Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Manajemen Risiko Dalam Efektivitas Kinerja Organisasi

Selasa, 05 Januari 2021 | 17:23 WIB Last Updated 2021-01-07T10:50:01Z

Ilustrasi tiga buah opsi yang bisa dipilih dalam mengurai sebuah risiko dan kemungkinan dampaknya (Foto: Bru-nO/ Pixabay)

MENGELOLA
organisasi atau perusahaan banyak sekali kemungkinan kemungkinan, ketidakpastian atau resiko yang muncul dalam rangka kita untuk mencapai tujuan atau sasaran yang sudah ditetepkan.


Maka dari itu perlu dilakukan pengelolaan sehinga dapat memberikan pemahaman terhadap kelemahan dan kesuksesan bagi suatu organisasi tersebut serta mampu meningkatkan kemungkinan kesuksesan dan mampu menurunkan kemungkinan kegagalan. 


Di dalam perusahaan mungkin sudah ada yang menjalankan sistem  manajemen baik sistem manajemen lingkungan, sistem manajemen anti korupsi, dan berbagai sistem manajemen lainnya. Nah semua sistem yang diterapkan ini semua berbasis kepada risiko.


Secara internasiol kita memiliki ISO 31000 di Indonesia sendiri melalu BSN kita udah mengadopsi menjadi SNI 8651 tahun 2018. Maka kita telah memiliki standard nasional acuan untuk menerapkan manajemen resiko. 


Ada 3 komponen besar  dari ISO 31000 atau SNI  8651 yang pertama yaitu prinsip manajemen risiko. prinsipnya yaitu memberikan panduan tentang karakteristik manajemen resiko yang efektif dan efesien. 


Kemudian, yang kedua, adalah kerangka kerja membantu integrasi manajemen risiko dalam aktivitas dan fungsi organisasi. 


Lalu, yang ketiga, ialah proses manajemen risiko adalah melibatkan penerapan sistematis mulai dari kebijakan, prosedur dan praktek praktek pada aktifitas resiko. 


Dengan kata lain bahwa adalah prinsip adalah pondasi mananejen risiko, kerangka kerja adalah satu kesatuan sistem manajemen risiko. Sedangkan proses adalah kegiatan nyata dalam pengelolaan risiko.


Prinsip manajemen risiko yang pertama yaitu terintegrasi, yaitu tidak berdiri sendiri tapi terintegrasi dengan sistem manajemen lainnya di dalam organisasi perusahaan. 


Yang kedua yaitu terstruktur dan komprehensif. Ketiga, disesuaikan dengan organisasi dan perusahaan. Keempat, sifatnya inklusif. Kelima, dinamis terhadap perubahan perubahan. Keenam, informasi terbaik yang tersedia. Ketujuh, faktor manusia dan budaya.


Dan, yang kedelapan, adalah perbaikan berkesinambungan. Nah hal 8 prinsip tersebutlah yang menyokong tujuan dari manajemen resiko yaitu penciptaan dan perlindungan nilai. 


Kemudian, yang kedua tadi, adalah kerangka kerja manajemen risiko adalah dasar siklus deming (PDCA) yang mengeliling kepemimpinan dan komenitmen serta ditambah integrasi diantara perbaikan dan design. Siklus diawali oleh kepemimpinan dan komitmen dari pimpinan pusat, pada direksi atau pemimpin perusahasaan.  


Kemudian, prinsip yang ketiga, yaitu proses manajemen risiko. Proses manajemen risiko ini adalah untuk implementasinya dari kerangka yang telah kita buat. 


Ada 6 proses yang terdiri dari 3 proses inti dan 3 proses support. Tiga proses inti ialah penetapan lingkup, penetapan konteks, dan penetapan kritera. Kedua, penilaian resiko, dan, yang ketiga, adalah pemberlakukan resiko.


Adapun prinsip ketiga adalah proses support yang mencakup komunikasi dan konsultasi. Lalu kedua pemantauan dan peninjauan. Dan ketiga ,pencatatan dan pelaporan. Nah, proses tersebut diawali dengan komunikasi konsultasi diantara pemangku kepentingan. Selanjutnya penetapan konteks kriteria yang diikuti dengan penilaian risiko dan pemberlakuaan risiko.


Selain itu ada juga ada beberapa manfaat untuk melakukan manajeman risiko pada suatu perusahaan atau organisasi. Yang pertama, yaitu sebagai bahan evalusi bagi perusahaan atau organisai yang kita miliki.


Evaluasi merupakan penilaian serta pengukuran efektifitas strategi yang telah digunakan dimasa lalu untuk mencapai tujuan perusahaan. 


Manfaat kedua adalah peningkatan produktivitas dan keuntungan yang merupakan suatu kegiatan produksi menjadi sebuah ukuran bagaimana baiknya sumber daya yang telah diatur oleh perusahaan atau organisasi untuk mencapai sebuah kerberhasialan yang optimal. 


Lalu manfaat yang ketiga yaitu untuk memudahkan estimasi biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pada suatu kegiatan atau pekerjaan, karena estimasi biaya sangatlah penting dalam sebuah perusahaan atau organisasi.


Untuk mengatasi resiko pada sebuah perusaan atau organisasi kita memerlukan sebuah strategi yang tertata dengan baik. Untuk itu, sebuah perusahaan dan organisasi harus mengetahui ilmu tetang manajemen risiko. 


Apabila kita dapat menghadapi risiko yang ada maka kita harus mempersiapkan dengan baik. Ada beberapa cara penangan masalah dengan baik dan tepat, yaitu, lakukan identifikasi risiko yang muncul apakah dari sisi finansial, pemasaram, produksi atau lain sebagainya. 


Mengidentifikasi risko dapat memberikan manfaat untuk mengenali kemungkinan yang ada atau risiko yang sedang terjadi. Lalu ranking berdasarkan kerugian setelah kita memiliki data, lakukan analisis dan urutkan berdasarkan dampak terburuk yang terjadi, fokuslah pada resiko yang paling besar akibatnya.


Setelah itu, lakukan controlling resiko. Dengan berbagai risiko ini tidak akan berarti jika kita tidak memiliki rencana aksi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki resiko yang telah terjadi. 


Yang terakhir yaitu monitoring dan review. Setalah kita berhasil mengidentifikasi risiko dan telah memilih strategi yang dapat diterapkan untuk setiap risiko, maka saatnya kita untuk selalu berhati hati akan segala isu atau masalah yang muncul pada perusahaan atau organisasi. 


Karena, harus diingat, sebuah masalah adalah gejala datangnya sebuah resiko atau bahkan krisis yang akan melanda pada perusahaan atau oranisasi kita. 


Pina Fauziah, Penulis adalah mahasiswa STEI SEBI Depok dan alumni SMA Al Aziz Bandung

×
Dari JempolKU Beramal+