Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Berpulangnya Ust Abdul Mannan dan Saudara yang Datang dari "Langit"

Selasa, 20 April 2021 | 23:42 WIB Last Updated 2021-04-21T07:37:37Z


DEPOK - Bak petir di siang bolong. Demikianlah yang dirasakan warga Hidayatullah ketika mendapat info meninggalnya salah satu kader terbaiknya, Ust Dr H Abdul Mannan. Tak ada yang menduga, bahkan sempat nyaris tidak percaya, mantan Ketua DPP Hidayatullah 2 periode ini pergi begitu cepat. 


Dr Abdul Mannan meninggal dunia pada hari Selasa sore, 8 Ramadhan 1442/ 20 April 2021 sekitar pukul 17:00 WIB di RS Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat. 


Wafatnya perintis Pondok Pesantren Hidayatullah Depok ini menyisakan duka mendalam tidak saja bagi keluarga, kerabat, dan anak-anaknya, melainkan juga bagi murid-murid serta orang orang yang pernah mengenalnya.


Kolega almarhum di Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Ust Hamim Thohari, menyampaikan rasa haru nan getir atas kepergian lelaki kelahiran Gresik, Jawa Timur tersebut. 


"Saya saksi kebaikan beliau, yang menyaksikan dari jarak sangat dekat beliau orang ikhlas. Beliau seorang pejuang dan mujahid yang telah menuntaskan perjalanannya," kata Ust Hamim dalam sambutannya mewakili warga Hidayatullah usai proses shalat jenazah. 


Ust Hamim menambahkan, "dari jarak sangat dekat" ia pula menyaksikan bahwa almarhum Ust Abdul Mannan orang yang hatinya sungguh lembut.


"Terkadang kita melihat beliau keras, namun beliau adalah orang yang banyak menangis. Itu menunjukkan kelembutan hatinya," kata Hamim terdengar sedikit terisak. 


Bersahabat


Almarhum adalah sosok pendidik dan dai yang telah malang melintang meniti perjalanan dakwah hingga ajal menjemput. Ia termasuk kader senior yang turut membersamai perjalanan panjang Hidayatullah hingga di pemberhentian terakhirnya tepat pada 8 Ramadhan ini. 


Tidak saja bagi mahasiswanya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah yang telah banyak tersebar mengabdi di berbagai penjuru negeri, didikan dan dedikasinya juga melekat di benak orang orang terdekatnya. 


Demikian itu misalnya dirasakan oleh H. Andi Imam Loebis, anak dari pasangan mendiang H. Tahir Karim Loebis dan Hj. Orny Loebis, yang juga ahli waris daripada komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta. 


Pada sambutannya dalam acara tasyakuran penggunaan perdana Masjid Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jalan Cipinang Cempedak I/14 Otista Polonia, Jakarta, Jum’at (3/5/2019), H. Andi Imam Loebis menyebut Abdul Mannan sebagai sahabatnya yang datang dari "langit".


"Dalam perjalanan hidup saya, tahun 1987, saya, Alhamdulillah, naik haji dan ketemu dengan seorang yang menjadi sahabat hidup saya. Beliau ini banyak membimbing saya. Tidak lain, dia adalah saudara saya, Abdul Mannan, yang datang dari 'langit' dalam kehidupan saya," katanya, ketika itu, seperti dikutip Nasional.news dari channel Youtube Hidayatullah ID


Dengan mata sembab berkaca kaca serta suara yang sedikit tertahan, Andi Imam Loebis menyebut persahabatannya dengan Ust Abdul Mannan sudah selayaknya saudara. 


"Saya bersyukur kepada Allah bahwa kami dapat bersahabat dan bersaudara. Persaudaraan ini melebar menjadi apa ada seperti sekarang," katanya. 


Pertemuan di Makkah itu pernah pula diutarakan almarhum Ust Dr Abdul Mannan dalam satu kesempatan ketika acara peresmian peletakan batu pertama peresmian pembangunan Masjid Baitul Karim dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah. 


Dalam pertemuan itu mereka berdiskusi tentang bagaimana dakwah di Jakarta dan sebagainya.


