismirabbik." 


"Menariknya, ruang itu selalu terbuka, bahkan dari orang-orang yang tak jauh dari kebiasaan dan kehidupan kita. Satu di antaranya kita bisa lakukan itu atas kepergian sosok pejuang kesehatan, dr. Saifuddin Hamid," kata Imam. 


Menurut Imam, sosok dr Saifuddin yang low profile, berdedikasi tinggi dan penuh pengabdian kepada umat layak menjadi teladan bagi generasi muda khususnya segenap kader Hidayatullah. 


"Pada akhirnya, generasi muda Hidayatullah, dalam hal ini adalah segenap kader dan pengurus serta anggota Pemuda Hidayatullah, harus mengambil spirit hidup beliau yang sederhana, namun penuh dedikasi dalam kehidupan umat," kata Imam. 


"Selamat jalan dokter kebanggaan umat yang tak pernah lelah berjuang menebar manfaat dan maslahat. Semoga kami yang di belakang dapat mengambil semangat dan keteladanan yang telah engkau torehkan dalam berbakti kepada umat. Semoga engkau dalam rida dan surga Allah Ta'ala," tambahnya.


Sementara itu, Direktur IMS Imran Faizin, mengungkapkan rasa duka yang sangat mendalam atas wafatnya dokter yang sekaligus sudah dianggapnya sebagai guru dan orangtua tersebut. 


Menurut Imran, sosok dr Saifuddin Hamid tak ubahnya manusia umumnya, termasuk dalam keseharian, memiliki hobi yang selalu dilakukan setiap ada kesempatan. Namun, hobi bukan sembarang hobi. 


"Setiap libur beliau selalu mengadakan bakti sosial. Jadi, tak mau beliau ada waktu senggang, melainkan memberi manfaat bagi sesama," kata Imran.


Berkat hobi itu, dr Saifuddin Hamid tak pernah mau ketinggalan dalam setiap aksi bakti sosial di pedalaman. Sebuah titik lokasi yang tak dekat tentunya dan butuh waktu dalam perjalanan.


"Kalau dalam perjalanan, kala malam dan lelah menerpa, beliau memilih tidur di masjid atau mushola, bahkan SPBU untuk istirahat daripada menginap di hotel. Ini bukan soal uang, ya, tapi memang itulah hobinya," imbuh Ustadz Imran.


Hobi kemanusiaannya memang sangat kental, pada 13 September 2017 bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berangkat ke Rohingya untuk memberikan bantuan kepada para pengungsi di sana, yang kondisinya amat memprihatinkan.



Legacy 


Hidup harus memberikan nilai warisan yang positif (legacy) tampaknya benar-benar dapat kita lihat dari sosok dokter senior ini.


"Beliau bersama IMS telah mengkhitan ribuan muallaf," kata Imran.


Lebih dari itu, upayanya untuk menjaga hubungan vertikal dengan Allah Ta'ala sangat intens beliau lakukan.


"Untuk urusan spiritual, beliau selalu umroh dalam beberapa bulan sekali. Tiap tahun juga mendampingi jamaah haji. Jadi padat aktivitas beliau serta sarat makna dan pengabdian kepada umat," sambungnya.


Kini sosok yang tinggal di Cipinang Cempedak Jakarta Timur itu telah tiada. Segenap keluarga besar IMS dan bahkan Hidayatullah berduka atas kepergian dokter yang gigih dan penuhl legacy ini.


Sekretaris Jenderal Pemuda Hidayatullah, Mazelis B. Mustafa menuturkan bahwa dr Saifuddin Hamid juga sangat peduli terhadap generasi muda.


"Selama hidup beliau, sempat beberapa kali mendukung dan bekerjasama membantu BEM STIE Hidayatullah Depok, tepatnya saat seluruh mahasiswa mengadakan kegiatan bakti sosial di Sukabumi," katanya.


Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Jakarta, Muhammad Isnaini mengatakan, "Masya Allah... cukup dekat dengan beliau, beliau sangat baik dan tulus dalam usaha keummatan bersama IMS, beliau dokter senior yang kaya legacy," ucapnya.


Tidak tertinggal, Direktur Baitul Wakaf, Rama Wijaya menyampaikan, "dr Syaifuddin, pejuang media dan kemanusiaan. Semoga khusnul khotimah dan Allah SWT menerima semua amal baiknya."


Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah, Ust Muhammad Syakir Syafii, mengutarakan kesaksian serupa tentang betapa giatnya almarhum turun langsung dalam melakukan aksi sosial di bidang kesehatan di berbagai medan bencana, salah satunya saat terjadi letusan Gunung Merapi.


"dr Saifuddin Hamid adalah sosok yang cukup lekat di mata kader-kader Jogja, karena beliau bersama IMS sangat sering bolak-balik melakukan aksi kemanusiaan di Jogja dan sekitarnya, khususnya dalam tanggap bencana musibah letusan Merapi," kata Syakir yang juga pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.


Tonton Video Ikrar Syahadat Suku Wana

×
Dari JempolKU Beramal+