Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Bidik Peluang Bisnis, Alumni STIE Hidayatullah Geluti Budidaya Maggot

Jumat, 26 Maret 2021 | 07:47 WIB Last Updated 2021-03-27T01:32:04Z

Muhammad Ledival (baju merah) dan Muslimin (coklat polos) berfoto bersama dengan owner Indolarva Prima Santos dan Kepala Bagian SDM dan Umum Yayasan Semen Padang Defni Riza (Foto: Istimewa/ Nasional.news)

MENTAWAI -
Didasari oleh semangat pengabdian masyarakat dan bekal wawasan ekonomi keumatan yang diterimanya sejak duduk di bangku kuliah, Muhammad Ledival dan Muslimin mantap menggeluti budidaya maggot. 


Di tempat tugasnya sebagai sarjana dai di Kepulauan Mentawai, keduanya aktif mendalami kegiatan budidaya belatung ini. Bahkan ia berkesempatan menimba ilmu langsung dari pakarnya yang sudah bertahun tahun berkecimpung di sektor tersebut. 


Mereka berkesempatan mengikuti pelatihan tentang pembuatan maggot sebagai pakan ternak di perusahaan pembuatan bahan pangan organik pada Jumat-Senin (19-22/3/2021).


Ia mengikuti pelatihan budidaya maggot larva black soldier bly (BSF) sebagai pakan ternak di perusahaan pembuatan bahan pangan organik asal Sumbar, yakni Indolarva. Pelatihan ini merupakan inisiasi dari Yayasan Semen Padang bekerjasama dengan Indolarva. 


"Ilmunya sangat bermanfaat sekali. Kami berjanji ilmu tersebut akan kami realisasikan saat di Mentawai nanti," tutur Ledival didampingi Muslimin. 


Ledival dan Muslimin yang juga alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) HIdayatullah Depok ini menyampaikan terimakasih atas kesempatan belajar tersebut dan berharap bisa dikembangkan untuk kebermanfaatan untuk khalayak luas.


"Sebagai orang yang pernah belajar ekonomi, kami melihat peluang budidaya maggot ini sangat potensial untuk menunjang kemandirian ekonomi masyarakat," kata Ledival. 


Dia mengatakan, diantara yang menjadikan budidaya maggot ini sebagai peluang bisnis dan menjadikannya sebagai "unit" baru adalah belum banyak dijamah dalam kegiatan terutama pada peternakan guna menunjang pakan ternak dan menekan biaya produksi. 


Selain itu, bukan saja sebagai pakan ayam, dengan berbagai kelebihannya, terang Ledival, budaya maggot juga berpeluang besar untuk dijadikan sebagai bahan baku alternatif pakan berprotein tinggi bagi pertumbuhan ikan.


Maggot yang merupakan larva lalat black soldier fly (BSF) diketahui memang terbilang istimewa dibandingkan bahan baku pakan alternatif lainnya karena mengandung nutrien yang lengkap untuk ikan dan kualitas yang baik. 


Selain itu, maggot bisa diproduksi dalam waktu singkat dan berkesinambungan dengan jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan.


"Semoga dengan bekal ilmu dari hasil pelatihan ini, kami bisa mengembangkan budidaya maggot ini untuk menjadi tujuan bursa kerja baru dan membangun kemandirian masyarakat," kata Muslimin menimpali. 


Sementara itu, Kepala Bagian SDM dan Umum Yayasan Semen Padang Defni Riza mengungkapkan, pelatihan tersebut merupakan sebagai bentuk pendalaman ilmu yang akan digunakan oleh warga yang nantinya dalam mengembangkan bisnis ayam petelur di Mentawai. 


Sebelumnya, mereka telah belajar selama dua minggu tentang bagaimana perkembangbiakan ayam petelur di Ganefa Farm. Kemudian baru dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai proses pembuatan Maggot BFS yang nantinya akan digunakan sebagai pakan ayam petelur yang diternakan.


"Ini merupakan proses dan lanjutan dari salah satu program sosial Yayasan Semen Padang yakni pengembangan bisnis ayam petelur bagi warga Mentawai yang tinggal di Pesantren Hidayatullah. Penyiapan bekal-bekal ilmu tersebut diharapkan dapat mereka implementasikan saat telah kembali ke Mentawai lagi," ujar Defni.


Pada pelatihan pembuatan maggot BFS tersebut, dua warga Mentawai itu juga langsung diajarkan oleh pakarnya yaitu owner dari Indolarva, yakni Prima Santos. 


Ia menunjukan tentang bagaimana proses membuat maggot skala rumahan seperti cara terbentuknya maggot dari headcherry hingga indukan, serta cara pengelolaan limbah rumah tangga untuk membantu perkembangbiakan maggot tersebut.


Menurut Defni, dua orang yang dipilih untuk mendapatkan bekal ilmu tentang pengelolaan bisnis ayam petelur tersebut cepat mengerti materi-materi yang diajarkan. Sehingga ia berharap berbagai ilmu yang didapatkannya, terutama setelah dari Indolarva dapat membantu mereka nantinya.


Sementara itu, owner dari perusahaan pakan ternak organik Indolarva yang terletak di 50 Kota itu, Prima Santos menyampaikan, suatu kebanggaan juga baginya dapat berbagi ilmu yang dimilikinya kepada dua warga Mentawai mengenai pembudidayaan maggot BFS. 


Ia menceritakan, Indolarva sebenarnya belum begitu lama berdiri. Bisnisnya tersebut dimulai dari banyaknya limbah rumah tangga yang belum terkelola secara maksimal dan menghasilkan nilai ekonomis.


Melihat hal tersebut, ia dan timnya memanfaatkan kesempatan itu dengan menjadikan sampah organik sebagai awal mula dari pembuatan maggot BFS dan menggunakan larva yang penuh protein dan gizi tersebut sebagai alternatif dari pelet untuk pakan ternak seperti unggas dan lele. 


Prima yang merupakan seorang mantan karyawan salah satu BUMN ini mengungkapkan, perkembangbiakan maggot dapat menjadi pakan unggas yang lebih hemat dan sehat bagi unggas karena proses terbentuknya yang alami.


"Kami sangat menyambut baik kedatangan dari Yayasan Semen Padang untuk berbagi ilmu tentang budidaya maggot BFS. Semoga ilmu yang kami bagikan dapat bermanfaat nantinya bagi warga pesantren Hidayatullah Mentawai," jelas Prima. 


Ia berharap, semoga kedepannya ilmu yang didapat di Indolarva dapat bermanfaat dan tidak hanya menjadi pembicaraan saja, namun dapat terealisasi untuk dua warga Mentawai tersebut.


Prima akan tetap menjalin komunikasi dengan mereka untuk mengetahui bagaimana perkembangan dari budidaya maggot disana sebagai pakan dari bisnis ayam petelur yang akan dikembangkan.


"Kami juga siap untuk ditanya jika ada hal yang perlu untuk diketahui atau ada kendala yang dihadapi disana," kata Prima.

×
Dari JempolKU Beramal+