“Panjang lebar, akhirnya saya sampakan keperluan dan kebutuhan kalau kami akan membuka (Hidayatullah) di Jakarta,” kata guru kelahiran 12 Agustus 1955 ini.


Singkat cerita, Abdul Mannan kembali ke Tanah Air. Pertemuan kala di Makkah itu ditindaklanjuti. Abdul Mannan bersilaturrahin ke kantor Java Motor di Kramat yang merupakan usaha mendiang H Tahir Karim Loebis.


Dari silaturrahim yang terjalin dengan keluarga H Tahir Karim Loebis, Alhamdulillah akhirnya diberikanlah tempat lokasi Cipinang Cempedak I/14 untuk ditinggali yang kala itu masih menjadi gudang mobil Land Rover.


"Hidayatullah, jagalah aset ini. Kembangkan aset ini, hasilnya untuk kita selama-lamanya," pesan Andi Imam Loebis selaku perwakilan keluarga pewaris saat peresmian penggunaan perdana masjid tersebut. 


Pembelajar


Di tengah keadaan sulit serta tantangan belantara dakwah tak ringan yang dihadapinya, Dr Abdul Mannan tetap gigih menuntut ilmu. Ia menempuh studi sarjana strata satunya pada jurusan ekonomi di usia yang tak muda lagi. 


Barangkali karena saking seniornya diantara yang lain, ia kerap dikira dosen oleh kawan kawan mahasiswa seangkatannya. Ia tetap tekun. Hingga kelak ia berhasil meraih gelar doktoral bidang ekonomi dalam Sidang Senat Universitas Borobudur Jakarta pada 22 Juli 2004. 


Menyadari pentingnya belajar dan kebutuhan ilmuan bagi gerakan Hidayatullah di masa mendatang, almarhum pun kerap mendorong kader-kader Hidayatullah untuk menempuh studi tanpa henti. 


"Saya doktor pertama di Hidayatullah," demikian kata yang sering ia sampaikan untuk memantik semangat kader dan anak-anak didiknya untuk senantiasa belajar, bahkan, jika bisa, melampaui dirinya.  


Tak pelak, anak anak didiknya pun merasakan amat kehilangan dan duka yang mendalam. Seperti diutarakan Syaiful Anwar, alumni angkatan pertama STIE Hidayatullah yang pernah dikirim dakwah ke Banjarmasin, lalu bertugas ke Kudus dan sekarang di Jakarta. 


"Semoga orangtua kita ditakdir syahid, meninggal husnul khatimah," kata Syaiful yang turut menjemput jenazah almarhum.


Demikian pula yang dirasakan Abdul Aziz, branch manager BMH Kepulaun Riau, yang mengaku terkesan oleh pola pengkaderan dan pembinaan almarhum. Menurutnya, almarhum Dr Abdul Mannan adalah sosok pejuang yang ikhlas dan sangat totalitas memikirkan kemajuan umat. 


"Sejak muda selalu memikirkan umat. Bagi saya, beliau seorang tokoh yang menginspirasi utamanya dalam mendorong kader untuk terus semangat menuntut ilmu," kata Aziz.


"Terakhir saya ketemu di Rakernas tahun lalu, beliau bertanya lagi kapan lanjut S2. Itu salah satu potret betapa cintanya beliau kepada kader-kadernya agar memiliki kualitas intelektual dan spiritual," lanjutnya. 


Hingga akhir hayatnya, almarhum telah melahirkan sejumlah karya buku diantaranya; Rekayasa Organisasi (1998), Pesantren Hidayatullah Kini dan Esok (1999), Membangun Islam Kaffah (2000), Strategi Pemenangan Dakwah (2005) Era Peradaban Baru (2016) serta sempat menulis buku Grand Design Hidayatullah 2021-2121 dan berbagai koleksi tulisan pribadi lainnya yang belum dipublikasikan. 


Semoga Allah ampuni seluruh dosa beliau, Allah terima seluruh ibadah dan amal sholihnya, dan Allah kumpulkan beliau bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin. Kepada seluruh keluarganya, semoga Allah limpahkan keikhlasan dan kesabaran sempurna menerima ketetapan Allah.

×
Dari JempolKU Beramal+